Faperta Unikarta akan Jadikan Ponoragan sebagai Desa Binaan

Kukar, beritaalternatif.com – Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong Sundari menyambut baik kerja sama di bidang pertanian dan perikanan dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Ponoragan.

“Sehingga peran kami sebagai akademisi terkait pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi akan bisa lebih fokus ke desa,” kata Sundari setelah melakukan pertemuan dengan Pemdes Ponoragan, Rektor Unikarta, dan Ketua IKA Faperta Unikarta pada Kamis (17/2/2022) siang.

Ia mengungkapkan, meskipun Faperta tidak secara khusus memiliki bidang perikanan, namun pihaknya memiliki beberapa orang dosen yang menangani sektor tersebut.

Peran Faperta, sambung dia, bisa diarahkan sebagai fasilitator di sektor perikanan. Sementara di bidang pertanian di Ponoragan, pihaknya bisa mengeksekusinya secara langsung. Pasalnya, hal itu merupakan bidang keilmuan yang digeluti Faperta Unikarta.

“Karena terkait dengan pertanian, terkait dengan budi daya tanaman secara holtikultura maupun pangan, itu kami bisa masuk,” katanya.

Dia mencontohkan pembuatan kompos. Hal ini tak hanya bisa disampaikan secara teoritis kepada para petani di Ponoragan, tetapi juga praktek pembuatannya.

“Sehingga nanti ketika diberikan, ada demplot atau ada projeknya bagaimana nanti pupuk kompos yang dianjurkan dan yang terbaiknya bisa diaplikasikan ke lahan pertanian,” jelasnya.

Sundari juga mengaku akan mendorong mahasiswa melalui Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) untuk berperan aktif di desa binaan Faperta Unikarta. Mereka juga akan didorong untuk menyelenggarakan kegiatan di Ponoragan serta desa-desa lainnya di Kukar.

“Tanggal 20 besok kita ada kegiatan di Jembayan Tengah. Sekaligus menyambut tamu dari Politani. Jadi, adek-adek mahasiswa harapannya bisa berkolaborasi dengan universitas yang lain untuk membantu di desa binaan itu,” bebernya.

Sejauh ini, Faperta telah memiliki sejumlah desa binaan, antara lain Desa Sungai Payang dan Jembayan Tengah. Di dua desa tersebut, pihaknya mendorong mahasiswa mengadakan kegiatan dan riset.

“Kalau Desa Sungai Payang melalui kelembagaan BKPP ini sudah berjalan tekait rumah kompos dan kampong kelor. Kalau di Jembayan Tengah hari ini kita konsen terkait dengan pembuatan komsposnya, terkait petani, terkait bagaimana petani karet, bagaimana olahannya sampai dengan wisatanya,” ungkap dia.

Ia melanjutkan, Faperta Unikarta akan membangun kolaborasi dengan Poli Teknik Negeri Samarinda (Polnes) untuk membangun pariwisata di Jembayan Tengah.

Pihaknya akan mengadakan kegiatan-kegiatan untuk mengembangkan pariwisata di desa tersebut. Aktivitas pertanian di Jembayan Tengah juga akan didorong sebagai obyek wisata.

“Jadi, tidak terbatasi objek, tapi aktivitas warga di sana yang menjadi wisata. Contohnya orang yang menanam singkong. Jadi, wisatanya di sana itu mencabut singkong sambil mengenalkan singkong di Jembayan Tengah,” terangnya.

Di desa tersebut terdapat singkong selingkung, yang berasal dari perkawinan antara singkong gajah dan karet. Jenis singkong baru ini, menurutnya, bisa dijadikan sumber pembelajaran yang memiliki nilai jual di sektor pariwisata.

Kata Sundari, tahun lalu telah diadakan kegiatan di desa tersebut dengan memanfaatkan Corporate Social Responsibility (CSR) Hotel Mercure.

“Itu sudah kita coba Faperta mengambil perannya. Teman-teman Polnes seperti apa. Itu yang kita coba garap bersama,” jelasnya.

Kerja sama antara Faperta dan Polnes, sambung dia, akan terus berlanjut, khususnya pengembangan pariwisata dan pertanian Jembayan Tengah.

Selain mendorong peningkatan produksi di sektor pertanian Jembayan Tengah, pihaknya juga akan memaksimalkan peran para ibu rumah tangga untuk menggali sumber pendapatan baru di sektor pariwisata.

“Wisata ini teman-teman Polnes secara akademisi mereka punya. Nah, inilah yang kita kolaborasikan dengan Polnes untuk bisa sama-sama mengembangkan desa,” tutup Sundari. (*)

Penulis: M. As’ari

Marwan Dukung Penuh Kerja Sama Faperta dengan Pemdes Ponoragan di Bidang Pertanian dan Perikanan

Kukar, beritaalternatif.com – Ketua Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian (IKA Faperta) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Marwan turut hadir dalam pertemuan antara Pemerintah Desa (Pemdes) Ponoragan, Rektor Unikarta, dan Dekan Faperta Unikarta pada Kamis (17/2/2022) pagi.

Permintaan kerja sama pengembangan pertanian dan perikanan oleh Pemdes Ponoragan tersebut disambut baik oleh Rektor Unikarta, Ince Raden.

Sebagai Ketua IKA Faperta, Marwan mengungkapkan, selain kerja sama di sektor pertanian dan perikanan, hal lain yang juga diperhatikan adalah edukasi.

Marwan menyebutkan, masyarakat mempunyai sesuatu, tapi sulit untuk dikembangkan. Karenanya, ia berharap Faperta bisa memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat agar potensi desa bisa dikembangkan sehingga menjadi warisan bagi masa depan desa.

Secara khusus, kata Marwan, IKA Faperta bisa memfasilitasi berbagai pihak untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Kemudian pihaknya juga akan mendukung kerja sama Faperta dan Ponoragan saling menguntungkan satu sama lain.

“Masyarakat dapat keuntungan dari hasil kerja sama dengan Fakultas. Fakultas juga paling tidak menunjukkan eksistensinya,” sambung dia.

Marwan berharap agar pertanian tidak dihentikan. Faperta juga tidak boleh tutup. Karena, kata dia, urat nadi kehidupan masyarakat ada pada pertanian.

“Karenanya sebagai IKA, kami akan memberikan suatu fokus perhatian untuk membantu memfasilitasi di antara kedua belah pihak ini,” tuturnya.

Kecamatan Loa Kulu pada umumnya ditetapkan sebagai wilayah minapolitan, yaitu pertanian yang digabungkan dengan perikanan. Secara pribadi dan pengurus IKA, Marwan sangat mendukungnya. Sebab hal tersebut adalah sesuatu yang baru di Kalimantan Timur (Kaltim).

Dia membayangkan, bila minapolitan berhasil, maka para petani bisa mendapatkan efek ganda. Sebab, wilayah tersebut menjadi tempat wisata dan pelaku ekonomi juga tumbuh di sekitarnya.

“Jadi, kalau orang ke Ponoragan tidak hanya bertemu minapolitan, tetapi juga membawa pulang oleh-oleh dari hasil petani seperti beras dan ikan olahan,” ucapnya.

Secara internal, Marwan mengakui alumni pertanian belum bisa berbuat lebih untuk masyarakat. Dia pun akan mulai menghimpun para alumni dalam rangka mengembangkan pertanian di Kukar.

Meski tidak terakomodir, pihaknya akan mencoba membangun lagi komunikasi. Sebab hal itu bagian dari tugas pengurus IKA.

Marwan juga akan menggalakkan seluruh potensi alumni untuk mengembangkan pertanian dalam membantu Pemda dan Faperta.

“Ayo kita berpikir apa yang harus kita lakukan untuk fakultas dan daerah,” ajak Marwan. (*)

Penulis: Arif Rahmansyah

Rektor Unikarta: Faperta akan Jadikan Ponoragan sebagai Desa Binaan

Kukar, beritaalternatif.com – Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Ince Raden yang didampingi oleh Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Unikarta, Sundari, dan Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Faperta Unikarta, Marwan, menerima kunjungan dari Pemerintah Desa (Pemdes) Ponoragan, Kamis (17/2/2022) pagi.

Pertemuan tersebut dalam rangka Penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) untuk pengembangan di sektor pertanian dan perikanan di Ponoragan.

Rektor Unikarta, Ince Raden menyebutkan, permintaan kerja sama oleh Pemdes Ponoragan tersebut kemudian dilimpahkannya ke Faperta karena berkaitan langsung dengan ilmu yang digeluti para akademisi di fakultas tersebut.

“Nanti kita akan coba mengidentifikasi dan membantu dari aspek keilmuannya oleh dosen yang background-nya perikanan,” sebut Ince.

Kemudian secara internal, Ince menyebutkan, pihaknya akan membantu mengomunikasikan dengan pihak terkait. Unikarta juga akan menjadikan Ponoragan sebagai desa binaan Faperta.

Hal tersebut dilakukan agar bisa mengolaborasikan pemuda milenial yang bergelut di bidang budi daya ikan dengan mahasiswa Jurusan Agribisnis yang menyusun skripsi berkaitan dengan pembudidayaan.

Dalam hal pengembangan, sebagai desa dengan potensi sumber daya yang besar, Ince bersepakat untuk mendorong Ponoragan menjadi pusat edukasi terkait pembenihan ikan.

“Di sana juga sudah punya brand benih. Kenapa tidak dilatih supaya memiliki kemampuan menangkar benih sehingga masyarakat makin paham dalam menghasilkan induk dan benih yang baik,” ujar Ince.

Dia juga menawarkan kelompok milenial terkait pembudidaya ikan air tawar agar dilatih sehingga menjadi penggerak di sektor ekonomi. Hal tersebut dilakukan supaya regenerasinya tidak terputus di desa penghasil ikan terbesar di Kukar tersebut.

“Itu yang kita tawarkan dengan Kades,” sebutnya.

Ince melanjutkan, dengan potensi yang ada, sudah seharusnya masyarakat bisa mandiri, seperti pengolahan pakan dan pupuk organik. Karenanya, ia menyarankan agar Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) bisa digunakan untuk membeli mesin. Hal ini dilakukan agar bisa membantu masyarakat dalam menyediakan pakan organik.

“Sehingga bisa dikembangkan pertanian terpadu dari sektor pertanian dan perikanan,” tutur Ince. Kata dia, sektor peternakan juga bisa terintegrasi dengan pertanian dan perikanan.

Dalam waktu dekat Unikarta akan membuka pendaftaran mahasiswa baru. Ince pun berharap kepada Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, dan seluruh kepala desa di Kukar agar menguliahkan warga mereka di Unikarta.

“Apalagi ada beasiswa dari desa. Itu harapan saya. Kita bayangkan kalau setiap desa mengirim masyarakatnya, kan kembali ke desa juga,” pungkasnya. (*)

Penulis: Arif Rahmansyah

Kades Ponoragan Bangun Kerja Sama di Bidang Pertanian dan Perikanan dengan Faperta Unikarta

Kukar, beritaalternatif.com – Kepala Desa Ponoragan Sarmin berencana membangun kerja sama di bidang pertanian dan perikanan dengan Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara (Faperta Unikarta) Tenggarong.

Faperta Unikarta diyakininya mempunya banyak tenaga ahli yang bisa membantu para petani Ponoragan dalam meningkatkan produktivitas di sektor perikanan dan pertanian.

“Mungkin kampus ini juga banyak tenaga ahli yang sesuai dengan keinginan masyarakat saya untuk pengembangan daripada komoditas di bidang perikanan dan pertanian,” jelasnya setelah melakukan pertemuan dengan Dekan Faperta dan Rektor Unikarta pada Kamis (17/2/2022).

Selama ini, sambung dia, pihaknya belum pernah membangun kerja sama dengan pihak kampus, khususnya Unikarta, dalam bidang pertanian dan perikanan.

Ia pun berharap kerja sama perdana ini dapat meningkatkan produksi di bidang pertanian dan perikanan sehingga para petani Ponoragan lebih sejahtera dibandingkan saat ini.

Sarmin menyebutkan bahwa para pembudidaya ikan di Ponoragan memiliki sejumlah masalah, salah satunya mereka belum mempunyai induk yang berkualitas dan bersertifikat.

Sementara di bidang pertanian, lanjut dia, sawah para petani kerap diserang hama. Sumber penyakit di bidang pertanian tersebut belum dapat ditanggulangi oleh para petani di Ponoragan.

Karena itu, kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi para petani dan pembudidaya ikan di desa tersebut.

Dia melanjutkan, pengembangan sektor perikanan di Ponoragan juga membutuhkan campur tangan dan bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar.

Dengan begitu, kerja sama lintas sektor dapat membawa dampak besar bagi kemajuan Ponoragan. Harapannya, sektor pertanian dan perikanan bisa berjalan secara bersamaan.

“Paling tidak nanti kan ada program bina padi. Jadi, ikannya jalan dan pangannya juga jalan,” ungkapnya.

Selain kerja sama di dua bidang tersebut, Sarmin juga akan mendorong lulusan SMA/sederajat di Ponoragan untuk melanjutkan pendidikan di Unikarta Tenggarong sehingga kualitas SDM di desa tersebut bisa terus berkembang.

Dia menjelaskan, Unikarta adalah kampus ternama di Kukar yang memiliki beragam program studi yang sejalan dengan kebutuhan pengembangan SDM di Ponoragan.

Sarmin menyebutkan bahwa Unikarta juga mempunyai program beasiswa yang bisa membantu lulusan SMA atau SMK di Ponoragan untuk bisa dimantapkan saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Harapannya saya, pemuda yang lulus SLTA bisa kuliah di daerah sendiri, tanpa harus meninggalkan tempat sendiri,” harapnya.

Ia berharap para pemuda yang telah lulus dari Unikarta tak berpikir untuk mencari kerja, tetapi membangun dan mengembangkan usaha di Ponoragan atau di Kukar.

Dia menegaskan bahwa para pemuda harus mengubah cara pandang mereka. Mereka didorong Sarmin agar tak lagi menjadi calon pencari kerja setelah lulus dari kampus.

Tapi membangun dan mengembangkan usaha di bidang pertanian dan perikanan. Tujuannya, membuka lapangan kerja baru demi kesejahteraan masyarakat Ponoragan.

“Ketika lulus, kita harus menciptakan lapangan pekerjaan. Minimal untuk diri kita sendiri. Syukur-syukur teman kita dan tetangga kita bisa kita rekrut. Harapannya seperti itu,” tutupnya. (*)

Penulis: M. As’ari

Bedah Problem, Solusi dan Program Kukar Idaman di Sektor Perikanan

Kukar, beritaalternatif.com – Berdasarkan rencana strategis daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKPK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) membagi wilayah pengembangan sektor perikanan menjadi tiga: pesisir, hulu, dan tengah.

Kepala DKP Kukar, Muslik mengungkapkan, produksi ikan di kabupaten ini dilakukan dengan cara penangkapan dan budi daya. Dua cara ini salah satunya dijalankan di wilayah pesisir, yang meliputi penangkapan dan budi daya udang, rumput laut, kepiting, dan bandeng.

Sementara di wilayah tengah, pihaknya sedang mendorong pengembangan dan budi daya ikan-ikan mas, nila, lele, dan patin. Sedangkan di hulu, para pembudidaya ikan didorong untuk mengembangkan ikan gabus, jelawat, dan patin.

“Kalau konsentrasi kita untuk ikan tangkap, juga ada di pesisir laut dengan di perairan umum,” ungkap Muslik kepada beritaalternatif.com saat ditemui di Kantor DKP Kukar, Senin (14/2/2022) pagi.

Ia menjelaskan, Kukar memiliki sekitar 18 ribu orang nelayan. Mereka menangkap ikan di perairan umum seperti di Kecamatan Kota Bangun, Muara Wis, Muara Muntai, Muara Kaman, dan Kenohan. Sejumlah kecamatan tersebut merupakan sentra-sentra nelayan Kukar.

Ada pula perkampungan nelayan dan desa-desa nelayan seperti di Desa Pela dan Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun; Semayang dan Tubuhan, Kecamatan Kenohan; Melintang, Kecamatan Muara Wis; Jantur, Kecamatan Muara Muntai.

“Ini adalah desa-desa yang mayoritas penduduknya nelayan. Cukup banyak di situ. Kurang lebih 9.000-an nelayan,” bebernya.

Kemudian di pesisir, terdapat enam kecamatan yang menjadi sentra perikanan, antara lain Kecamatan Marang Kayu, Muara Badak, Anggana, Sangasanga, Muara Jawa, dan Samboja.

Di sentra-sentra perikanan tersebut, khususnya di Muara Jawa dan Samboja, DKP Kukar akan membangun Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan fasilitas pendukung lainnya.

Usaha Meningkatkan Produksi Ikan

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kutai Kartanegara, Muslik. (Dok. Berita Alternatif)

Muslik mengungkapkan, secara umum, beberapa tahun terakhir produksi ikan di Kukar meningkat. Namun, ia mengakui bahwa produksi ikan tangkap tak mengalami kenaikan berarti (signifikan).

“Enggak terlalu signifikan untuk penangkapan. Makanya saat ini mencoba bagaimana memfasilitasi nelayan-nelayan kita itu agar bisa melaut di atas 4 mil,” jelasnya.

Sebelumnya, 0-4 mil di perairan laut merupakan kewenangan kabupaten/kota. Saat ini, areal 0-12 mil menjadi kewenangan provinsi. Meski begitu, pihaknya akan tetap melakukan pembinaan terhadap nelayan-nelayan di Kukar.

Di areal 4 mil, dia mengakui bahwa para nelayan kerap mengalami kejenuhan karena di areal tersebut terdapat banyak aktivitas. Karenanya, ia berharap armada-armada nelayan bisa melaut ke laut lepas.

DKP Kukar akan membantu fasilitas untuk para nelayan agar mereka bisa melaut di laut lepas. Bantuan untuk para nelayan dan pembudidaya ikan akan menyasar 25 ribu orang. Ini merupakan program Bupati Kukar, Edi Damansyah, yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kukar 2020-2025. “Ini dalam rangka untuk peningkatan produksi dan akses pemasaran,” katanya.

Selain mendorong intensitas penangkapan ikan, DKP Kukar juga tengah meningkatkan produksi ikan lewat budi daya. Ia pun cenderung menilai pembudidayaan ikan merupakan cara yang tepat untuk mengontrol pasar.

Budi daya, sambung dia, tak bergantung musim karena dapat dikontrol sendiri oleh para pembudidaya. Hal ini berkaitan dengan suplai ikan di pasar. Sebab, hukum pasar juga berlaku terhadap penjualan ikan. Apabila terjadi kelebihan pasokan (over supply), maka harga ikan akan turun drastis.

“Itu hukum pasar. Makanya, ketika melakukan budi daya, bisa kita kendalikan. Harapannya seperti itu. Makanya budi daya ini kita dorong,” ujarnya.

Budi daya ikan di Kukar, lanjut Muslik, dilakukan di bantaran Sungai Mahakam, terutama di Kecamatan Loa Kulu. Kini, kecamatan tersebut menjadi sentra perikanan di Kukar.

Penggunaan bantaran Sungai Mahakam untuk pengembangan ikan air tawar, kata dia, telah disesuaikan dan dimasukkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kukar. Karena itu, pemanfaatannya diperbolehkan untuk pengembangan ikan.

Para petani pun diperkenankan untuk mengembangkan ikan di badan sungai. Hanya saja, hal ini belum diatur oleh Pemkab Kukar. Ia pun mendorong Dinas Perhubungan (Dishub) Kukar untuk mengaturnya. “(Tapi yang pasti) kita sudah sinkronkan dengan RTRW,” ungkapnya.

Ia mengaku telah melakukan berbagai pembinaan dan pengembangan terhadap para pembudidaya ikan di sepanjang sungai tersebut. Jauh sebelum itu, pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap para pembudidaya ikan di keramba yang memanfaatkan bantaran sungai tersebut.

Selain di Loa Kulu, budi daya ikan di keramba juga dilakukan di Kecamatan Loa Janan. Di dua kecamatan tersebut akan didorong untuk membentuk kampung yang khusus mengembangkan salah satu ikan air tawar seperti nila, patin, lele, dan mas.

Sebagian besar ikan yang dikonsumsi di Kukar saat ini, jelas Muslik, berasal dari usaha budi daya dan pengembangan ikan di sepanjang Sungai Mahakam. Sementara pembenihannya dilakukan di lahan-lahan persawahan. “Itu untuk pemenuhan benihnya,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, penggunaan Sungai Mahakam untuk pengembangan ikan mengalami sejumlah masalah. Salah satunya, air sungai tak dapat dikontrol oleh para petani. Padahal, pengembangan ikan sangat bergantung kualitas air.

Tekanan-tekanan serta pengaruh-pengaruh negatif terhadap air Sungai Mahakam sangat tinggi. Apalagi sungai terlebar di Kalimantan ini kerap dicemari limbah domestik. Masalah lain, intensitas bangar dan perubahan-perubahan air sungai ini cukup tinggi. “Itu yang menjadi kendala-kendala bagi kita,” ucapnya.

Sektor Perikanan Berbasis Kawasan

Berdasarkan visi, misi, dan program Bupati Kukar, Edi Damansyah, usaha mengembangkan sektor perikanan akan dilakukan berbasis kawasan. Ini juga merupakan bagian dari Program Dedikasi kepala daerah yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut.

Karena itu, Muslik mengungkapkan, pengembangan ikan tangkap akan terus dilakukan di wilayah Samboja dan Muara Badak. Juga melingkupi kecamatan-kecamatan di sekitarnya. “Tapi fokus kita berada di dua kecamatan itu,” ungkapnya.

Dalam rangka mengembangkan produksi ikan di tambak-tambak yang terletak di sejumlah kecamatan tersebut, pihaknya akan memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk para petani. Kemudian, tambak-tambak yang terbengkalai akan dihidupkan kembali (direvitalisasi).

Ini juga merupakan bagian dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. DKP pun akan mendorong budi daya udang, bandeng, dan rumput laut di perairan laut dan tambak-tambak milik para petani di wilayah pesisir. “Itu yang kami coba untuk kembangkan budi dayanya,” ucap Muslik.

Bantuan lain, DKP akan berusaha mengembangkan benih secara mandiri. Selama ini, sebagian besar benih ikan dan udang di Kukar berasal dari luar daerah. Langkah awal, DKP akan mendorong penambahan tempat penetasan benih (hatchery) ikan dan udang di masyarakat Kukar.

“Kemudian kita sendiri juga berupaya untuk membuat hatchery itu agar pemenuhan benih udang bisa terpenuhi,” katanya.

Sementara di Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong, dan Tenggarong Seberang—disebut Muslik dengan akronim Loajukut—akan dikembangkan menjadi kawasan budi daya dan pengembangan air tawar seperti ikan mas, nila, lele, dan patin.

Sejauh ini, masyarakat telah mengembangkan ikan nila dan mas di kawasan tersebut. Selain itu, DKP juga akan mendorong pengembangan ikan lele di empat kecamatan yang terletak di wilayah tengah Kukar itu.

“Mudah-mudahan orang-orang kita, konsumsi ikan ini makin disukai,” harapnya. Ia mengisahkan, sebelumnya lele tak disukai warga Kukar. Umumnya, mereka lebih menyukai patin dibandingkan lele. Hal ini berbeda dengan ikan mas yang telah lama dikonsumsi dan disukai masyarakat Kukar.

“Di samping kita dorong juga komoditas-komoditas yang lain, misalnya gurami yang punya pasar bagus. Saat ini kita coba kembangkan,” katanya.

Di kawasan tengah, DKP juga akan mendorong pengembangan benih-benih lokal. Selama ini, Muslik mengakui bahwa pihaknya masih menghadapi sejumlah kendala dalam menghasilkan benih-benih unggul.

Ia pun mendorong kerja sama dengan sejumlah balai milik KKP RI untuk mengembangkan ikan air tawar dan payau. “Kita dorong untuk kerja sama dalam hal pembinaan,” ucapnya.

DKP Kukar akan berusaha mengendalikan produksi ikan di wilayah tengah dan hulu. Pasalnya, ikan tangkap di kawasan-kawasan tersebut kian berkurang karena arealnya yang semakin terbatas.

Padahal, jumlah nelayan kian bertambah di dua kawasan tersebut. Karena itu, penangkapan ikan akan dikendalikan sehingga kuantitas produksinya tetap stabil.

Usaha pengendalian tersebut, sambung Muslik, dilakukan dengan melarang alat-alat ilegal (illegal fishing) serta penggunaan setrum, racun, dan penangkapan ikan dengan menarik jaring melalui air di belakang satu atau lebih perahu (trawl). Pembatasan-pembatasan ini juga dilakukan di perairan umum sehingga produksi ikan tetap stabil dan berkelanjutan.

“Sebenarnya itu menjadi tantangan bagi kita. Tapi kalau penggunaan alat ilegal itu dilakukan, ikan sebagai sumber daya yang bisa diperbarui akan punah. Kalau lebih besar eksploitasinya ketimbang reproduksinya, lama-lama juga akan punah,” jelasnya.

Kata dia, larangan ini memiliki dasar. Ia mencontohkan kebijakan pemerintah pusat yang telah melarang konsumsi ikan belida. Padahal, ikan tersebut merupakan bahan dasar untuk pembuatan amplang.

Larangan ini dikeluarkan karena jumlah ikan tersebut semakin terbatas, bahkan mendekati kepunahan. “Makanya secara nasional ikan belida ini enggak boleh dieksploitasi,” jelasnya.

Target Produksi Ikan untuk IKN

Seorang pembudidaya ikan di Kabupaten Kutai Kartanegara tengah mengecek tambak. (Humas Pemkab Kukar)

Penyambut pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke sebagian wilayah Kukar dan Penajam Paser Utara (PPU), Muslik menargetkan peningkatan produksi ikan sebanyak 8-9 persen setiap tahun.

“Kita mencoba riil saja, terutama untuk ikan tangkap. Lebih cenderung seperti itu. Makanya kita genjot di budi daya,” ucapnya.

Selain ikan, pengembangan produksi juga dilakukan terhadap rumput laut, kepiting, dan udang. Kata Muslik, udang memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Kukar. Hal ini pula yang mendasari Bupati Edi meminta DKP meningkatkan produksi udang di Kukar. “Karena udang ini untuk diekspor,” jelasnya.

Caranya, DKP Kukar akan mendorong peningkatan produksi udang di tambak-tambak. Menurutnya, sebagian besar tambak di Kukar masih tradisional sehingga produktivitasnya sangat rendah.

Dalam satu hektare tambak di Kukar hanya menghasilkan 30-50 kilogram udang. Sementara di Jawa, tambak dengan luas tersebut bisa memproduksi 20-60 ton udang.

Kelebihannya, udang yang dihasilkan para petani di Kukar sudah terkenal di kancah nasional hingga mancanegara. Selain cita rasanya yang enak, harganya juga terjangkau. Karenanya, udang yang diproduksi di Kukar diekspor ke berbagai negara.

Saat ini, DKP Kukar tengah mendorong pengembangan udang seperti udang tiger, borneo, dan vaname. “Selain untuk ekspor, ini dalam rangka pemenuhan produk lokal kita. Ini kaitannya dengan IKN,” ucapnya.

Langkah lain, DKP Kukar akan mengembangkan sektor hilirisasi seperti pengembangan produksi pakan-pakan alternatif, tepung ikan, dan pabrik rumput laut.

“Kita berharap olah-olahan seperti itu bisa berkembang, termasuk bagaimana sistem kemasan kita dan juga sistem transportasi kita. Karena nanti ini akan berkembang. Kita berharap begitu,” pungkas Muslik. (ln)