Lima Hal yang Dibutuhkan Caleg dan Calon Kepala Daerah pada Pemilu 2024

BERITAALTERNATIF.COM – Direktur Politician Academy Bonggas Adhi Chandra menyebutkan bahwa calon anggota legislatif dan kepala daerah membutuhkan lima hal untuk bertarung dalam kontestasi politik pada tahun 2024.

Adhi mengatakan, Anda harus menyiapkan lima hal tersebut sejak awal atau jauh sebelum pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

“Begitu Anda memutuskan untuk berkontestasi dalam pemilihan legislatif ataupun pemilihan kepala daerah, lima hal ini sejak awal Anda harus siapkan,” ujar Adhi sebagaimana dikutip beritaalternatif.com dari kanal YouTube Politician Academy pada Jumat (3/5/2022) malam.

Pertama, mindset yang tepat. Mindset merupakan sekumpulan nilai dan keyakinan di kepala Anda, yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar.

“Bila Anda ingin masuk ke dalam politik, maka mindset Anda sejak awal harus benar, lurus, dan sejajar. Jangan sampai ada keyakinan yang bertolak belakang,” jelasnya.

Ia mencontohkan, jika Anda ingin maju sebagai politisi, di dalam kepala Anda, Anda harus membayangkan politik itu adalah hal yang baik, serta politisi merupakan profesi yang mulia.

Sebaliknya, apabila Anda memutuskan maju dalam kontestasi demokrasi, tetapi Anda berpikir bahwa politik itu kotor, kejam, dan penuh dengan intrik, maka secara tidak langsung Anda membentuk keyakinan bahwa Anda tidak akan berhasil dalam pertarungan tersebut.

“Kenapa? Karena nilai dasar kita menganggap bahwa politik itu kotor. Politik itu kejam. Sedangkan kita sebagai manusia tidak menginginkan untuk menjalankan sesuatu yang kotor dan jahat,” katanya.

Adhi menganalogikan seseorang yang ingin menjadi orang kaya dan hebat. Namun, dalam diri Anda terdapat keyakinan bahwa uang itu jahat, sumber perpecahan keluarga, dan sumber segala konflik, maka Anda tidak akan bisa mendapatkan keinginan tersebut. Pasalnya, keyakinan atau mindset Anda tidak sejalan dengan keinginan Anda.

Karena itu, jika Anda ingin masuk dalam politik dan berkompetisi dalam pesta demokrasi, Anda harus memasukkan mindset bahwa politik itu baik. Kenapa politik itu baik? Karena dengan politik, Anda bisa membantu lebih banyak orang. Anda juga bisa mendorong kebijakan publik yang bisa menyejahterakan masyarakat.

Mindset seperti inilah yang paling penting sebelum Anda memutuskan untuk masuk ke dunia politik,” imbuhnya.

Kedua, memiliki knowledge set yang tepat. Seorang pengacara bisa menjadi lawyer yang andal karena ia mempelajari secara dalam ilmu hukum. Seorang akuntan yang hebat juga mendalami ilmu akuntansi.

Begitu juga dengan politisi. Bila Anda ingin menjadi politisi, Anda harus mempelajari pengetahuan yang tepat untuk menjadi politisi yang baik, sukses, dan hebat.

Di antara pengetahuan yang tepat bagi politisi, kata Adhi, adalah memetakkan daerah pemilihan; mengetahui konstituen; memunculkan personal branding yang tepat; membuat target, visi-misi dan program yang mendorong orang-orang untuk memilih Anda.

“Itu semua knowledge yang dibutuhkan kalau Anda ingin maju ke dalam kontestasi pemilu,” katanya.

Kata Adhi, pengetahuan seperti ini juga dibutuhkan mereka yang telah duduk di kursi legislatif atau kepala daerah.

“Tidak cukup dengan knowledge pada saat Anda kemarin maju dan duduk. Karena knowledge ini terus berkembang pesat, strategi juga terus diperbarui, sehingga jangan pernah berhenti untuk belajar mendapatkan knowledge yang tepat,” urainya.

Ketiga, mempunyai skill set yang tepat. Skill set adalah kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan setiap orang untuk bisa menjadi seorang politisi.

Adhi mengatakan, tugas Anda yang bertarung di Pileg dan Pilkada tak hanya memenangkan kontestasi tersebut. Tetapi Anda juga harus menjadi legislator dan kepala daerah yang hebat.

Salah satu skill set yang dibutuhkan politisi adalah public speaking. Pasalnya, sebagai pejabat publik, kegiatan berpidato adalah kegiatan paling penting yang harus dimiliki pejabat.

“Anda berbicara di depan publik, Anda menyuarakan apa yang Anda inginkan atau pesan apa yang dibawa oleh masyarakat Anda, itu melalui public speaking,” katanya.

Public speaking dibutuhkan pada saat Anda berbicara di depan masyarakat, sidang di legislatif, dan momen-momen penting lainnya yang berkaitan dengan tugas Anda.

“Artinya, public speaking menjadi penting. Karena setiap saat Anda menjadi sorotan kamera dan publik. Jadi, perilaku Anda, kata-kata Anda, bagaimana Anda mengucapkannya, itu menjadi sangat penting,” sebutnya.

Keempat, memiliki tools set yang efektif dan efisien. Tools set adalah alat-alat yang akan mempermudah Anda dalam menjalankan kegiatan Anda.

Adhi mencontohkan, pada saat Anda memutuskan maju sebagai anggota legislatif atau kepala daerah, Anda tidak hanya berhubungan dengan segelintir orang.

Anda juga akan berhadapan dengan relawan yang berjumlah puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang. Anda pun akan berhubungan dengan pendukung Anda yang jumlahnya tak sedikit.

Tools set tersebut bisa berbentuk sistem, aplikasi, dan software yang akan menata langkah-langkah Anda untuk mencapai tujuan Anda.

Ia juga mencontohkan, dalam kampanye digital, Anda membutuhkan pengetahuan terkait pembicaraan yang muncul di masyarakat. Misalnya, masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil) Anda membutuhkan infrastruktur jalan, jembatan, dan irigasi yang lebih baik.

Anda dapat menjadikan data tersebut sebagai bahan untuk menyusun visi-misi dan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Dapil Anda.

“Jangan sesuai keinginan Anda. Di lingkungan masyarakat seperti itu, Anda tawarkan misalnya fasilitas pendidikan, beasiswa, atau misalnya alat-alat untuk bertani, mungkin mereka enggak membutuhkan itu. Yang lebih mereka butuhkan adalah infrastruktur,” katanya.

Karena itu, Anda membutuhkan aplikasi untuk memudahkan langkah Anda dalam melakukan kampanye secara efektif.

Kelima, Anda membutuhkan dana atau uang. Uang diperlukan karena sistem demokrasi dengan pola terbuka saat ini memungkinkan bagi setiap orang melakukan berbagai upaya untuk meyakinkan masyarakat.

Uang juga dibutuhkan untuk kampanye di media sosial, media daring, media elektronik, media tradisional, dan kunjungan-kunjungan di masyarakat. “Itu semua membutuhkan uang,” katanya.

Calon legislatif bermodal minim bisa memenangkan kontestasi demokrasi di Indonesia. Tetapi, calon wakil rakyat dengan modal yang cukup mempunyai peluang yang lebih besar untuk menang.

“Oleh karena itu, Anda harus siapkan dana. Dananya berapa yang Anda persiapkan? Yang penting cukup. Tiap daerah kan cukupnya beda-beda. Dilihat dari besarnya daerah, populasinya, APBD-nya, natural resource di daerah tersebut, dan lain sebagainya,” jelas Adhi.

Penggunaan dana dalam pencalonan, lanjut dia, membutuhkan manajemen yang tepat. Pasalnya, bila Anda mempunyai uang yang melimpah, tetapi Anda menerapkan strategi yang tidak benar serta tak membangun tim sukses dengan baik, maka uang dengan jumlah berapa pun akan terbuang sia-sia. “Dan Anda tidak akan terpilih,” pungkasnya. (*)

FAI Unikarta di Usia Ke-28 Tahun, Bagaimana Harusnya?

Oleh: Haji Mubarak*

Rabu, 1 Juni 2022, bertepatan dengan Peringatan Hari Kelahiran Pancasila, Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara (FAI Unikarta) Tenggarong berusia 28 tahun. Angka 28 bagi sebagian orang dimaknai dengan keseimbangan manakala kedua bilangan genap di atas dibagi dengan bilangan yang sama sehingga menghasilkan angka 1 yang berarti keutuhan tak berbagi (28:28=1, 1:1=1). Meski demikian, barangkali ada pula yang memaknainya dengan tafsiran berbeda. Bagi penulis, berbagai pemaknaan terhadap angka 28 itu sah-sah saja, sesuai selera masing-masing.

Di usia ke-28 tahun ini, FAI Unikarta telah berdinamika bersama waktu. Seluruh rangkaian perjalanannya telah menyejarah dalam etalase kehidupan bersama pihak-pihak yang turut berjasa mengawal keberadaannya. Sebelum tulisan ini diteruskan, penulis mengajak khalayak pembaca untuk ikut mendoakan para perintis lembaga ini. Bagi mereka yang masih hidup, kita doakan agar senantiasa sehat, kehidupannya dilimpahi keberkahan, dan senantiasa sukses di dalam meniti karier dan pekerjaan masing-masing. Sementara bagi mereka yang telah wafat mendahului, marilah kita doakan agar arwah para almarhum/almarhumah diberikan kelapangan di sisi Allah dan diberikan kedamaian di Alam Barzakh.

Angka 28 dan Makna Keseimbangan

Merefleksi 28 tahun keberadaan FAI Unikarta di bumi “Tuah Himba” Tenggarong, angka 28 yang sebelumnya dimaknai sebagai keseimbangan karena merupakan bilangan genap, tampaknya memiliki relevansinya di dalam teks Alquran, meski bukan berarti alasan ini memberikan pembenaran terhadap anggapan tersebut. Seperti terdapat dalam Surat Al-Fajr (89) ayat 3 yang menyebutkan bahwa Allah bersumpah dengan bilangan genap pada kalimat “wa al-Syaf’i wa al-Watr” yang artinya “demi yang genap dan yang ganjil”. Walaupun sesungguhnya kata “al-Syaf’i” yang berarti genap itu menurut mufassir berkaitan dengan “yaum al-nahr” atau bilangan genap pada tanggal 10 Zulhijjah.

Kemudian, dimaknai dengan keseimbangan lantaran berpasang-pasangan. Surat Yâsîn (36) ayat 36 menyebutkan kata “al-azwâj” yang berarti “berpasang-pasangan” sebagaimana dinyatakan: “Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan…”. Kata berpasang-pasangan ini dengan demikian cenderung mengarah kepada potensi keseimbangan manakala semua yang diciptakan Allah ada pasangannya, seperti kanan dan kiri, atas dan bawah, muka dan belakang, laki-laki dan perempuan, dan seterusnya.

Selanjutnya, keseimbangan pula disebabkan adanya satu-kesatuan yang saling melengkapi. Ini disebutkan di dalam Surat Az-Zumar (39) ayat 5 pada frasa “nafs wâhidah” artinya “jiwa yang satu” dan “zawjahâ” yang artinya “pasangannya”, sebagaimana dinyatakan: “Dia menciptakanmu dari jiwa yang satu (Adam), kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya…”. Jiwa yang satu bermakna tunggal, sementara kehadiran pasangan berarti melengkapi yang tunggal itu. Hal ini berarti adanya satu-kesatuan yang saling melengkapi, berpadu dalam satu ikatan, selaras dalam menjalani kehidupan.  

Oleh karenanya, memaknai beberapa ayat di atas dalam konteks Milad FAI Unikarta yang ke-28, penulis mengira di usia yang ke-28 tahun ini FAI Unikarta seyogyanya berada di gerbang stabilitas kelembagaan untuk mencapai berbagai kemajuannya.

FAI Unikarta Sekarang, Bagaimana Harusnya?

Di usia yang ke-28 tahun ini, penulis meyakini bahwa FAI Unikarta telah mencapai dimensi stabilitasnya dan mencapai berbagai kemajuan. Namun demikian, terlepas dari keyakinan itu, apakah berbagai kemajuan dimaksud terjadi karena usaha dan perjuangan seseorang (personal) ataupun atas hasil kerja bersama (kolektif), yang paling utama bahwa keberhasilan FAI Unikarta lantaran mampu bertahan hingga kini sebagai salah satu dari tujuh fakultas di lingkungan Unikarta.

Tatkala FAI Unikarta dianggap telah mencapai stabilitas dan kemajuannya, hal itu tidak serta-merta menjadikan seseorang membusungkan dadanya lebih tinggi. Ataupun jika terjadi kebalikannya, jika masih terlampau banyak kelemahan dan kekurangannya, hal itu tidak serta-merta membuat seseorang harus menundukkan kepalanya lebih dalam. FAI Unikarta sebagai “institusi besar” tidak hanya digerakkan oleh satu atau dua orang saja. Ia menarik keterlibatan berbagai pihak untuk ikut menggerakkannya, antaranya yayasan, pimpinan universitas, pengelola fakultas, para dosen dan karyawan, hingga para mahasiswanya terlibat di dalam upaya pengembangannya.

Dalam konteks pengelolaan kelembagaan FAI Unikarta sekarang di usia yang ke-28 tahun, figur kepemimpinan akademik (academic leadership) sangat dibutuhkan. Figur ini tidak hanya milik pemimpin lembaga (top leader) yang duduk di tingkat pengambil kebijakan, melainkan semua pihak yang memiliki karakteristik seorang pemimpin (leader).

Peranan seorang pemimpin dalam kepemimpinan akademik menjadi sangat penting manakala mengamati berbagai karakteristik kepemimpinan akademik, antara lain: (1) kemampuan melibatkan potensi setiap individu ataupun melepaskannya; (2) memiliki visi dan berkomitmen untuk mendorong dan menggerakkan perubahan secara berkelanjutan dari dalam unit-unit akademik; (3) memiliki pemikiran yang independen sebagai bagian dari budaya akademik serta memahami benar bahwa unit-unit akademik menjadi tantangan dalam fokus mencapai misi kelembagaan; (4) mampu memberdayakan potensi individu melalui contoh dan pengajaran sehingga pada gilirannya dapat melibatkan orang lain dalam mengejar misi lembaga; serta (5) memiliki fokus pada proses perencanaan strategis (strategic planning), di mana hal ini menjadi alat untuk membawa bersama dan mengerahkan kemitraan stakeholders dalam mengejar misi lembaga.

Dalam usia FAI Unikarta yang ke-28 tahun ini, seharusnya setiap individu yang terlibat dalam pengelolaan fakultas ini memiliki kemampuan melibatkan potensi dirinya agar lebih komunikatif dalam membangun teamwork bersama individu pemimpin lainnya. Ia memiliki visinya dan komitmen untuk mendorong dan menggerakkan perbaikan secara berkelanjutan (continuous improvement) dari dalam unit-unit akademik yang dikelolanya sehingga memahami benar bahwa keberadaan unit-unit akademik yang dipandunya itu menjadi tantangannya untuk mencapai misi kelembagaan. Dalam budaya akademik, ia memiliki pemikiran untuk memberdayakan potensi individu lainnya melalui pengajaran dan keteladanan sehingga pada gilirannya dapat melibatkan orang lain dalam mengejar misi lembaga. Dan, pada akhirnya, diperlukan rencana strategis untuk memberi gambaran futuristik bagaimana FAI Unikarta di masa mendatang, sehingga kemitraan bersama stakeholders sangat dibutuhkan dalam mengaktualisasikan misi lembaga.

Penulis teringat hadis Rasulullah yang berbunyi, “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya… Ketahuilah bahwa anda masing-masing adalah seorang pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. Kata “râ’in” menurut ulama adalah “orang yang menjaga, orang yang mendapat amanah, dan orang yang harus memilih kebaikan dalam mengurus sesuatu”. Hadis di atas menunjukkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab kepada orang lain yang dipimpinnya sehingga ia dituntut berlaku adil dan menegakkan kemaslahatan baik yang terkait dengan agama maupun dunianya. Setiap orang yang diangkat oleh Allah sebagai râ’in ini maka ia harus melaksanakan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Berikutnya, para pemimpin akademik ini diharapkan memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai akademik (academic values) serta berupaya agar terus beradaptasi dengan perubahan internal dan eksternal lembaga. Di momentum usia ke-28 tahun ini, FAI Unikarta seharusnya berupaya mewujudkan budaya mutu dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dalam layanan edukatif ini misalnya, para dosen yang mengajar di FAI Unikarta dituntut berkualifikasi  magister (S2) dan doktor (S3) serta berlatar belakang pendidikan sesuai dengan program studi yang diselenggarakan. Kerangka idealnya, dalam layanan edukatif oleh dosen kepada para mahasiswa, seharusnya mampu memberikan dampak yang spesifik terhadap penambahan wawasan pengetahuan mahasiswa dan kualifikasi keahliannya sebagai lulusan FAI Unikarta.

Termasuk dalam kategori mewujudkan budaya mutu di FAI Unikarta ialah terwujudnya sistem penjaminan mutu internal yang berkualitas, hadirnya sistem informasi yang berkualitas dan dapat diakses oleh semua pihak, serta terwujudnya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Arus hilir dari semua budaya mutu itu adalah capaian predikat akreditasi program studi (Baik Sekali atau Unggul) serta dapat dibukanya berbagai program studi baru. Selanjutnya, budaya mutu diharapkan berdampak pula terhadap meningkatnya kualitas softskill mahasiswa yang menopang terwujudnya jiwa sociopreneur dengan menumbuhkembangkan karakter kepribadian mahasiswa agar dapat berkarya dalam kewirausahaan namun tanpa meninggalkan kepekaan sosial di masyarakat, memiliki keterampilan sosial serta jiwa kepemimpinan, dan tidak kalah penting adalah kesadaran mahasiswa terhadap dinamika keberagaman (berpemahaman moderat) sehingga tidak kaku dalam menghadapi perbedaan-perbedaan keagamaan, kesukuan dan lain-lain.

Menutup tulisan ini, bagi “para pejuang” yang tengah mengawal masa depan FAI Unikarta saat ini, sadarilah bahwa tanggung jawab masa depan lembaga ini terletak di pundak “etam segala”. Oleh karenanya, kerja sama tim serta meletakan kepentingan FAI Unikarta di atas semua kepentingan pribadi adalah prioritas. Mengutip kembali salah satu ayat Alquran untuk direnungkan bersama dalam Surat Al-Isra (17) ayat 84: “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya”. Selamat Milad ke-28 FAI Unikarta. Ma’a al-najâh, yuftah lanâ al-barakah (semoga sukses, semoga pintu keberkahan dibukakan). (*Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara)

Lima Tahun Listi Berkiprah di GLK, Wujud Ketulusan dalam Perjuangan Sosial

BERITAALTERNATIF.COM – Gerakan Literasi Kutai (GLK) telah berdiri sejak tahun 2017. Artinya, gerakan yang awalnya berbentuk komunitas yang kemudian bernaung di bawah Yayasan GLK ini telah berkiprah selama lima tahun untuk mengembangkan dan memajukan literasi di Tanah Kutai.

Gerakan yang digawangi oleh Erwan Riyadi ini dipenuhi oleh orang-orang yang tulus berjuang untuk kepentingan banyak orang. Mereka terus bergerak tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk materi dan pujian. Tidak juga karena keinginan untuk membesarkan nama pribadi.

Salah satu pribadi yang tulus membesarkan organisasi yang bersekretariat di Jalan Kartini, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini adalah Listiana Mugiarti.

Dalam artikel ini, kami menyuguhkan hasil wawancara mendalam pada Rabu (1/6/2022) malam dengan perempuan yang kini berkhidmat sebagai abdi negara di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar tersebut.

Kenapa Anda tetap konsisten menjadi bagian dari penggerak GLK?

Sebenarnya gini, ini berawal dari keprihatinan. Kemudian, setelah keprihatinan, ada kepedulian. Setelah ada kepedulian, kita harus berkolaborasi dan konsisten.

Kita hidup di dunia ini kan sementara. Dalam kehidupan ini kita tidak bisa berdiri sendiri. Kita selalu akan berinteraksi dengan orang lain, bertemu orang lain, karena kita adalah makhluk sosial.

Saya lahir ke dunia ini juga pasti punya maksud. Segala sesuatu yang terjadi sudah skenario Allah. Dan saya harus mempertanggungjawabkannya. Ketika saya sudah berucap, saya harus mempertanggungjawabkan itu. Ketika saya menyatakan untuk ikut bergabung di GLK, saya harus bertanggung jawab.

Kita mendirikan GLK ini kan sebagai alat. Alat kita untuk bersosial. Jadi, kalau kita sudah diberikan alat yang namanya GLK, tidak ada itu dari kita. Itu dari Allah. Saya rasa sudah Allah persiapkan. Itu sudah menjadi takdir saya.

Saya yakin dengan gerakan ini. Makanya saya konsisten. Karena itu adalah tanggung jawab. Meskipun komunitas ini kecil, saya harus tetap bertanggung jawab. Itulah kenapa saya tetap konsisten, dan saya tidak bercabang-cabang di beberapa organisasi. Hanya fokus di GLK.

Jika saya bergabung di organisasi, kemudian saya tidak bisa berperan besar, lebih baik saya mundur. Bagi saya, apa pun yang diamanahkan, itu adalah tanggung jawab. Sebenarnya tidak ada yang menekan saya untuk bertanggung jawab. Tapi kalau sudah berniat, saya harus pertanggungjawabkan itu pada diri saya sendiri.

Sampai kapan pun saya akan tetap konsisten sepanjang orang-orangnya bisa diajak bekerja sama dan berperan bersama-sama. Walaupun orang-orang di sekitar saya, bahkan mungkin jenuh dan bosan, tapi Allah punya cara lain. Mati satu, tumbuh yang lain. Kuncinya adalah niat yang tulus.

Apakah selama aktif di GLK Anda digaji?

Gajinya itu dari Allah. Gaji dari Allah adalah “candu”. Kenapa jadi candu? Karena saya merasa ketika saya bersosial, saya merasa tenang dan senang.

Misalnya saya punya masalah. Manusia pasti punya masalah. Tapi, mungkin ini hadiah terbesar dari Allah, gaji terbesar dari Allah untuk hidup saya, bahwa setiap apa pun saya bisa menyelesaikannya dengan baik.

Karena beberapa kali itu ada segala macam problem yang kayak besar banget. Saya sulit untuk mengatasinya. Tapi saya harus mengatasinya. Saya cukup diam. Diamnya untuk apa? Saya berusaha “berkonsultasi” dan “curhat” sama Allah.

Maksudnya, kalau mau curhat sama orang lain, saya takut orang itu mempersepsikannya dengan cara berbeda. Dia punya pemahaman yang lain. Jadi, lebih baik saya menyendiri, pasrah sama Allah, apa pun yang terjadi, biasanya masalah sebesar apa pun, ketika itu Allah akan memberi hidayah pada kita bahwa masalah itu akan diselesaikan. Dengan cara apa Allah membantu saya? Dengan cara saya diberikan keyakinan bahwa semua problem itu bisa diselesaikan.

Jadi, meskipun itu kejadiannya dua tahun berjalan, tapi saya yakin ini akan berhasil. Itulah kekuatan intuisi. Kekuatan intuisi, menurut saya, itu datangnya dari Allah. Ada juga mungkin berdasarkan pengalaman. Boleh jadi gitu.

Tapi, saya bergerak ini murni atas dasar ketulusan. Dan saya tidak punya tendensi apa pun. Kalau ada yang bilang gaji di GLK besar, oh iya besar banget. Gajinya dari Allah.

GLK itu tidak punya kas. Tidak ada apa-apanya. Jadi, kita memang bergerak tidak ada yang menggajinya. Tidak ada. Jadi, tidak pernah ada yang menggaji sama sekali. Kenapa bisa bergerak sampai sejauh ini? Itulah rahasia Allah.

Kekuatan kita adalah kekuatan kolaborasi. Anda boleh tanya begini ke mitra kami dari perusahaan, “Pak, kenapa sih kok percaya dengan GLK?” Boleh tanya. Kami pun tidak pernah merasa takut. Misalnya, ada yang mengatakan, “GLK kayak gini. Kayak gitu”. Silakan. Tapi orang perusahaan lebih tahu. Kita tidak pernah menjanjikan apa pun. Kita berbicara apa adanya. Pak Erwan juga berbicara apa adanya. Kita apa adanya. Kita memang tidak punya apa-apa. Kita nyusun segala sesuatu secara terbuka.

Mungkin bayangan orang, “Gajinya besar”. Dari mana? Kita keluarkan uang masing-masing. Pak Erwan keluar uang sendiri. Saya juga keluar uang sendiri. Saya punya usaha batik motif gasing. Sekian persen untuk kegiatan sosial, termasuk untuk GLK. Pelan-pelan bisa berjalan.

Saya sering bilang, “Hidup-hidupilah komunitas. Jangan cari hidup di komunitas”. Itu prinsip. Anda boleh tanya Pak Erwan. Tanya teman-teman yang Anda kenal. Adakah saya digaji? Enggak ada. Karena ini memang gerakan sosial.

Bertahan dalam kondisi begitu memang berat. Tapi mau meninggalkan GLK itu juga berat. Di situ ada rasa tanggung jawab. Ketika kita sudah berucap untuk bersama-sama bergerak di komunitas ini, lalu kita tinggalkan, itu akan ada tuntutan pertanggungjawabannya.

Saya pikir, saya bukan manusia sempurna, saya banyak dosa, mungkin dengan cara beginilah dosa saya bisa berkurang dan terampuni.

Ini murni gerakan sosial. Jadi, itulah alasan kenapa GLK bisa mengadakan acara-acara besar. Kekuatannya itu adalah kolaborasi. Berjejaring. Kuncinya adalah kita tulus. Kita harus bisa menjaga amanah. Menjaga hubungan baik dengan mitra.

Di awal-awal komunitas ini berdiri, mengapa Anda mau bergabung?

Saya bergabung di GLK karena saya ingin mengabdikan diri pada hal-hal yang saya anggap baik, khususnya dengan kapasitas saya.

Kalau kegelisahan terkait literasi, saya rasa tidak juga. Bagi setiap orang, literasi itu erat kaitannya dengan pengetahuan. Pengetahuan itu pasti berkaitan dengan kemampuan manusia. Manusia itu sejak lahir sudah punya kelebihan masing-masing. Dan punya rasa ingin tahu.

Saya bergabung dan aktif di GLK karena saya hanya mengikuti takdir. Takdir yang Allah berikan bahwa saya memang harus mengabdikan diri saya.

Apakah ke depan Anda akan tetap konsisten berjuang di GLK?

Seperti yang saya bilang dari awal bahwa gerakan ini berawal dari keprihatinan. Terus muncul kepedulian. Saya selalu bilang agar selalu konsisten untuk tetap mengabdikan diri dan bertanggung jawab.

Kalau berbicara tanggung jawab, pasti ada konsistensi. Itu wajib. Karena dalam gerakan itu kita punya tanggung jawab sosial. Manusia hidup itu punya tanggung sosial. Kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.

Saya rasa saya ingin mengabdikan diri saya melalui wadah GLK. Jadi, yang jelas saya akan tetap konsisten. Karena berkaitan dengan tanggung jawab, saya pasti akan konsisten terus di GLK. Apa pun yang terjadi, saya akan tetap konsisten.

Kalau bergerak, tidak harus besar. Apa yang bisa saya lakukan, itu yang saya lakukan. Saya akan melakukan hal-hal yang sesuai kemampuan saya. Kalau itu di luar kemampuan saya, saya tidak akan bergerak.

Yang pasti saya tulus. Yang pasti saya ingin menyeimbangkan hidup saya untuk sesuatu yang bermanfaat. Saya juga harus menyeimbangkan hidup. Barangkali dengan saya mengabdikan diri saya, mungkin bisa menyeimbangkan hidup saya. Karena memang hidup ini butuh keseimbangan. Harus berupaya menyeimbangkan diri melalui kegiatan-kegiatan sosial.

Kenapa? Karena manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kehidupan ini tidak ada yang sempurna. Semua orang juga punya kekurangan. Jadi, kita harus bersosial melalui organisasi atau komunitas.

Dari situ saya dapat upah ketenangan batin dan jiwa. Dalam hidup itu, kalau tidak tenang, kita tidak bisa melakukan apa pun dengan baik. Kalau hidup tenang, kita melakukan apa pun itu enak, nyaman, dan insyaallah berjalan dengan baik. Apa yang menjadi keinginan dan program-program kita juga akan terlaksana dengan baik.

Selain itu, akan banyak orang yang akan membantu kita. Kalau kita tulus, ada energi-energi positif yang akan mendekat sama kita. Itu yang saya yakini dalam hidup saya. (*)

Ramaikan Milad Ke-28 Tahun, FAI Unikarta Adakan Pertandingan Bulu Tangkis dan Futsal

BERITAALTERNATIF.COM – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 yang jatuh pada 1 Juni 2022, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) mengadakan sejumlah lomba.

Tim Pengarah Panitia HUT ke-28 FAI Unikarta, Habib Zainuri mengungkapkan, berbagai kegiatan dalam perayaan milad tahun ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan FAI Unikarta.

“Walaupun dengan budget yang minimalis, kami berharap hasilnya bisa maksimalis,” ucap Habib saat ditemui awak media beritaalternatif.com di kampus Unikarta pada Jumat (3/6/2022) siang.

Rangkaian kegiatan dalam perayaan HUT FAI Unikarta ini, lanjut dia, dimulai pada 1 Juni 2022. Kemudian, puncak kegiatan diselenggarakan pada 30 Juni 2022.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam perayaan milad tersebut adalah lomba tumpeng. Pesertanya berasal dari FAI Unikarta.

“Itu sebagai filosofi bahwa kita ini harus bersyukur. Intinya kita syukuran,” ujarnya.

Kata Habib, kegiatan berikutnya yakni video challenge. Hal ini bertujuan mengaver bakat kawula muda yang berasal dari mahasiswa dan alumni FAI Unikarta.

“Konten video itu tidak lepas dari tujuan kita mengadakan lomba itu, yaitu promosi. Jadi, nanti dalam video itu salah satunya promosi Fakultas Agama Islam,” jelasnya.

Kemudian, kata Habib, pihaknya juga mengadakan lomba bulu tangkis. Lomba ini sebagai respons atas masukan dari alumni FAI Unikarta. Pasalnya, beberapa tahun terakhir Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI Unikarta sering mengadakan pertandingan bulu tangkis.

“Ternyata antusias dari alumni cukup tinggi. Jadi, background­-nya Fakultas Agama Islam, guru agama Islam, punya hobi salah satunya bulu tangkis,” ungkapnya.

Pertandingan bulu tangkis, sambung dia, akan dilaksanakan pada 19 Juni mendatang. Pesertanya berasal dari mahasiswa dan alumni FAI Unikarta, serta pelajar dari SMP hingga SMA/SMK di Kukar.

“Insyaallah kegiatannya di gedung PBSI. Tapi, nanti akan di-follow up. Keputusan akhirnya nanti. Tapi kemarin, kita sudah putuskan, sementara di sana rencananya. Karena kemarin kita juga sudah jadi member di sana,” bebernya.

Terakhir, pihaknya juga akan mengadakan futsal. Habib mengatakan, antusiasme mahasiswa dalam mengikuti pertandingan futsal relatif tinggi. Hal ini ditandai dengan kegiatan pada tahun sebelumnya yang ramai diikuti oleh mahasiswa.

“Hampir setiap tahun kita laksanakan pertandingan futsal. Tapi hanya di internal FAI. Nah, usulan-usulan dari alumni, kenapa tidak alumni dilibatkan,” terangnya.

“Insyaallah itu akan dilaksanakan di tanggal 25-26 Juni. Pesertanya itu dari mahasiswa dan alumni FAI, dan juga pelajar,” lanjutnya.

Habib menyebutkan, semua kegiatan yang diselenggarakan dalam perayaan milad tersebut bertujuan memanfaatkan momentum HUT ke-28 FAI Unikarta sebagai ajang silaturahmi antar mahasiswa dan alumni, serta pelajar di Kukar.

Milad FAI Unikarta tahun ini, lanjut dia, bertepatan dengan penerimaan mahasiswa baru di Unikarta, sehingga berbagai lomba dalam perayaan milad tersebut dapat menjadi ajang untuk menjaring calon mahasiswa baru FAI Unikarta.

Ia pun berharap perayaan milad tahun ini bisa menjadi jembatan untuk mempererat silaturahmi antar alumni FAI Unikarta.

“Outputnya nanti kami bisa membentuk Ikatan Alumni Fakultas Agama Islam,” ujarnya.

Sejatinya, Ikatan Alumni FAI Unikarta telah dibentuk beberapa tahun lalu, yang diketuai oleh almarhum Supriyadi.

“Karena beliau kemarin sudah meninggal, sampai sekarang masih vakum alumninya. Dengan momen ini, bisa dihidupkan kembali,” katanya.

Dia mengaku bahwa sumbangsih pemikiran, saran, dan lainnya dari alumni sangat diperlukan untuk membangun dan memajukan FAI Unikarta.

Harapan lain, keterlibatan pelajar dalam berbagai lomba tersebut dapat menarik mereka untuk bergabung di FAI Unikarta.

Pihaknya ingin mengubah pandangan di masyarakat yang menganggap FAI Unikarta sebagai penghasil alumni yang hanya menjadi guru ngaji dan guru agama.

Kenyataannya, alumni FAI bergerak di berbagai bidang: pendidikan, wirausaha, awak media massa, birokrat, hingga politisi.

“Pesantren di Kukar ini mayoritas pengasuhnya didominasi oleh alumni FAI,” katanya. (*)