Siswo Cahyono Tanggapi Program Seribu Guru Sarjana dari Pemkab Kukar

BERITAALTERNATIF.COM – Wakil Ketua DPRD Kukar Siswo Cahyono menanggapi program seribu guru sarjana yang dicanangkan Pemkab Kukar.

Kata dia, sejak diluncurkan oleh Bupati Kukar Edi Damansyah, target dari program tersebut belum kunjung tercapai.

“Mungkin itu perlu bertahap. Pertama melihat situasi APBD kita juga,” ucapnya, Kamis (31/8/2023).

APBD Kukar tergolong besar, sehingga dia mendukung program seribu guru sarjana dari Pemkab Kukar.

“Kami pada prinsipnya sepakat kalau target seribu sarjana bisa terlaksana,” ujarnya.

Hanya saja, Siswo menekankan bahwa biaya perkuliahan dan biaya hidup mahasiswa hingga menjadi sarjana harus ditanggung oleh Pemkab Kukar.

“Yang besar itu justru bukan biaya pendidikan, tapi biaya hidup,” katanya.

Langkah ini, menurut dia, bisa menjadi solusi untuk memecahkan masalah kesenjangan di dunia pendidikan.

Ia mengungkapkan, banyak generasi Kukar tak dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi karena terhambat pembiayaan.

Karena itu, ia menyarankan penanggungan biaya kuliah dan biaya hidup mahasiswa hingga menjadi sarjana harus menyasar seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau bisa lebih dari seribu. Cuma pendataannya harus akurat dan valid. Terkadang beasiswa ini kan tidak mengaver secara keseluruhan,” ungkapnya.

Dia pun menyarankan Bagian Kesra Kukar betul-betul memverifikasi data serta kriteria penerima beasiswa dalam program tersebut.

Siswo juga menyarankan Pemkab Kukar membuat persyaratan penerima beasiswa tersebut berasal dari para pelajar yang mendapatkan peringkat 5-25 di sekolah.

Tujuannya, kata dia, pemberian beasiswa bisa menyasar orang-orang yang betul-betul mau menuntut ilmu di perguruan tinggi.

Siswo menegaskan, beasiswa tak bisa serta-merta diberikan kepada mahasiswa. Hal ini untuk mengantisipasi penyelesaian kuliah para penerima beasiswa yang tidak tepat waktu.

“Kan ini bisa jadi repot. Namanya juga uang negara, kita berharap output yang dikeluarkan itu betul-betul bisa dimaksimalkan,” pungkasnya. (rh/fb)

Ketua DPRD Kukar Abdul Rasid Dorong Mahasiswa Baru Unikarta Aktif Berorganisasi

BERITAALTETNATIF.COM – Ketua DPRD Kukar Abdul Rasid mendorong mahasiswa baru Unikarta untuk aktif berorganisasi selama menjalani perkuliahan di kampus tersebut.

Hal itu disampaikannya saat menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Unikarta Tenggarong pada Selasa (29/8/2023).

Kata dia, mahasiswa baru Unikarta bisa memilih organisasi kampus seperti BEM dan UKM untuk belajar serta meningkatkan kompetensi dan kemampuan mereka.

Dengan berorganisasi, lanjut Rasid, setiap mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan dari luar pelajaran yang diajarkan dosen di kelas.

“Dengan kegiatan ini kita bisa mendapat pengalaman dan pengetahuan,” ucapnya.

Ia menyebutkan bahwa lewat organisasi kampus pula mahasiswa bisa berkontribusi untuk memajukan Unikarta.

“Mari kita majukan kampus lewat kegiatan organisasi,” ajaknya.

Meski begitu, ia menekankan, mahasiswa juga harus senantiasa mengikuti perkuliahan di kelas sehingga mendapatkan nilai yang tinggi di setiap semester.

“Mahasiswa harus mengikuti perkuliahan dengan baik,” sarannya.

Dari pantauan media ini, Rasid menyampaikan materi tentang peran dan fungsi mahasiswa dalam pembangunan daerah di hadapan ratusan mahasiswa Unikarta.

Alumni Febis Unikarta itu mengaku bangga bisa bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa baru Unikarta melalui kegiatan PKKMB.

Ia berharap kegiatan PKKMB dapat memberikan pembekalan bagi mahasiswa baru Unikarta.

Selain itu, dia berharap Unikarta menjadi kampus yang mampu mencetak generasi unggul untuk mengisi berbagai pos yang dibutuhkan di pemerintahan Kukar.

“Harapannya Unikarta dapat mencetak pemimpin untuk Kukar,” ucapnya. (rh/fb)

Keteladanan dalam Berkhidmat kepada Masyarakat dari Sayid Ali Khamenei

BERITAALTERNATIF.COM – Setelah selesai salat kami menemukan bahwa banjir telah menenggelamkan kota. Air menggenang hingga mencapai halaman masjid meski tingginya hanya setengah meter dari permukaan tanah. Saya berteriak meminta agar orang-orang bersiap untuk menghadapi bencana. Mula-mula, saya meminta mereka agar menggulung karpet masjid dan meletakkannya di tempat yang tinggi agar air tidak merusaknya. Kemudian saya meminta mereka agar bersikap waspada untuk melindungi anak-anak dan kaum wanita. Arus deras berlanjut selama dua atau tiga jam. Selama itu kami mendengar suara rumah runtuh satu demi satu, sampai saya khawatir masjid akan hancur. Semuanya terjadi dengan mengerikan. Kegelapan akibat pemadaman listrik, aliran banjir yang deras, rumah yang runtuh, dan orang-orang yang meminta bantuan.

Dalam situasi kritis yang menakutkan, pikiran seseorang akan mengembara mencari cara apa pun untuk menghadapi situasi tersebut. Ingatan saya masih menyimpan apa yang pernah saya dengar yang maksudnya adalah bahwa turbah Sayyid Al Syuhada Husein bin Ali as dapat dijadikan tawasul—insyaallah—untuk menangkal bahaya yang akan segera terjadi. Saya mengeluarkan dari sapu saya sepotong yang saya simpan dari turbah yang dimuliakan Allah dengan rahmat Rasulullah saw. Lalu saya bertawakal kepada Allah dan melemparkan potongan turbah itu ke tengah aliran banjir yang deras. Tidak lama kemudian, banjir itu terhenti atas rahmat dan anugerah Allah Swt.

Setelah banjir berhenti, saya berinisiatif membentuk panitia untuk membantu korban. Tidak mungkin melakukan aktivitas penting pada malam itu, sehingga menangguhkan urusan itu keesokan paginya. Saya pergi ke rumah, dan rumah itu terdiri dari dua rumah dengan satu pintu bersama di antara keduanya. Saya dan Syekh Rasyid tinggal di salah satunya, sementara rumah yang satu lagi ditinggali oleh Sayyid Rahimi dan Sayyid Musawi Syali (dan mereka juga diasingkan ke Iransyahr sebulan setelah Syekh Rasyid. Sayyid Rahimi menjadi syahid setelah kemenangan Revolusi Islam ketika dia menjabat sebagai wakil di Dewan Syura Islam). Saya menemukan rumah itu selamat, air tidak masuk ke dalamnya. Air hanya sampai di dekatnya.

Tersebar berita di kota itu bahwa rumah orang-orang buangan tidak dimasuki air banjir, dan mereka menganggap hal itu karena kami memiliki karamah. Namun saya mengklarifikasi masalah ini kepada orang-orang dan mengatakan kepada mereka, “Air banjir tidak masuk ke dalam rumah kami karena posisinya di tempat yang tinggi sehingga tidak terjangkau oleh air banjir, bukan karena kami memiliki karamah.”

Pusat Bantuan

Keesokan paginya, saya bersama Rahimi dan Rasyid pergi ke luar kota untuk melihat rumah-rumah yang tersapu oleh banjir di lembah kota. Rumah-rumah itu memiliki andil paling besar terhadap terjadinya bencana tersebut, karena kota ini secara historis rentan terhadap hujan. Air hujan mengalir melalui lembah dan melintasi kota, dan kota ini tetap aman selama berabad-abad. Oleh karena itu, setiap bangunan di jalur “aliran” ini dilarang karena akan menyumbat aliran air dan membelokkannya ke dalam kota. Namun, sekelompok orang yang mencari tanah gratis mengambil risiko dengan membangun rumah mereka di lembah dan sebagian mereka masih melakukan hal tersebut di beberapa kota tanpa menyadari bahwa dia tidak hanya membahayakan dirinya sendiri melainkan membahayakan seluruh kota.

Kami pergi ke lembah dan menemukan bahwa rumah-rumah yang dibangun di sana telah menjadi puing-puing. Saat kami berdiri di sana, kami melihat di kejauhan sebuah keluarga Baluch tiba, yang terdiri dari perempuan, laki-laki, dan anak-anak. Di pangkuan laki-laki itu ada seorang anak yang sedang tidur, sementara beberapa perempuan menangis dan meratap. Ketika mereka mendekat, kami tahu bahwa anak yang digendong oleh laki-laki itu sudah meninggal. Pemandangan ini menyentuh batin saya, dan saya mulai menangis tersedu-sedu.

Saya sangat sensitif terhadap anak-anak dan perempuan. Saya benar-benar tidak tega melihat keburukan yang menimpa anak-anak atau perempuan. Saya pernah berkata berkali-kali kepada teman-teman, “Saya tidak cocok untuk mengadili kasus antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, karena saya tentu akan berpihak pada perempuan.” Demikian pula anak-anak, saya tidak sanggup melihat bencana menimpa mereka bahkan dalam adegan akting film, sehingga saya merasa sangat sedih ketika melihat anak yang meninggal dalam bencana di lembah itu, dan saya mulai menangis dengan keras. Keluarga itu memahami tangisan dan kesedihan saya, dan Rasyid berkata kepada saya, “Mereka terkejut saat melihat Anda lebih menderita daripada mereka.” Lalu berita tentang tangisan saya tersebar di antara orang-orang Baluch.

Kami kembali ke kota. Panitia bantuan yang kami bentuk memberitahu kami bahwa 80 persen rumah di kota itu telah ambruk dan rumah-rumah yang tidak ambruk pun, seluruh bagian dalamnya terendam banjir. Sebagian besar rumah di Iran adalah satu lantai.

Tiba-tiba terpikir oleh saya bahwa orang-orang di kota ini belum makan sejak siang kemarin, dan mereka pasti lapar. Saya melihat para pemilik toko roti telah menutup toko mereka karena banjir. Air telah memasuki toko dan gudang dan kondisi ini akan bertahan selama berhari-hari, sehingga warga kota ini terancam kelaparan. Saya berkata kepada teman-teman, “Mari kita sebarkan slogan: ‘Selamatkan Kota dari Kelaparan,’ dan hendaklah kita mengumpulkan makanan dengan cara apa pun yang kita bisa.”

Saya melihat orang-orang tersebar di jalan-jalan tercengang dan terpana. Bencana telah membuat mereka lupa terhadap rasa lapar. Di sisi jalan, saya melihat sebuah toko kelontong yang berhasil lolos dari terjangan banjir karena posisinya yang tinggi dan pemiliknya berdiri di depan pintunya, melihat ke kiri dan ke kanan, tidak tahu harus berbuat apa. Saya datang kepadanya dan berkata, “Apakah ada sesuatu di tempat Anda yang bisa dimakan?” Dia menjawab, “Hanya biskuit.” Saya berkata, “Keluarkan semua yang Anda miliki!” Saya membeli semua kotak biskuit darinya, dan tidak banyak. Saya membagikannya di tempat yang sama kepada para korban banjir yang kehilangan tempat tinggal. Ini sekedar pertolongan pertama saja, bukan penanggulangan kelaparan bagi warga kota.

Saya pergi ke kantor pos dan menelepon Syekh Kaf’ami, seperti yang sudah saya sebut di Zahedan, dan dia adalah ulama besar yang dikenal di seluruh provinsi Baluchistan. Saya memberitahu dia tentang dimensi bencana tersebut dan mengatakan kepadanya, “Kami membutuhkan roti dan kurma dan jika mungkin, keju secepat mungkin.” Saya memintanya untuk menghubungi Syekh Shaduqi di Yazd, dan untuk menelepon ke Masyhad dan Tehran serta memberitahu semua orang bahwa kami membutuhkan makanan. Saya mengulangi beberapa kali dengan suara nyaring, “Katakan kepada semua orang bahwa saya tidak sabar menunggu roti dan kurma.”

Ketika saya meletakkan gagang telepon, saya melihat orang-orang di belakang saya mendengarkan dengan takjub upaya saya untuk meminta bantuan dan besarnya perhatian saya. Mereka saling pandang satu sama lain dengan kekaguman dan keheranan. Wajar jika berita tentang kegiatan saya kemudian tersebar di kota dalam waktu kurang dari satu jam. Hati para warga menaruh perhatian pada upaya saya ini, karena mereka sadar akan ketidakmampuan ulama mereka dan para aparat berwenang untuk memberikan bantuan segera. Para ulama tidak mampu dan para aparat tidak memberikan perhatian. Mereka tidak berdaya.

Saya pergi ke Masjid Al Al-Rasul untuk mempersiapkannya sebagai pusat bantuan. Semua mata tertuju ke masjid itu. Hanya dua atau tiga jam berselang, datanglah sebuah truk berisi roti, kurma, semangka dan keju. Kami memasang pelantang suara di masjid untuk memutar lantunan Alquran. Kemudian kami mau mengumumkan bahwa masjid telah menjadi pusat dukungan dan bantuan bagi warga dengan makanan untuk menyelamatkan mereka. Saya berkata kepada teman-teman, “Berikan makanan kepada siapa saja yang datang kepada Anda dan jika ada yang berkata, ‘Ini sedikit,’ beri dia lebih banyak. Dan jika dia datang lagi kepadamu, berilah dia dan jangan katakan padanya, ‘Kamu sudah mengambilnya,’ untuk menghindari timbulnya keinginan dari yang lain.” Tentu saja saya diyakinkan bahwa teman-teman di kota-kota lain akan mendukung kami. Demikianlah kami memulai proses bantuan.

Saya sendiri membagi pekerjaan dengan cermat di antara teman-teman, dan kami memiliki organisasi yang serius. Saya memanfaatkan pengalaman saya sebelumnya di Firdaus pada tahun 1388 H/1968 M. Aksi itu berlangsung selama 50 hari. Dalam masa itu, kami mengunjungi para warga di rumah-rumah, tempat-tempat penampungan, dan tenda-tenda, dan kami mendata jumlah anggota keluarga. Angka yang diberikan kepada kami terkadang tidak akurat, tetapi kami menganggapnya sahih dan tidak memeriksanya. Kami masuk ke kedalaman perasaan warga ini.

Kami membuat pembagian sesuai data yang telah kami catat, dan membuat kartu jatah, setiap keluarga menerima bagiannya sesuai kartunya. Selama periode ini, kami membagikan banyak lentera, selimut, perkakas, perabot dan kebutuhan hidup sederhana lainnya selain bahan makanan yang didistribusikan dari waktu ke waktu. Ada beberapa orang yang memalsukan kartu distribusi dan memalsukan tanda tangan saya di atasnya, tetapi tanda tangan saya, meskipun di permukaannya sederhana, memiliki simbol yang hanya saya yang mengetahuinya. Saya tahu bahwa tanda tangan itu palsu, tetapi saya tidak memberitahu mereka.

Pada hari-hari itu (hari-hari penyaluran bantuan), Syekh Hujjati datang dari Sanandaj ke Iransyahr. Dia jatuh sakit di pengasingan kedua (Sanandaj) dan meminta izin untuk datang ke Kerman, sehingga mereka mengizinkannya dan dari sana dia datang ke Iransyahr untuk mengunjungi kami. Kedatangannya adalah kesempatan bagi kami untuk memperbarui pertemuan dan kami begadang hingga pagi. Pada pagi hari, saya mengajaknya untuk pergi ke kota dan berkeliling dengan mobil saya. Saya mempersilakan dia duduk di samping saya dan mengemudikan mobil. Dia terheran-heran ketika melihat orang-orang, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, melambaikan tangan mereka kepada kami untuk memberikan salam ketika mereka melihat mobil kami. Dia heran dan berkata, “Apakah Anda ingat bahwa orang-orang pada awalnya bersikap skeptis kepada kita dan bahkan tidak mau memberi salam?” Saya menjawab, “Ya, saya ingat. Tetapi beginilah posisi seseorang di hati masyarakat ketika dia berbagi dengan mereka dalam suka dan duka mereka.”

Pada akhir dari lima puluh hari penyaluran bantuan dan dampak banjir telah terlampaui, kami mengadakan pesta besar di situ, saya menyampaikan pidato. Rekaman pidato serta foto-foto perayaan itu masih ada. (*)

Sumber: Buku Memoar Imam Ali Khamenei, Catatan di Balik Penjara

Fraksi Demokrat Kritik Pemerintah soal Anggaran Pembangunan IKN Nusantara

BERITAALTERNATIF.COM – Fraksi Demokrat di DPR mengkritik anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) Nusantara dalam Rancangan APBN 2024.

Kritikan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-2 tentang pemandangan umum fraksi-fraksi atas RAPBN 2024 serta nota keuangan di Kompleks DPR Senayan, Jakarta, pekan lalu.

Menurut Fraksi Partai Demokrat, anggaran yang disiapkan yakni Rp 40 triliun sangat besar. “Anggaran untuk IKN Rp 40 triliun itu sangat besar,” kata perwakilan Fraksi Partai Demokrat Suhardi Duka yang membacakan pandangan umum fraksinya.

Dia mengatakan anggaran untuk IKN itu sangat kontras dengan anggaran yang disediakan pemerintah untuk pembangunan dan pemerataan daerah lainnya. Ia berharap pembangunan ini tidak dilakukan hanya untuk mengejar hal yang seremonial belaka, seperti upacara HUT Kemerdekaan 2024.

“Jangan sampai pembangunan hanya mengejar hal yang bersifat seremonial saja, seperti upacara bendera di IKN tahun depan,” katanya.

Ia menyebutkan pembangunan harus mengedepankan aspek kualitas. Perencanaan dan prosedur pembangunan harus diutamakan. Dia mengatakan jangan sampai pembangunan ini berakhir dengan kualitas buruk hanya karena mengejar target penyelesaian.

“Kita lihat contoh lainnya yaitu Jalan Tol Trans Sumatera yang kualitasnya jauh dari harapan,” ungkapnya.

Tanggapan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab kritikan Fraksi Demokrat di DPR mengenai pembiayaan IKN dalam RAPBN 2024. Sri Mulyani mengatakan pemerintah selalu disiplin dalam membiayai proyek ibu kota baru tersebut.

“Pemerintah terus disiplin dalam melakukan pembiayaan IKN sesuai dengan tahapan yang tercantum dalam rencana induk pembangunan IKN,” kata Sri Mulyani dalam rapat paripurna DPR tentang tanggapan pemerintah terhadap pemandangan umum fraksi-fraksi atas RAPBN 2024 di Gedung DPR, Selasa (29/8/2023).

Dia mengatakan pemerintah menghargai pendapat sejumlah fraksi tersebut terkait proyek IKN. Ia menjelaskan dukungan dan pemenuhan anggaran pembangunan IKN akan dilakukan dengan mendorong sinergi serta kombinasi berbagai instrumen pembiayaan yang kreatif.

“Dukungan dalam pemenuhan anggaran dilakukan dengan terus mendorong sinergi dan kombinasi berbagai instrumen pembiayaan yang kreatif, namun tetap terjaga,” ujarnya.

Sri Mulyani juga mengatakan untuk membiayai pembangunan itu pemerintah mendorong pelibatan swasta, serta memberdayakan Sovereign Wealth Fund.

Kata dia, pemerintah juga terus mengembangkan pembiayaan kreatif dalam pengelolaan dan pembangunan IKN. (*)

Sumber: CNBC Indonesia

Dalam 10 Tahun PDB Per Kapita Indonesia akan Capai Rp 163 Juta

BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memprediksi Indonesia akan memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita sebesar US$ 10.900 dalam 10 tahun mendatang jika konsisten melakukan program hilirisasi. Angka tersebut setara Rp 163 juta dengan asumsi kurs Rp 15 ribu per dolar AS.

Menurut Jokowi, target tersebut bisa dicapai asalkan pemimpinnya konsisten, tidak ragu-ragu, tidak penakut dan maju terus meski digugat oleh berbagai pihak.

Jokowi mengatakan sejak program hilirisasi digulirkan, khususnya hilirisasi nikel, Indonesia sudah menghadapi berbagai tantangan seperti gugatan dari World Trade Organization (WTO), Uni Eropa, serta mendapat peringatan dari International Monetary Fund (IMF).

Kendati, pihaknya akan konsisten melaksanakan program tersebut. Apalagi, menurutnya, dengan hilirisasi PDB Indonesia akan melonjak hingga US$ 10 ribuan dalam 10 tahun mendatang.

“Kemudian 15 tahun yang akan datang akan masuk ke US$ 15.800 atau Rp 217 juta, dan pada saat Indonesia emas hitungan kita sudah mencapai US$ 25 ribu income per kapita kita atau Rp 331 juta. Artinya, kita sudah masuk jadi negara maju,” kata Jokowi dalam pidatonya, Rabu (30/8/2023).

“Kami tidak bisa berharap akan mendapatkan perlakuan istimewa tanpa usaha keras kami sendiri. Tidak akan ada negara yang memberi kami karpet merah kecuali kami meraihnya dengan usaha sendiri,” imbuhnya. (*)

Sumber: CNN Indonesia

Israel Diprediksi akan Kalah jika Kobarkan Perang Besar-besaran

BERITAALTERNATIF.COM – Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) memperingatkan bahwa Rezim Zionis Israel akan menderita “kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika mereka memulai “perang habis-habisan” di tingkat regional.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan jaringan berita televisi Al-Mayadeen Lebanon, Ahad (27/8/2023), Wakil Kepala Biro Politik Hamas Saleh Al-Arouri mengatakan bahwa rasisme dan fasisme para pemimpin Rezim Zionis Israel akan “menyebabkan perang habis-habisan di kawasan jika mereka terus melanjutkan kebijakan radikal dan ekstremis mereka.

“Aliansi Perlawanan dipersiapkan dan dimotivasi oleh alasan, kemauan, dan kepentingan bersama untuk andil dalam perang regional, dan pihak-pihak yang aktif telah siap dan bersiap untuk itu,” ungkapnya.

“Jika kita mencapai titik konfrontasi habis-habisan, Israel akan mengalami kekalahan yang belum pernah terjadi dalam sejarahnya, dan kami yakin akan hal itu,” lanjutnya.

Al-Arouri mengatakan bahwa pihaknya sedang mendiskusikan prospek perang dengan semua pihak terkait.

“Perang besar akan menjadi kekalahan bagi Israel, dan kami melihat perang klasik telah berubah, dan hal ini dibuktikan dengan konflik di Ukraina,” tambahnya.

Dia mengatakan meskipun tentara pendudukan telah memobilisasi kekuatannya di bagian utara Tepi Barat untuk menetralkan resistensi, namun resistensi terus tumbuh lebih kuat dan teguh.

“Proliferasi Perlawanan di seluruh Tepi Barat adalah mimpi buruk bagi pendudukan, menimbulkan kepanikan dan ketakutan (Israel),” ujarnya.

Pejabat Hamas itu menyerukan kepada para pemuda Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat untuk ikut andil dalam perlawanan “dengan cara apa pun yang memungkinkan”.

Dia menyebutkan bahwa sepak terjang Israel kandas dalam upaya Yudaisasi di Tepi Barat dan penyingkiran orang Palestina.

Ia juga menjelaskan, kabinet sayap kanan Israel yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertujuan untuk mengusir warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki, meningkatkan permukiman, dan mendapatkan kendali atas Masjid Al-Aqsa.

“Rezim ekstremis ini akan mengalami kekalahan telak, yang akan menyebabkan penarikan diri mereka dari seluruh Tepi Barat,” sambungnya.

Penindasan Israel terhadap warga Palestina meningkat tajam di bawah kabinet koalisi ekstremis Netanyahu, yang terdiri dari partai-partai Zionis sayap kanan yang menentang negara Palestina dan mendukung perluasan pemukiman ilegal di wilayah pendudukan.

Selama beberapa bulan terakhir, Israel mengintensifkan serangan terhadap kota-kota Palestina hingga menyebabkan puluhan warga Palestina kehilangan nyawa dan banyak lainnya ditangkap.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tahun 2023 sudah menjadi tahun paling mematikan bagi warga Palestina di Tepi Barat sejak PBB mulai mencatat jumlah korban jiwa pada tahun 2005.

Tahun 2022 merupakan tahun paling mematikan di mana 150 warga Palestina gugur, 33 di antaranya adalah anak di bawah umur. (*)

Sumber: Liputan Islam

Survei LSI: Siapa pun Lawannya, Prabowo akan Menangkan Pilpres Putaran Kedua

SINTESANEWS.ID  Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyatakan Prabowo Subianto akan memenangi Pilpres 2024 jika lolos ke putaran kedua siapa pun lawannya.

Jika berhadapan dengan Anies Baswedan, elektabilitas Prabowo mencapai 53,1 persen. Berhadapan dengan Ganjar, elektabilitas Prabowo ada di angka 47,3 persen.

“Kalau yang berhadapan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, maka untuk sementara Prabowo masih unggul 5,1 persen, hampir dua kali margin of error keunggulannya. Jadi, cukup meaningful,” jelas Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan, Rabu (30/8/2023).

Djayadi mengatakan Ganjar hanya bisa memenangi putaran kedua jika berhadapan dengan Anies.

Dia menjelaskan bahwa putaran kedua berpotensi terjadi apabila Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto resmi terdaftar di KPU sebagai calon presiden. (*)

Sumber: CNN Indonesia

Menghormati Hukum

Oleh: Ibrahim Amini*

Orang-orang dalam sebuah masyarakat beradab tak dapat hidup tanpa hukum. Di mana pun berlaku hukum rimba, di situ tak akan ada masyarakat yang beradab. Menjalankan administrasi yang baik dalam masyarakat sesuai dengan ketetapan hukum merupakan hal yang mutlak penting. Hukum-hukum tersebut dimaksudkan untuk menegakkan aturan dan menyediakan perlindungan bagi penetapan dan pelaksanaan hukuman terhadap pihak yang bersalah.

Hukum-hukum juga mutlak dibutuhkan bagi terciptanya kenyamanan dan keamanan rakyat banyak. Dalam negara-negara yang terjalin saling pengertian yang baik di antara para pembuat hukum dan masyarakat, aturan-aturan hukum dibuat demi kepentingan masyarakat yang pada gilirannya akan mematuhinya. Alhasil, orang-orang di sebuah negara  secara umum akan hidup dalam kebaikan bila terikat dengan hukum.

Dalam negara-negara di mana para pembuat hukum diam-diam bekerja dengan motif pribadi, lalu sewaktu menyusun undang-undang tidak memikirkan kesejahteraan penduduk, niscaya masyarakatnya tak akan menghormati hukum sehingga kerusuhan atau ketidaktenteraman akan menggejala di mana-mana. Sayangnya, negara kita pada awalnya menghadapi situasi yang sama (dalam hal ini, yang dimaksudkan penulis adalah keadaan Iran selama masa kekuasaan Syah Iran).

Kebanyakan hukum yang dibuat tidaklah Islami, atau bukan ditujukan untuk kebaikan masyarakat. Hukum-hukum diformulasikan demi kepentingan pihak penguasa dan disesuaikan dengan kemauan kalangan imperialis dan antek-anteknya. Tak secuil pun perhatian diberikan pada keadaan para buruh, pekerja, dan rakyat banyak yang tertindas.

Para pembuat hukum berupaya memperdaya dan membungkam penduduk dengan memberlakukan hukum-hukum yang menindas dan menekan. Namun, lantaran masyarakat Iran merasakan bahwa undang-undang non-islami itu berlawanan dengan kepentingannya, mereka pun tidak menghormati, apalagi mematuhinya. Memang, terdapat beberapa ketetapan hukum dalam undang-undang tersebut yang terbilang baik bagi masyarakat. Namun, disebabkan sistem yang berlaku sudah secara total memusuhi masyarakat, mereka pun menolaknya secara keseluruhan.

Penghormatan terhadap hukum-hukum yang absah dan berpihak pada masyarakat sangatlah penting. Dalam hal ini, para orang tua harus menjelaskan semua itu kepada anak-anaknya. Tatkala melihat orang tuanya menyeberang jalan hanya lewat jembatan atau jalur penyeberangan (zebra crossing), niscaya si anak akan merasa bahwa dirinya juga harus melakukan seperti itu. Ia menjadi terbiasa mengikuti aturan-aturan bagi keselamatan semacam ini dan tak akan pernah melanggarnya.

Para orang tua harus mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mobil-mobil dan kendaraan yang bergerak cepat lainnya punya hak untuk melewati jalan raya dan para pejalan kaki hanya dibolehkan menggunakan sarana penyeberangan ketika bermaksud menyeberang ke sisi lain jalan raya.

Para pejalan kaki yang bersikap seenaknya di jalan raya cenderung melakukan pelanggaran dan juga dapat terkena risiko kecelakaan. Apabila memahami keuntungan dari menghormati dan mematuhi hukum, si anak kelak akan menjadi warga negara yang baik.

Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Kebiasaan adalah fitrah kedua!” (*Tokoh Pendidikan Islam)

Sikap Saling Menghormati

Oleh: Ibrahim Amini*

Tentunya setiap orang tua berharap agar anak-anaknya memiliki tingkah laku yang baik. Anak-anak yang baik dan santun merupakan sumber kebanggaan setiap orang tua. Anak-anak yang bertingkah laku baik, secara santun, akan menyalami setiap orang yang dikunjunginya, menjabat tangannya, menanyakan kabarnya, berbicara lembut dengannya, membatasi percakapan hanya pada apa yang ditanyakannya, serta mengucapkan salam sewaktu meninggalkan rumah yang dikunjunginya itu.

Anak-anak semacam itu akan memberikan penghormatan yang selayaknya terhadap orang-orang yang lebih tua; menyambutnya dengan hangat dan penuh sopan santun ketika mereka (orang-orang yang lebih tua) menemuinya, menghormati dan sangat respek terhadap para ulama, figur-figur keagamaan, serta orang-orang yang bijak dan bajik.

Dalam sebuah pertemuan, mereka tetap tenang dan penuh perhatian, tidak berbicara nyaring, berterima kasih terhadap siapa pun yang memberinya sesuatu, serta tidak menyela pembicaraan orang lain, khususnya orang-orang yang lebih tua umurnya.

Sebelum makan, mereka biasa mengucapkan basmalah (Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang) dan berdoa. Baru setelah itu, mereka mengambil beberapa butir makanan. Mereka tidak makan secara berlebihan, tidak melempar makanan ke atas meja atau ke lantai, dan mengikuti seluruh tata krama di meja makan.

Mereka selalu memperhatikan pakaiannya (tidak mau mengenakan pakaian kotor) dan mengusahakannya agar tetap bersih dan rapi. Mereka akan memperlakukan orang lain dengan baik dan tak pernah menyakiti perasaannya. Mereka berjalan dengan gaya yang sedemikian santun sehingga mengesankan dirinya sebagai anak yang baik dan patuh. Mereka tidak mengejek atau menertawakan selainnya dengan lelucon-lelucon tidak berguna dan ketika seseorang berbicara kepadanya, mereka akan menyimaknya dengan perhatian penuh.

Tentu saja bukan hanya orang tua yang menyukai anak-anak yang santun, melainkan juga semua orang yang pernah bertemu dan bergaul dengannya. Sebaliknya, anak-anak yang lancang dan tidak sopan dibenci semua orang.

Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Kemuliaan merupakan puncak kemanusiaan.”

“Rasa hormat (kesantunan) dalam diri manusia ibarat pakaian yang indah.”

“Perilaku yang baik (kesantunan) dibutuhkan manusia lebih dari emas atau perak.”

“Tak ada perhiasan yang lebih baik dari kesantunan dalam diri manusia.”

“Warisan terbaik yang diberikan seorang ayah kepada putranya adalah melatihnya menjadi sosok yang santun.”

“Orang yang tidak santun akan memiliki banyak kekurangan.”

Imam Ja`far Shadiq mengatakan, “Izinkanlah anak-anakmu bermain hingga berusia tujuh tahun, kemudian ajarkanlah kesantunan dan tata krama yang baik.”

Nabi Islam yang suci saw mengatakan, “Seorang anak memiliki tiga hak atas orang tuanya: (1) (Orang tua) memberinya nama yang baik; (2) menjadikannya santun; (3) memilihkan jodoh yang baik untuknya.”

Menjadi Teladan bagi Anak

Harapan terdalam setiap orang tua adalah bahwa anak-anaknya tumbuh menjadi sosok yang santun dan penuh tanggung jawab. Namun, harapan ini tak akan terwujud tanpa upaya yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Tentu mustahil untuk menanamkan karakter ini dalam diri anak-anak dengan hanya menceramahinya. Cara terbaik untuknya adalah dengan menyuguhkan teladan ideal di hadapan anak-anak, lewat perilaku orang tua yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-harinya.

Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Perilaku terbaik adalah yang dimulai dari diri kalian sendiri.”

“Mulailah mengajari diri sendiri, baru kemudian mengajari orang lain. Pertama kali, sempurnakanlah watakmu, baru kemudian ajari dan nasihati selainmu.”

Anak-anak merupakan para peniru alamiah. Kemampuan meniru sangat kuat melekat dalam dirinya. Karenanya, anak-anak cenderung meniru cara-cara (perilaku) orang tua dan orang lain di sekelilingnya; berbicara atau berjalan seperti mereka.

Pengajaran, tentu saja, merupakan aspek penting bagi pelatihan. Namun, itu tidak sekuat kapasitas meniru dan belajar, khususnya pada tahap awal masa kanak-kanak. Para orang tua yang amat berharap anak-anaknya menjadi sosok yang santun dan berperilaku baik, harus memperhatikan betul bahwa mereka sebenarnya sedang melatih anak-anaknya lewat contoh-contoh pribadi. Bila orang tua bersikap santun satu sama lain, secara alamiah, anak-anak akan meneladani dan mengikutinya.

Orang tua yang dirinya sendiri tidak memiliki kesantunan dan perilaku yang baik, jangan berharap anak-anaknya bakal berperilaku baik. Kalaupun mereka menguliahi anak-anaknya ratusan kali tentang aturan-aturan kesantunan dan perilaku yang baik, namun anak-anak tersebut tetap akan berperilaku sesuai apa yang disaksikannya dari sikap dan perilaku orang tua serta anggota keluarga lainnya di lingkungan rumah. Dengan berperilaku kasar dan bersikap tidak santun satu sama lain, kedua orang tua pada dasarnya sedang menyuguhkan contoh negatif kepada anak-anaknya yang sedang tumbuh.

Anak-anak yang berasal dari keluarga semacam itu akan berperilaku seburuk orang tuanya, atau barangkali lebih buruk lagi. Setiap upaya membenahi mereka niscaya tak akan diindahkannya. Secara alamiah, mereka akan berpikir bahwa kedua orang tuanya menyuruhnya melakukan apa yang mereka sendiri tidak melakukannya.

Contoh Itu Baik, tapi Nasihat juga Baik

Contoh selalu lebih baik dari perintah atau nasihat. Namun keliru juga bila menganggap bahwa nasihat sepenuhnya tidak akan berpengaruh. Orang tua yang baik, yang juga menyuguhkan contoh teladan kepada anak-anaknya, akan selalu mengajak mereka berbicara tentang aturan-aturan berperilaku yang baik dan mereka pasti akan menerima nasihat-nasihatnya. Nasihat-nasihat juga harus disampaikan dengan cara lembut.

Memang, ada sebagian orang tua yang memperlihatkan amarah dan sikap kasarnya sewaktu menegur anak-anaknya yang melakukan suatu kesalahan. Kadang kala mereka mengatakan, “Dasar anak bandel! Kenapa engkau tidak menyalami tamu? Apakah mulutmu bisu? Dasar anak bodoh dan tak malu! Kenapa kau meregangkan kakimu dengan cara tidak sopan di depan tamu yang lebih tua darimu? Kenapa kamu berisik waktu mengunjungi rumah tetangga? Dasar lancang! Berani-beraninya kau memotong pembicaraan!”

Orang tua bodoh seperti itu menganggap bahwa mereka sedang menasihati anak-anaknya dengan perkataan semacam itu. Mereka tidak tahu bahwa perilaku yang baik tidak diajarkan dengan cara buruk. Bila berbuat salah lantaran kesembronoannya, si anak harus diperingatkan dengan cara lembut, tenang, dan penuh bersahabat.

Nabi Islam saw lazim menyalami anak-anak seraya mengatakan, “Saya selalu menyalami anak-anak agar itu menjadi kebiasaan mereka.” (*Tokoh Pendidikan Islam)