Search

Alumni UAD Aset Berharga Bangsa Indonesia

Oleh: Andri Khan*

Tanggal 20 Agustus 2022 menjadi momentum penting bagi alumni Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Satu perhelatan digelar oleh para alumni untuk membentuk satu kepengurusan dalam kegiatan bertajuk Temu Alumni Lintas Generasi UAD di NTB, dan Pengukuhan Pimpinan Daerah KAMADA NTB. Acara ini dijadwalkan dihadiri Gubernur NTB, Rektor UAD, Ketua PP Keluarga Alumni Universitas Ahmad Dahlan (KAMADA) dan para alumni UAD.

Bagi warga NTB, UAD bukanlah perguruan tinggi yang asing. Banyak mahasiswa berasal dari provinsi ini berkuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah ini. Sementara itu, bagi UAD, NTB bukanlah tempat yang jauh. Bahkan saat Lombok mengalami bencana alam, UAD secara cepat mengirimkan bantuan dan mendirikan posko kesehatan.

Advertisements

UAD sebagai salah satu perguruan bergengsi dengan menyandang akreditasi A telah membuktikan peran yang sesungguhnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Ribuan alumninya tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan mancanegara. Mereka menjadi bagian penting bagi pembangun bangsa dalam berbagai bidang. Mereka menjadi guru, dosen, apoteker, pejabat publik, teknokrat, seniman, dsb.

Kampus ini diawali dari Fakultas Ilmu Pendidikan saat masih bernama IKIP Muhammadiyah. Seiring waktu berjalan, UAD mampu melahirkan pendidik yang berkarakter dan kompeten yang turut menyiapkan generasi di berbagai pelosok Tanah Air. Hingga kini, perguruan tinggi ini berkembang pesat karena mempunyai banyak fakultas dan prodi dari program sarjana, pascasarjana, hingga doktoral. 

Alumni UAD telah mengaktulisasikan nilai-nilai yang mereka dapatkan selama mahasiswa yakni nilai Al Islam dan Kemuhammmadiyahan. Mereka yang pernah mengenyam pendidikan Muhammadiyah adalah pelanjut perjuangan mewujudkan cita-cita untuk menjadikan negeri ini makmur dan sejahtera yang diridai Allah SWT.

Sebagai penerus cita-cita Muhammadiyah, maka di mana pun alumni berada selalu berupaya menjadi guru, pelaku dakwah dan pemberi pengaruh nilai-nilai yang positif. Mereka menjadi warga negara yang senantiasa berperan aktif bagi bangsa tanpa harus menunggu pujian dan tanpa harus melihat orang lain bergerak, baru kemudian tergerak. Mereka menjadi pelopor kebaikan, bukan sekedar pengikut.

Alumni UAD dapat belajar dari para pendahulunya yang tidak mudah patah semangat dan mempunyai visi besar. Bersiap selalu melakukan kaderisasi, menyiapkan generasi penerus yang tangguh. KH. Ahmad Dahlan berpesan, “Hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan di mana dan ke mana saja. Jadilah dokter, sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan profesional, lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu”.

Kembali ke Muhamamdiyah bukan berarti sempit hanya bekerja dan berkarir di organisasi itu saja. Lebih jauh lagi akan lebih bermakna ketika “Muhammadiyah” difahami sebagai sebuah etos. Karena ia menanamkan nilai semangat untuk bekerja keras, beramal secara optimal, dan melakukan yang terbaik (fastabiqul khairat) dalam membangun masyarakat. Bekerja keras dengan jiwa raga dan harta untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadaban, yang mempunyai akhlak mulia dan ilmu pengetahuan yang luas, sehingga menjadi rahmatan lil alamain.

Para alumni UAD harus senantiasa sadar bahwa realitas sosial bersifat dinamis dan terbuka untuk dipengaruhi dengan hal-hal yang baik. Dunia atau realitas lahir dari kesadaran manusia, kreasi manusia dan dapat diubah oleh manusia. Alumni dapat merekayasa realitas untuk kepentingan kemanusiaan dan kebermanfaatan bagi alam semesta. Alumni mempunyai potensi yang dapat mengubah masyarakat menjadi lebih baik.

Sejak awal mulanya, karakter peka terhadap realitas sosial kental diajarkan dalam pendidikan Muhammadiyah. Tokoh-tokoh besar di Indonesia tak lepas dari pengaruh pendidikan Muhammadiyah, baik secara formal maupun informal, seperti presiden Soekarno, Jenderal Sudirman, Buya Hamka, Ki Bagus Hadikusumo dan masih banyak lagi bermunculan hingga masa kini. Mereka mempunyai kepedulian yang besar terhadap problem sosial kebangsaan.

Begitu pula para alumni UAD. Mereka digerakkan untuk memiliki kepekaan terhadap realitas sosial dan dapat membaca serta menguraikan struktur serta kelompok yang berkepentingan dalam realitas.

Kepekaan terhadap realitas tidak berhenti pada wacana saja. Muhammadiyah memberikan inspirasi melalui  gerakan amalnya membuktikan praksis gerakannya dalam upaya menjadikan kesalehan individu terlengkapi oleh kesalehan sosial.

Sikap peduli merupakan ruh bahwa ia harus berbuat dalam aksi mengubah realitas sosial. Berawal dari sikap empati dan merasa bertanggung jawab terhadap realitas sosial yang terjadi, maka berpikir dan bertindak tentang apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi dan mengubah realitas tersebut, sehingga menuju keadaan yang lebih baik untuk kemanusiaan dan alam. Inilah semangat Muhammadiyah dalam menjadikan Islam yang berkemajuan. 

Alumni UAD adalah sebagian dari hasil gerakan amal Muhammadiyah dalam bidang pendidikan. Ia merupakan suatu tindakan nyata dalam melakukan transformasi sosial. Karakter gerakan amal merupakan simpul yang penting dan tidak boleh lepas karena itulah substansi agama sebagai rahmat. Bukan hanya menyampaikan ayat-ayat suci secara verbal namun yang lebih bermakna adalah mengamalkan ayat-ayat itu agar dapat menjadikan dunia ini lebih beradab. Dunia yang tanpa penindasan dan penuh dengan keharmonisan.

Pendidikan di Muhammadiyah mengajarkan agama memiliki spirit pembebasan, yang meniscayakan pola hubungan yang tidak saja vertikal kepada Tuhan, tetapi juga pola hubungan yang horizontal terhadap sesama manusia. Sehingga agama memiliki tanggung jawab sosial agar masyarakat memiliki perilaku sosial yang bertanggungjawab, transparan, dan berkeadilan.

Dari sinilah alumni UAD bergerak untuk mengejawantahkan agama yang membebaskan. Ia semestinya mampu menjawab problem-problem kemanusiaan, seperti ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan, dan kemiskinan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga agama tidak kehilangan orientasi horizontalnya dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Kesadaran terhadap semangat agama yang membebaskan ini sejak jauh-jauh hari dicontohkan oleh KH. Ahmad Dahlan, misalnya pada saat mengajarkan surat Al Maun kepada para santrinya. Dari adegan yang menyejarah itu, KH. Ahmad Dahlan telah menanamkan karakter transformatif yang dinternalisasikan kepada para santrinya. 

Pendidikan yang dilakukan Muhammadiyah adalah pendidikan yang bervisi transformatif, yang tidak hanya mengandalkan aspek teoritis untuk memberikan materi-materi agama kepada masyarakat, yang berhenti pada penyebaran pesan-pesan keagamaan saja, namun juga menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, pendidikan Muhammadiyah dilandasi oleh nilai-nilai agama yang tidak hanya untuk memperkukuh aspek religiusitas masyarakat semata, melainkan juga memperkukuh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial.

Etos Muhammadiyah inilah yang kemudian bisa dimaknai bukan hanya melakukan aktivitas penyebaran materi keagamaan, tetapi juga melakukan pendampingan masyarakat terkait isu-isu sosial seperti anti korupsi, peduli lingkungan hidup, dan problem kemanusiaan lainnya yang lebih luas.

Dengan demikian, agama akan menemukan kembali fungsinya menjadi rahmat bagi alam semesta, serta berwajah damai dan beradab. Akhirnya, selamat atas pelantikan pengurus KAMADA NTB; selamat mengabdi dan berbakti untuk negeri. Semoga Allah meridai. (*Sekretaris PP KAMADA, Dosen PBI FKIP UAD, dan Jurnalis Beritaalternatif.com)

Advertisements

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

Advertisements

BERITA TERKAIT

Advertisements
POPULER BULAN INI
Advertisements
INDEKS BERITA