Search
Search

Dedi Nala Arung Ungkap Salah Kaprah Pengembangan Ekonomi Kreatif di Kukar

Seniman dan budayawan asal Kabupaten Kutai Kartanegara, Dedi Nala Arung. (Berita Alternatif/Riyan)
Listen to this article

BERITAALTERNTIF.COM- Seniman dan budayawan asal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Dedi Nala Arung membongkar salah kaprah masyarakat dan pemerintah daerah dalam memaknai dan menafsirkan ekonomi kreatif.

Dia menyebutkan bahwa terdapat 4 gelombang peradaban ekonomi dunia, antara lain ekonomi pertanian, industri, informasi, dan gelombang baru yang disebut ekonomi kreatif.

Menurutnya, tak sedikit orang yang keliru membedakan 4 jenis gelombang ekonomi tersebut, sehingga penafsiran masyarakat tentang seluruh gerakan ekonomi hanya terkotak pada konsep ekonomi konvensional, termasuk dalam menafsirkan gerakan ekonomi kreatif.

“Kita kadang gagal untuk memahami tahapan-tahapan ini sehingga menganggap ekonomi seperti yang awal-awal seperti kegiatan tukar menukar barang saja. Kaitannya lebih pada kebutuhan dasar dari masyarakat,” ucap dia sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Alternatif Talks pada Rabu (29/5/2024).

Padahal, menurut dia, ekonomi kreatif merupakan salah satu gerakan ekonomi yang menitikberatkan pada inovasi dan kreativitas pelaku ekonomi, bukan semata mengedepankan keuntungan penjualan suatu produk.

Ia menjelaskan, ruang lingkup ekonomi kreatif tidak berfokus pada usaha memperdagangkan barang. Namun, terletak pada kreativitas manusia dalam berinovasi untuk meningkatkan nilai tambah suatu produk.

Dedi mencontohkan harga kopi Kapal Api di warung yang hanya dijual Rp 5 ribu per gelas. Setelah mendapat sentuhan dari Kopi Sultan, harga per gelasnya menjadi Rp 15 ribu.

Hal itu disebabkan sentuhan kreativitas dan inovasi yang dilakukan Kopi Sultan dalam menyajikan kopi. “Meskipun kopi di Kopi Sultan isinya kopi Kapal Api juga, tapi kita tetap menyebutnya dengan Kopi Sultan. Artinya, ada pertambahan nilai di situ,” terangnya.

Dia menegaskan bahwa ekonomi kreatif mempunyai ruang yang sangat luas sehingga mampu menciptakan suatu ekosistem untuk mengangkat perekonomian lokal.

Sejak tahun 2016, tren ekonomi kreatif mengalami perkembangan yang pesat sehingga membuat pemerintah di berbagai daerah di Indonesia merumuskan beragam kebijakan untuk mengangkat sektor ekonomi kreatif ini dengan fokus utama pada pengembangan UMKM.

Untuk meningkatkan sektor ekonomi kreatif, Pemda Kukar berkolaborasi dengan Komite Ekonomi Kreatif untuk mengadakan konser yang mendatangkan artis lokal dan nasional.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan penghasilan UMKM yang berjualan di sekitar pentas konser yang disediakan Pemkab Kukar.

Dedi menganggap penyelenggaraan konser tersebut bukan merupakan langkah yang strategis dalam mengangkat sektor ekonomi kreatif di Kukar.

Selain program tersebut tidak memiliki dampak yang berkelanjutan bagi pelaku ekonomi di Kukar, produk-produk yang dijual pun merupakan produk dari perusahaan-perusahaan besar, bukan dari industri dan UMKM lokal.

Dia pun menyimpulkan bahwa Pemkab Kukar keliru dalam menafsirkan makna hakiki dari pengembangan ekonomi kreatif. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho

Editor: Ufqil Mubin

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA