Search
Search
Search
Close this search box.

Imam Muhammad Baqir as, Unggul dalam Keilmuan dan Kezuhudan

Makam Imam Muhammad Baqir as. ( wikishia)
Listen to this article

BERITAALTERNATIF.COM – Mengenal Imam Syiah yang kelima, yakni Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as yang terkenal dengan sebutan Imam Baqir as (57-114 H/733).

Beliau menjadi imam selama 19 tahun di mana masa keimamahannya bertepatan dengan era kelemahan pemerintahan Bani Umayah dan perebutan kekuasaan di antara mereka.

Pada periode tersebut, beliau telah membuat gerakan pengembangan ilmu yang sangat luas yang mencapai puncaknya pada periode keimamahan putranya Imam Shadiq as .

Dikatakan bahwa Imam Baqir as sangat tinggi dalam sisi keilmuan, kezuhudan, keagungan dan keutamaan.

Darinya telah banyak periwayatan yang dinukil dalam bidang ilmu agama seperti dalam ilmu fikih, tauhid, hadis dan sunah Nabi saw, ilmu Alquran, sejarah, akhlak dan sastra.

Pada masa keimamahannya, telah diambil langkah-langkah penting dalam penyusunan pandangan-pandangan Syiah dalam berbagai bidang pengetahuan, seperti akhlak, fikih, kalam, tafsir, dan sebagainya.

Para ulama Ahlusunah memberi kesaksian atas kemasyhuran ilmu dan agama Imam Baqir as. Ibnu Hajar Haitami berkata, “Abu Ja’far Muhammad Baqir menyingkap khazanah ilmu yang terpendam, hakikat-hakikat hukum dan mutiara-mutiara kebijaksanaan. Ia menghabiskan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Imam Baqir as telah sampai pada kedudukan para arif, dimana bahasa tidak mampu menjelaskan sifat-sifatnya. Ia pun mempunyai banyak memiliki kata-kata mutiara dalam hal suluk dan pengetahuan.”

Nasab, Julukan dan Gelar

Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang terkenal dengan sebutan Imam Baqir as adalah Imam Kelima Syiah, putra Imam Sajjad as. Ibunya bernama Ummu Abdillah adalah putri dari Imam Hasan al-Mujtaba as.

Imam Baqir as merupakan orang pertama dari Bani Hasyim yang lahir dari ayah dan ibu yang sama-sama berasal dari Bani Hasyim. Nasabnya dari kedua orang tua sampai kepada Imam Ali bin Abi Thalib as.

Di antara gelar Imam Baqir as yaitu Syakir, Hadi dan Baqir. Baqir merupakan gelarnya paling masyhur yang berarti “pembuka”.

Ya’qubi menulis bahwa Imam Baqir as digelari dengan Baqir al-Ulum karena menjadi pembuka atau penyingkap khazanah ilmu pengetahuan. Julukannya yang terkenal adalah Abu Ja’far.

Dalam sumber-sumber riwayat, beliau lebih dikenal dengan julukan Abu Ja’far awal.

Hari Lahir

Imam Baqir as lahir pada hari Jumat, 1 Rajab tahun 57 H/677, di Madinah. Sebagian lagi menyebutkan hari lahirnya pada tanggal 3 Shafar tahun 57 H/677. Beliau sempat hadir dalam peristiwa Karbala pada usianya yang masih kanak-kanak.

Penamaan

Bertahun-tahun sebelum kelahiran Imam Baqir as, Nabi Muhammad saw telah menetapkan nama Muhammad dan gelar “Baqir” untuknya. Riwayat dari Jabir dan riwayat-riwayat lainnya menjadi bukti dari pemberian nama ini.

Syahadah

Imam Baqir as wafat pada tanggal 7 Dzulhijjah tahun 114 H/733.[8] Namun terdapat pendapat lain yang berbeda tentang tahun wafat dan kesyahidan Imam Baqir as.

Mengenai siapa orang yang telah membunuh Imam Baqir as, terdapat beberapa riwayat dan sejarah yang beragam. Sebagian sumber menyebutkan Hisyam bin Abdul Malik sebagai pembunuh Imam Baqir as.

Sebagian lainnya menyebutkan Ibrahim bin Walid yang telah meracunnya.

Riwayat lain mencatat Zaid bin Hasan sebagai pelaku pembunuhan, karena memiliki dendam lama terhadap Imam Baqir as.

Yang jelas, wafat Imam Baqir as terjadi pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik.

Hal ini karena Hisyam memerintah dari tahun 105 H/724 – 125 H/743 dan Imam Baqir as wafat pada tahun 118 H/736.

Sekalipun terdapat riwayat yang berbeda-beda, namun tidak menutup kemungkinan semuanya adalah benar, karena bisa jadi pelaku pembunuhan terhadap Imam Baqir as tersebut tidak hanya seorang.

Dalam hal ini, setiap riwayat hanya menyebutkan salah satu dari pelaku pembunuhan saja. Dengan memperhatikan adanya kebencian Hisyam terhadap Imam Baqir as dan permusuhan Bani Umayah terhadap keluarga Imam Ali bin Abi Thalib as, tidak diragukan lagi bahwa terdapat dugaan kuat Hisyam yang melakukan pembunuhan terhadap Imam Baqir as secara tidak langsung dengan menyuruh orang lain.

Dalam melaksanakan rencana jahatnya tersebut, Hisyam menggunakan kekuatan bawahannya yang dapat dipercaya. Hisyam menunjuk Ibrahim bin Walid yang masih bagian dari Bani Umayah dan memiliki permusuhan dengan Ahlulbait as. Beliau memberikan perlengkapan kepada seseorang dari anggota rumah keluarga Imam Ali bin Abi Thalib as yang tidak memiliki hambatan dalam lingkungan kehidupan Imam Baqir as, juga tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Sehingga, dengan perantaranya ia berhasil melaksanakan rencana licik Hisyam dan membunuh Imam Baqir as.

Imam Baqir as dikuburkan di Baqi’ di samping kuburan ayahnya, Imam Sajjad as, dan kuburan paman dari ayahnya, Imam Hasan al-Mujtaba as.

Istri dan Anak

Sumber riwayat menyebutkan Ummu Farwah sebagai istri Imam Baqir as. Ia adalah ibu dari Imam Shadiq as. Ummu Hakim putri Usaid Tsaqafi juga disebut sebagai istri Imam Baqir as yang kemudian melahirkan dua putra Imam Baqir as. Imam juga memiliki istri lainnya dari hamba sahaya yang melahirkan tiga orang anak. Keturunan Imam Baqir as berjumlah tujuh orang, yaitu lima laki-laki dan dua perempuan.

Imamah

Imam Baqir as menjadi imam setelah ayahnya mati syahid. Ia menjadi pemimpin Syiah hingga wafat pada tahun 114 H/733 (atau 117 H/735).

Dalil Keimamahan

Syaikh al-Mufid menulis, “Imam Baqir as memiliki keunggulan di antara saudaranya dalam sisi keilmuan, kezuhudan, dan kemuliaan. Kedudukan dan kebesarannya lebih tinggi. Setiap orang memuji kebesarannya. Ia dihormati oleh masyarakat umum dan orang-orang khusus. Darinya terpancar ilmu-ilmu agama, sunah nabawi, ilmu Alquran, sejarah, akhlak dan sastra. Semua itu tidak nampak pada seorang pun dari keturunan Imam Hasan as dan Imam Husain as. Para sahabat Nabi saw yang tersisa, para pembesar dari tabi’in dan ulama fikih kaum muslimin meriwayatkan darinya. Keutamaan dan kebesarannya sedemikian rupa hingga menjadi perumpamaan di kalangan ulama. Mengenai sifat-sifatnya, para ulama menulis buku dan membacakan syair-syair tentangnya.”

Para Penguasa pada Masa Imam Baqir as

Masa keimamahan Imam Baqir as berbarengan dengan lima penguasa Bani Umayah: Walid bin Abdul Malik (86 H/705-96 H/715), Sulaiman bin Abdul Malik (96 H/715-99 H/718), Umar bin Abdul Aziz (99 H/718-101 H/720), Yazid bin Abdul Malik (101 H/720-105 H/724), Hisyam bin Abdul Malik (105 H/724-125 H/743).

Dari kelima penguasa Bani Umayah tersebut, Umar bin Abdul Aziz terbilang bertindak menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana. Sementara para penguasa lainnya memerintah dengan kesewenang-wenangan dan bertindak zalim terhadap masyarakat, terutama kepada orang-orang Syiah. Di istana mereka sangat nampak kerusakan, kemungkaran, dendam dan pengkastaan manusia.

Kebangkitan Ilmu

Tahun 94 H/713 hingga 114 H/733 merupakan masa munculnya aliran-aliran fikih dan puncak periwayatan mengenai tafsir Alquran. Hal ini disebabkan lemahnya pemerintahan Bani Umayah dan pertengkaran di antara petinggi pemerintahan untuk memperoleh kekuasaaan. Ulama Ahlusunah, seperti Syihab Zuhri, Makhul dan Hisyam bin Urwah, aktif dalam meriwayatkan hadis dan memberi fatwa. Sementara yang lainnya aktif dalam menyebarkan akidah dan pemikirannya masing-masing, seperti Khawarij, Murjiah, Kisaniyah dan Ghaliyan.

Pada masa tersebut, Imam Baqir as membuka sisi kelimuan cecara luas yang mencapai puncaknya pada masa putranya, Imam Shadiq as. Beliau menjadi rujukan semua pembesar dan ulama Bani Hasyim dalam kelimuan, kezuhudan, keagungan dan keutaman. Riwayat dan hadisnya mengenai ilmu agama, sunah nabawi, ulumul quran, sejarah, akhlak dan sastra sedemikian rupa hingga pada saat itu tidak tersisa lagi pada seorang pun dari keturunan Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Berikut ini peninggalan ilmu Imam Baqir as secara ringkas dalam berbagai bidang:

Tafsir

Imam Baqir as mengkhususkan sebagian waktunya untuk menjelaskan pembahasan tafsir. Ia mebuat majelis-majelis tafsir dan menjawab soal serta subhat-subhat para ulama dan masyarakat umum. Imam Baqir as menulis sebuah kitab tafsir Al-Quran yang disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq Nadim dalam kitabnya, Al-Fahrast.

Imam Baqir as menyebutkan bahwa makrifat dan pengetahuuan Alquran hanya terbatas pada Ahlulbait as. Hal ini karena Ahlulbait yang mampu membedakan ayat-ayat muhkamat, mutasyabihat, nasikh dan mansukh. Ilmu semacam ini tidak terdapat pada seorang pun selain Ahlulbait. Oleh karena itu, Imam Baqir as berkata, “Tidak ada satu pun seperti tafsir Alquran yang jauh dari akal masyarakat. Hal ini karena pada satu ayat yang perkataannya bersambung memiliki awal ayat yang berbicara satu masalah, sementara di akhir ayatnya mebicarakan masalah lain. Dan perkataan bersambung ini bisa dikembalikan kepada beberapa bentuk.”

Hadis

Secara khusus, Imam Baqir as memberikan perhatian penting terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Jabir bin Yazid Ja’fi meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis Nabi Muhammad saw melalui Imam Baqir as. Demikian juga Aban bin Taghlib dan seluruh murid Imam Baqir as meriwayatkan sejumlah besar hadis agung Rasulullah saw ini dari Imam Baqir as.

Tidak cukup dengan menukil dan menyebarkan hadis saja, Imam Baqir as pun menyuruh para sahabatnya untuk memberikan perhatian serius dalam memahami hadis dan mengetahui maknanya. Ia berkata, “Kenalilah derajat para Syiah kami dengan timbangan periwayatan mereka atas hadis-hadis Ahlulbait dan makrifat mereka atas hadis-hadis tersebut. Dan makrifat adalah pengetahuan atas riwayah dan diroyah hadis. Dengan diroyah dan pemahaman riwayah inilah seorang mukmin mencapai derajat iman paling tinggi.”

Kalam

Pada masa Imam Baqir as, dengan adanya kesempatan dan berkurangnya tekanan serta kontrol dari para penguasa, muncul kesempatan untuk menampakkan berbagai keyakinan dan pemikiran. Hal ini menyebabkan muncul dan tersebarnya pemikiran-pemikiran menyimpang di masyarakat.

Kondisi seperti ini mendorong Imam Baqir as untuk menjelaskan akidah dan keyakinan yang murni dan benar, melawan akidah batil dan menjawab berbagai subhat.

Imam Baqir as menjelaskan pemikiran-pemikiran kalamnya untuk menanggapi masalah ini. Diantara pembahasannya yaitu masalah ketidakmampuan akal manusia dalam memahami hakikat Allah swt, keazalian wajibul wujud (Tuhan) dan kewajiban taat terhadap imam maksum as.

Warisan Imam Baqir as lainnya adalah masalah fikih dan sejarah. (*)

Sumber: Syiahpedia

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA