Jawaban Lengkap Dirut Perumda Tirta Mahakam terkait Penanggulangan Kebocoran Pipa di Kukar

Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Suparno saat menerima mahasiswa Unikarta, HMI, dan PMII Kukar yang menolak kenaikan tarif air di Kukar. (Berita Alternatif/Riyan)
Listen to this article

BERITAALTERNATIF.COM – Kebocoran pipa Perumda Tirta Mahakam menjadi salah satu persoalan mendasar dalam pelayanan air bersih di Kukar.

Hal ini menuai sorotan dari berbagai pihak. Pengamat, praktisi, hingga mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Unikarta, HMI, dan PMII Kukar ikut menyuarkan agar Perumda Tirta Mahakam menyelesaikan masalah tersebut.

Wawancara berikut merupakan bagian akhir dari jawaban lengkap Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Suparno terkait kebocoran pipa perusahaan pelat merah itu.

Di bagian ini, dia juga menyinggung langkah-langkah serta target Perumda Tirta Mahakam dalam menyelesaikan masalah kebocoran pipa perusahaan tersebut yang persentasenya di atas rata-rata nasional.

Apakah kebocoran pipa itu merugikan Perumda Tirta Mahakam?

Jelas merugikan. Kebocoran itu mempengaruhi terutama biaya operasional. Artinya, kalau kebocoran itu bisa ditekan sesuai standar, ada nilai yang memang bisa kita hitung dalam bentuk rupiah.

Tetapi, menurunnya angka kebocoran tidak serta-merta langsung meningkatkan pendapatan. Paling tidak itu efisiensi biaya operasionalnya.

Artinya, dengan operasi 10 jam, dengan kebocoran standar, ternyata kita harus 12 jam. Itu ada inefisiensi dalam operasionalnya. Itu salah satunya.

Kemudian, kalau tidak ada kebocoran, otomatis pelayanan atau air yang didistribusikan akan lebih lancar karena kan tidak ada kebocoran.

Kebocoran ini disebabkan banyak faktor. Dalam artian mungkin diakibatkan jaringan pipa kita memang usianya sudah di atas 30 tahun di Kota Tenggarong. Apalagi dengan pertumbuhan pembangunan yang luar biasa, itu akan lebih sulit mendeteksi kebocoran.

Bukan kami tidak melakukan apa-apa. Berbagai upaya survei malam dilakukan. Ini dilakukan oleh teman-teman untuk mengidentifikasi daerah yang airnya tidak mengalir. Itu juga dilakukan saat malam hari karena kami anggap malam hari konsumsi air ini akan berkurang sehingga menuju ke daerah yang terjauh yang tadi airnya tidak mengalir.

Kebocoran teknis itu memang benar karena pipanya sudah tua. Kebocoran teknis, tetapi juga ada kebocoran non teknis.

Kemarin salah satunya di Simpang Tiga Patimura. Setelah kita bongkar pipanya, memang sudah sedemikian tua dan keropos.

Bisa saja kebocoran itu tidak langsung tampak di permukaan jalan. Kalau tampak, ada penggenangan, kami akan lebih cepat menanganinya. Tapi kebocoran yang tidak tampak ini, yang airnya tidak naik ke permukaan tanah, ini yang menjadi kesulitan kami untuk segera mendeteksi di mana letak bocornya.

Tingkat kebocoran pipa di Kukar di atas rata-rata nasional, apakah benar demikian? Berapa tahun Anda bisa menanggulangi kebocoran pipa itu?

Iya benar. Di tingkat nasional kebocorannya rata-rata 25 persen. Sementara kita di atas 30 persen.

Tentunya target dalam rencana bisnis sudah kita siapkan. Tetapi, secara signifikan, karena di Tenggarong ini pengolahannya lengkap, artinya semua pakai perpompaan, itu akan lebih lama.

Beda dengan pola pelayanan gravitasi. Ini yang harus kita sepakati bersama. Artinya, kami ini pengolahan menggunakan peralatan yang memang harus didukung oleh listrik maupun penunjang lainnya.

Kalau kebocoran, tentunya kami ada target. Lima tahun targetnya. Tapi tentu ada investasi yang harus kita siapkan.

Kami memohon kepada masyarakat jika menemukan ada titik-titik kebocoran yang diketahui, informasi itu sangat penting dan kami mengharapkannya, sehingga kecepatan untuk penanggulangan tentunya akan lebih tertata.

Selain itu, kita ada tim survei untuk mencari kebocoran setiap malam itu. Ada beberapa malam yang kita lakukan ronda.

Lalu kita identifikasi kebocoran diakibatkan karena apa. Bisa saja karena pipa yang sudah tua. Bisa saja karena teknis pemasangan pada saat itu. Atau bisa saja karena program pemerintah seperti pembangunan di Simpang Tiga Pulau Kumala itu. Karena ada kegiatan pemerintah, akhirnya mengena pipa kita. Itu kan hal-hal yang memang tidak terencana. Tidak kita rencanakan.

Tentunya kami di manajemen tetap berupaya bagaimana pun kebocoran ini harus sesuai standar nasional. Tapi, saya merasakan kebocoran itu tidak serta-merta bisa cepat turun.

Perlu beberapa pembenahan, terutama juga perlu dilakukan investasi. Kenapa saya katakan seperti itu? Seperti di Simpang Tiga Pulau Kumala itu, posisinya kan di tengah jalan.  Mau tidak mau pasti kita pindah. Kalau tidak pindah, pasti akan menghalangi aliran air yang akan dibuat oleh teman-teman PU. Artinya, normalisasi drainase Imam Bonjol itu pasti akan terhambat dengan lintasan atau bentangan pipa kita. Mau tidak mau harus kita pindah. Sehingga jangan sampai pipa PDAM bagian dari penghalang sampah yang mengakibatkan banjir.

Cuman kita enggak pernah tahu. Kenapa kok pasangnya di tengah jalan? Ini kan tahun berapa? Kan begitu. Pelebaran jalan atau peningkatan badan jalan kan setiap tahun selalu bertambah. Posisi PDAM hampir rata-rata sudah di tengah jalan.

Itu salah satunya yang termasuk akan kita tata. Artinya, perlu juga pendanaan karena memang kita perlu melakukan perubahan aliran, sehingga kita juga mendukung apa yang dilakukan pemerintah ini terhadap drainase atau saluran drainase untuk mengentaskan masalah banjir di Kota Tenggarong.

Kenaikan tarif air itu tak diiringi kenaikan gaji di manajemen Perumda Tirta Mahakam?

Saya yakin, kami tidak ada niat itu. Dengan kenaikan tarif ini akan kita pergunakan untuk kesejahteraan karyawan. Saya enggak yakin itu.

Niat kami tetap akan meningkatkan pelayanan. Masih banyak desa dan kecamatan yang cakupan layanannya rendah. Itu yang menjadi target kami. Target kami semua desa dan kecamatan mendapatkan layanan dari PDAM.

Nanti bisa dilihat berapa gaji kami. Alhamdulillah sudah memenuhi UMK. Kalau ada yang berpikir jangan-jangan kenaikan tarif ini untuk kesejahteraan karyawan, saya pastikan tidak.

Silakan tanya PDAM se-Kaltim. Pendapatan atau gaji kami itu nomor berapa urutannya. Bisa tanya Kutai Timur, Kutai Barat, dan Bontang. Kalau kita tanya Samarinda atau Balikpapan, terlalu jauh. Tanyakan saja PDAM di Kaltim pecahan dari PDAM kita.

Kami tidak akan berbicara kesejahteraan sebelum air ini pemerataannya memenuhi apa yang diinginkan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kami sangat terbuka. Enggak ada lagi yang kami tutup-tutupi. (*)

Penulis: Ufqil Mubin

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA