Palestina bukan hanya Milik Muslim dan Arab

Listen to this article

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Berkat narasi masif anti kadrun yang disemburkan sejumlah konten kreator pemburu viewer, beberapa orang Muslim yang mengaku nasionalis mengerdilkan perjuangan rakyat Palestina dan mengubah fakta penjajahan dengan narasi konflik politik.

Berkat itu juga beberapa orang yang mengaku pemeluk Kristen secara terang-terangan membela Israel dan menghina Palestina, lalu Arab, kemudian Islam.

Padahal banyak teks dalam Talmud yang bisa saja ditafsirkan secara literal sebagai ujaran kebencian kepada Kristen.

Fakta lainnya, rezim okupasi Israel juga membantai warga Palestina beragama Kristen yang menentang penjajahan terutama penodaan Gereja Makam Kudus. Banyak pejuang Palestina beragama Kristen yang memimpin organisasi perlawanan terhadap Israel, seperti George Habash dan Khalid Al Sakakini.

Karena itu, sangat mungkin dukungan sebagian kecil saudara-saudara Kristiani adalah akibat disinformasi yang disebarkan oleh para aktivis Islamophobia sehingga membenci apa pun yang berkaitan dengan Islam, termasuk Palestina.

Ironisnya, para Muslim yang sok nasionalis diam seolah mengiyakan.

Karena merasa mencintai Pancasila, sebagian orang membenci khilafah yang diusung sebagai pengganti Pancasila.

Karena merasa nasionalis, membenci para pengusung khilafah yang sebagian besar beraliran wahabi, atau karena mencintai Nusantara, mereka membenci wahabisme yang dianggap anti budaya lokal karena mengharamkan, membid’ahkan dan memusyrikkan apa pun yang tak dianjurkan dalam teks agama.

Karena wahabisme datang dari Arab Saudi dan karena mengira Arab Saudi adalah semua Arab, mereka mengira Arab cuma satu negara dan satu bangsa juga satu pandangan keagamaan dan sikap politik bahkan satu tipe kemudian mencemooh wilayahnya hingga iklim dan gurunnya juga bahasa serta budayanya yang sesuai dengan masyarakatnya di sana.

Karena mengira nasionalisme dan cinta Pancasila adalah memihak pemerintah dan karena tak bedakan menerima konstitusi negara (UUD) dengan mendukung semua kebijakan pemerintah, mereka membenci semua yang menentang atau mengritik pemerintah seraya menganggapnya sebagai anti NKRI dan Pancasila.

Karena sebagian pihak yang mengusung khilafah juga menentang pemerintah, mereka menganggap semua yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah sebagai anti NKRI dan Pancasila.

Karena beberapa pihak yang menentang kebijakan pemerintah adalah beberapa individu warga dari keturunan Arab, mereka membenci apa pun yang terkait dari sisi apa pun dengan Arab dan memvonis mereka secara general sebagai musuh tanpa pilah dan pilah meski banyak dari mereka turut membangun budayanya yang majemuk, turut memperkaya bahasanya, memperjuangkan kemerdekaannya, turut hadir dalam momen penting sejarah kemerdekaan dan setelahnya hingga kini, juga mempersembahkan banyak pahlawan yang gugur dan banyak warga berprestasi dalam ragam bidang.

Karena membenci apa pun yang terkait dengan Arab, sebagian mulai secara implisit menghujat agama yang diperkenalkan pertama kali di wilayah Arab dengan menganggapnya agama gurun, agama impor dan sebagainya, mencemooh kitab sucinya yang tertulis dengan bahasa Arab meskipun mayoritas warga NKRI menganutnya.

Karena membenci secara total apa pun yang terkait dengan Arab, dan karena Palestina berpenduduk mayoritas etnis Arab, mulai secara terbuka mendukung Israel yang menjajahnya, menghina perjuangan dan pengorbanan rakyatnya, bahkan menganggapnya sebagai terorisme meski Konstitusi NKRI menyerukan dihapuskannya penjajahan dan meskipun pemerintah yang didukungnya memihak Palestina.

Simak kata monumental Bung Karno tentang nasionalisme: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel”.

Salah satunya adalah mencemooh suara keras mayoritas masyarakat Indonesia yang menolak kehadiran Timnas U20 Israel seraya menganggapnya sebagai event olahraga yang tak bisa dihubungkan dengan konflik politik.

Padahal nyata FIFA dan UEFA serta lembaga olahraga lainnya mengaitkan event olahraga dengan politik. Salah satunya adalah melarang Rusia berlaga di semua ajang, dari level klub hingga tim nasionalnya sebagai sanksi atas konfliknya dengan NATO dan Ukraina.

Ringkasnya, Palestina bukan hanya milik Muslim tapi milik semua warga yang lahir sebelum okupasi, apa pun agamanya. Palestina bukan hanya tanah masyarakat Arab namun tanah bagi setiap warga Palestina, apa pun ras dan etnisnya. (*Cendekiawan Muslim)

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA