Saudi dan Delusi Dominasinya (3)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Dalam situasi terjepit, menghadapi masa depan Ma’rib yang segera dibebaskan oleh para pejuang militan Yaman dan membayangkan nasibnya tersungkur dan tersingkir, rezim pembantai ribuan balita dan wanita Yaman ini mumet dan kalap. Di sisi lain kita bisa duduk manis menikmati episode histrorikal runtuhnya arogansi borjuisme di bawah kaki para spartan Houthi yang tangguh sambil menghitung mundur tumbangnya miniatur rezim Yazid di era postmodern ini. Nyaris tak tersisa lagi kartu di meja mewah MBS untuk mempertahankan citra kedigdayaan kerajaan yang dibangun oleh moyangnya.

Yang menggelikan, MBS melakukan sejumlah aksi sinting. Salah satunya adalah modernisasi dan dewahabisasi.

Demi menyelamatkan eksistensinya, rezim ini harus menganulir teologi wahabi yang sejak berdiri merupakan dasar legitimasi palsunya.

Setelah mengizinkan muda mudi berbikini di pantai dan pesta konser, generasi milenial yang sudah gerah memakai disydasyah (gamis) pada 5 Desember mendatang akan dihibur oleh konser bintang musik pop asal Amerika Serikat (AS), Justin Bieber, yang akan menjadi pembuka seri balapan Formula One (F1) yang diadakan di Jeddah.

Berkat “revolusi paha” MBS, generasi manja dan borju yang diternak dalam koloni Saud tak perlu repot piknik ke Eropa, Amerika, Thailand atau mancanegara untuk teler dan menyalurkan fantasi seks liarnya.

Modernisasi yang sengaja direduksi pada pemuasan libido dan gaya hidup hedonis itu adalah modus cetek pengalihan opini masyarakat dunia, terutama umat Islam dari kejahatan-kejahatannya, antara lain pembunuhan dan intimidasi terhadap para oposan dan kelompok minoritas Syiah seperti pembunuhan sadis Jamal Kashogi, serta genosida paling berdarahnya di Yaman.

Bikinisasi ini, selain bertujuan memanipulasi kewarasan publik dan melemahkan sikap kritis rakyatnya, adalah langkah bagi sebuah rencana besar.

Ia adalah pengkondisian jelang pengumuman perkawinan resmi (yang disesatsebutkan sebagai normalisasi) setelah lama berselingkuh diam-diam (berhubungan secara bilateral namun rahasia) dengan rezim zionis yang menjajah dan menganiaya Palestina sejak 1948.

Saudi melakukan persiapan ini setelah menyuruh rezim-rezim monarki Teluk, semacam Uni Emiirat Arab dan Bahrain, menjalin hubungan resmi dengan sekutu rahasianya, Israel.

MBS tak hanya melakukan modernisasi namun melakukan tindakan yang lebih vulgar dan kontroversial. Dalam wawancara terbarunya MBS secara terang-terangan menentang doktrin Ben Baz, penghulu wahabisme. Orang yang pernah dihina di Gedung Putih oleh Donald Trump ini mengobok-obok ranah ilmu hadis. Ia menampik banyak hadis terutama yang berkategori ahad (tunggal) dan hanya menerima hadis berkategori mutawatir (popular). Padahal sebagian ajaran fikih atau jurisprudensi Islam didasarkan pada hadis-hadis tunggal non mutawatir.

Saudi menyempurnakan kekalapannya ketika mengajak rezim-rezim Teluk yang menjadi pemandu soraknya mengusir dubes Lebanon dengan dalih protes atas pernyataan George Kordahi, menteri informasi, yang menganggap perang di Yaman sebagai absurd. Belakangan diketahui oleh publik waras bahwa tujuan utamanya adalah menekan Pemerintah Lebanon menyingkirkan Hezbollah dari peta politik nasionalnya. Yang rada kebacut adalah sikap PM Lebanon, Miqati, yang alih-alih mempertahankan kedaulatan negaranya malah dengan dalih mengutamakan hubungan dengan sesama Arab terutama Saudi menghimbau Kordahi mengundurkan diri. Tentu saja jurnalis senior yang sadar hak asasinya dalam beropini menolak tekanan itu. Saudi dan beberapa kuasa tribal di Teluk yang tak punya tradisi demokrasi dan partisipasi publik dalam pengelolaan negara mengira Hezbollah sebagai kumpulan arisan. 

Semua kesintingan ini dilakukan hanya demi  menyudutkan posisi Iran yang memimpin blok resistensi vis-a-vis rezim palsu zionis “Israel”. (*Cendekiawan Muslim Indonesia)

TAGS:

Bagikan :

BERITA TERKAIT

Jasa Pembuatan Website

PASANG IKLAN

Ukuran = 1:1

BERITA TERBARU