Search
Search
Search
Close this search box.

Termasuk Orang yang Bersyukurkah Kita?

Ilustrasi seseorang yang sedang bersyukur dan berdoa kepada Allah. (Suara Islam)
Listen to this article

BERITAALTERNATIF.COM – Imam Ali Al Hadi as: “Perilaku bersyukur atas nikmat yang memang harus disyukuri lebih baik daripada nikmatnya itu sendiri, karena kenikmatan hanyalah kesenangan (di dunia yang fana ini), sedangkan bersyukur (akan diganjar dengan) kenikmatan abadi di akhirat”. (Biharul Anwar, jilid 75, hal. 365)

Hadis dari para imam Ahlulbait terkait sangat pentingnya bersyukur, bertebaran di mana-mana. Ini adalah fenomena yang unik, karena kisah hidup para imam dipenuhi dengan duka nestapa akibat kezaliman musuh. Bagaimana mereka bisa bersyukur?

Kebanyakan dari manusia tidak bersyukur kepada Allah. Setidaknya ada lima ayat Alquran yang menyatakan demikian, yaitu Al-Baqarah: 243, Yunus: 60, Yusuf: 38, An Naml: 73, dan Al-Mukmin: 61.

Ada tiga situasi di mana orang merasa berada dalam kesulitan/kekurangan, dan gara-gara kesulitan-kesulitan itu, orang tersebut enggan bersyukur. Pertama, kesulitan karena kemalasannya. Orang seperti ini pada dasarnya telah menzalimi diri sendiri dengan cara menghalangi dirinya dari rezeki Allah. Jika dia sampai enggan bersyukur, namanya tak tahu diri. Sudah malas, kemudian, saat rezeki seret, dia malah menyalahkan Allah dan menyebut dirinya sebagai orang yang disia-siakan oleh Allah.

Ada juga manusia yang memang mendapatkan kezaliman dari pihak lain (manusia ataupun alam) sehingga ia terhempas ke dalam penderitaan. Misalnya dia terkena musibah bencana. Jika kita sedang berada dalam situasi seperti ini, kita juga tetap tidak boleh menyalahkan Allah.

Kita harus ingat bahwa segala macam musibah bagi orang Mukmin yang sabar berarti bergugurannya dosa-dosa, dan ini berarti jaminan masuk surga. Seberat apa pun penderitaan di dunia ini tentu saja tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kenikmatan surgawi yang sempurna, hakiki, dan abadi.

Tapi, kebanyakan manusia sebenarnya tidak berada dalam dua situasi di atas. Kebanyakan manusia cukup rajin bekerja karena bekerja adalah salah satu sifat naluriah manusia. Orang umumnya merasa tidak nyaman dalam situasi menganggur. Situasi kedua juga bukan hal yang terjadi pada kehidupan sehari-hari semua manusia. Sangat sedikit manusia sepanjang hidupnya dizalimi orang lain atau terus-menerus ditimpa bencana.

Yang sering terjadi adalah situasi ketiga, yaitu, orang merasa berada dalam situasi sangat sulit, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Kebanyakan manusia gagal melihat berbagai macam kenikmatan melimpah ruah yang Allah anugerahkan kepadanya. Kebanyakan manusia adalah kufur (menutup-tutupi) nikmat, dan artinya tidak bersyukur.

Orang yang gagal bersyukur bisa dipastikan bukan orang yang berbahagia karena ia selalu bersedih, khawatir, dan tertekan. Makin gagal bersyukur, ia akan makin tidak bahagia. Puncaknya, ia akan memiliki jiwa yang labil. Kalau pada saat hidupnya berkecukupan saja ia banyak berkeluh kesah, apalagi jika ia ditimpa musibah. Sedikit saja ada masalah yang menimpanya, ia akan merasa sudah terjerembab ke dalam kubangan lumpur penderitaan. Ia merasa hidupnya sia-sia.

Ketidakmampuan bersyukur juga menjadi indikasi keimanan sangat rendah (atau malah tidak punya keimanan) kepada sifat Maha Pengasih Allah. Seorang yang beriman kepada Allah beserta segala sifat baik-Nya tidak mungkin tidak bersyukur, dalam situasi apa pun.

Jika ia didera penyakit maha-berat dan tak sembuh-sembuh, ia yakin bahwa rasa sakitnya itu malah menjadi sebab bergugurannya dosa-dosa. Penyakit yang dideritanya malah menjadi jalan untuk meraih kemuliaan di sisi Allah.

Jika ia terlilit urusan ekonomi yang pelik, ia akan terus berusaha karena ia sangat yakin bahwa Allah tidak mungkin memberikan beban yang tidak tertanggung. Jika ada yang menyakiti hatinya, ia yakin bahwa sikap sabar yang ditunjukkannya akan menjadi sebab kemuliaannya di sisi Allah.

Jika ia ditimpa musibah, ia akan teringat dengan kisah Nabi Ayub yang ditimpa musibah luar biasa berat, dan faktanya musibah-musibah itu bisa ditanggung oleh manusia. Bahkan saat Ayub ditimpa rentetan bencana luar biasa berat, ia tetap menyeru Allah dengan sebutan Tuhan yang Maha Penyayang di antara para penyayang (QS. Al-Anbiya’: 83). (*)

Sumber: Dikutip dari rubrik Tuntunan, Buletin Al-Wilayah, edisi 10, Maret 2017, Jumada Al-Akhira 1438 via Safinah Online

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA