Masa Kecil, Pendidikan, Karier, dan Perjuangan Politik Ferdi

BERITAALTERNATIF – Ferdi dilahirkan di Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kukar pada 20 Januari 1985. Ia menghabiskan sebagian besar usianya di kampung halamannya.

Anak ketiga dari enam bersaudara ini dilahirkan dan dibesarkan di Dusun Delta Mahakam, Desa Muara Kaman Ulu Seberang.

Selama hidup di kampung, ia menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman sebayanya.

Dia masih mengingat kenangan masa kecil di kampungnya, salah satunya berenang menyeberangi sungai setelah pulang dari sekolah.

Sejak kecil, Ferdi dididik untuk membantu orang tuanya berjualan berbagai macam makanan seperti gorengan, kue basah, kue kering, bubur ayam, mihun, olahan sayur atau gangan dalam bahasa Kutai, dan berbagai masakan lain.

Ibunya dikenal oleh warga di kampungnya sebagai perempuan yang sangat pandai memasak. Beragam makanan yang dibuat ibunya pun menjadi makanan rutin warga kampung.

Ferdi kerap membawa dagangan ibunya untuk dijual di sekolah. Aktivitas itu dilakoninya setiap hari hingga duduk di kelas 3 SMP.

“Sudah kelas 3 SMP, baru ekonomi orang tua mulai naik. Jadi, tidak jualan lagi (di sekolah),” ucapnya kepada awak media beritaalternatif.com, Sabtu (6/1/2024).

Selama menempuh pendidikan di tingkat dasar hingga tingkat atas, Ferdi tergolong anak yang memiliki prestasi bagus di sekolah.

Enam tahun menempuh pendidikan di SDN 010 Muara Kaman, dia selalu masuk di peringkat 1 ataupun 2. Di SMPN 1 Muara Kaman Ferdi juga selalu masuk 3 besar.

Setelah lulus SMP, saat itu belum ada sekolah negeri di kampungnya. Ia pun memutuskan masuk SMA Martadipura Muara Kaman.

Prestasinya di SMA tak sebagus saat dia duduk di bangku SD dan SMP. Namun, Ferdi masih bisa masuk 5 besar. “Cuman enggak sebaik waktu SD dan SMP,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah atas di Muara Kaman, Ferdi melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Di kampus negeri ternama di Provinsi Kaltim tersebut, ia mengambil Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

“Pendidikan itu ya basic-nya di kampung. Paling kuliah saja di Samarinda,” tuturnya.

Selama menempuh perkuliahan, dia memilih berjuang secara mandiri untuk membiayai kuliahnya hingga lulus pada tahun 2010.

Di sela-sela kuliah, Ferdi bekerja sebagai loper koran di Tribun Kaltim. Selain itu, dia bekerja sebagai helper di salah satu perusahaan minyak di Kaltim. Pekerjaan itu membantunya membiayai pendidikan tinggi hingga lulus.

Dalam menjalankan tugas sebagai pekerja, ia selalu memegang teguh pesan orang tuanya untuk bekerja secara jujur serta menjaga kepercayaan dan silaturahmi.

Selain menjalani rutinitas perkuliahan di kelas, ia mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara Unmul Samarinda. Dia pernah diamanahi jabatan Majelis Permusyawaratan Organisasi.

Ferdi juga mengikuti organisasi Forum Pemerhati dan Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Muara Kaman yang berbasis di Kecamatan Tenggarong.

“Sampai saya vakum itu jabatan saya sekretaris,” ungkapnya.

Dia juga pernah mengikuti organisasi yang fokus membahas isu-isu terkini di Kukar.

“Terakhir saya gabung itu 2009-2010. Karena waktu itu dapat kerjaan di Bontang, jadi saya memutuskan untuk vakum,” terangnya.

Ferdi pernah menjadi tim sukses di Pilkada Kukar 2019. Namun, calon yang didukungnya gugur di tengah jalan. “Calonnya enggak jadi naik,” sebutnya.

Setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk menikahi ibu dari anak-anaknya. Di tengah kondisi demikian, dia memutuskan mencari pengalaman kerja di tempat lain.

Dia juga menimba pengalaman sebagai pekerja di perusahaan pembiayaan motor dan mobil, bank, dan sales barang industri hingga supervisor. “Makanya sempat ke luar negeri,” ujarnya.

Setelah berhenti dari pekerjaan tersebut, Ferdi mulai merintis usaha secara mandiri seperti membuka konter hingga pelayanan jasa CCTV dan pengerjaan baja ringan di Kaltim.

“Sampai hari ini (usaha pelayanan jasa masih aktif). Sampai ada kerjaan-kerjaan lain juga di Samarinda-Tenggarong” ucapnya.

Ia memulai perjuangannya di panggung politik daerah pada tahun 2014 hingga 2021 di Partai Perindo.

Di partai tersebut, dia pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Belakangan, ia merasa tak cocok dengan Partai Perindo.

Ferdi pun pindah ke Partai Nasdem. Di partai tersebut, ia sudah lolos pada tahap verifikasi, tetapi dia menganggapnya belum cocok sebagai perahu untuk bertarung di Pileg 2024.

Akhirnya, ia mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dari Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia di Dapil II, yang meliputi Kecamatan Muara Kaman, Sebulu, dan Tenggarong Seberang.

“Kebetulan rekomendasi dari Sekjen DPW (Gelora Kaltim), Pak Sarwono,” pungkasnya. (mt/fb)

Profil Syarifudin: Masa Kecil, Pertemanan, Pendidikan, dan Perjuangan Hidup

BERITAALTERNATIF.COM – Sejak 22 tahun lalu, Syarifudin telah bermukim di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Dalam masa itu, ia telah melewati pahit getir perjuangan hidup, baik sebagai dosen, pengusaha, maupun politisi Partai Amanat Nasional atau PAN.

Meskipun lebih dari separuh hidupnya telah dilakoni di Tenggarong, ia tidak pernah melupakan masa-masa kecilnya yang dihabiskannya di Desa Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang.

Asraf, begitu panggilan karibnya, mengingat dengan baik kondisi kampung halamannya yang asri, berdekatan dengan Sungai Mahakam, dikelilingi persawahan dan kebun, serta berada di hamparan lahan yang sangat luas.

Saat dia berusia belia, Separi tergolong desa yang belum mendapatkan listrik dari PLN. Warga di kampungnya pun memakai genset untuk menerangi rumah-rumah mereka. Sekitar tahun 90-an barulah PLN masuk ke desa tersebut.

Teman-teman masa kecilnya pun tak pernah dilupakannya, antara lain Edi Suyatno, Saiful Anwar, dan Joni Jauhari. Hingga kini, sejumlah temannya yang lain juga acap bertemu dan bersilaturahmi dengannya.

“Setiap tahun kami adakan reuni,” ungkapnya, Rabu (18/1/2023).

Ingatannya juga masih segar terkait masa-masa kecilnya bersama ayahnya—Khudori yang berasal dari Jawa Timur: memikul kayu, menggali batu, dan menggarap lahan pertanian. Dia juga diajarkan beternak kambing dan ayam di Separi.

Sejak kecil, dia telah menanam pohon-pohon jati dan sengon di Separi.

“Sampai sekarang pohon jati itu masih ada di kampung,” ungkapnya.

Asraf pun masih mengingat ajaran hidup yang acap disampaikan dan dicontohkan ayahnya kepadanya: bekerja keras dan jujur.

“Pendidikan dari orang tua kami itu memang keras. Salah satunya, anaknya harus tahu mengaji,” ujarnya.

Ajaran serupa disampaikan ibunya, yang bernama Hanifah—perempuan asli Kutai. Kedua orang tuanya menekankan agar kelak Asraf beserta saudara-saudaranya tak mencurangi orang lain.

“Ketika kita mencurangi orang lain, pasti akan kena ke diri kita sendiri. Ibaratnya, jangan menipu orang lain,” ucapnya.

Ibunya juga acap menekankan kepada Asraf agar selalu berbuat baik kepada orang lain.

“Dan jangan sombong. Itu saja ajaran dari orang tua kami,” imbuhnya.

Asraf merupakan anak ketiga dari pasangan Khudori dan Hanifah. Saudara-saudarinya meliputi Siti Masruroh, Chusniah, Uswatun Hasanah, dan Ahmad Fauzi.

Mereka berlima dibesarkan di rumah kayu berukuran mini di Separi. Kelak, Asraf menyebut kondisi rumah masa kecilnya tersebut sangat memprihatinkan.

“Sampai hari ini rumah itu masih ada di kampung. Dan alhamdulillah kami menikmati rumah yang membesarkan kami itu,” kata pria yang merampungkan pendidikan dasar di SDN 004 Separi ini.

Kata Asraf, kedua orang tuanya mendidik mereka dengan sangat baik, sehingga saat ini terbentuk rasa saling menyayangi.

“Meskipun muncul persepsi yang berbeda-beda, tapi kami saling menyayangi. Sekalipun ada perbedaan, tidak ada yang saling ambil hati,” ucapnya.

Orang tuanya juga menekankan kepada mereka untuk mengembangkan dan memelihara nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Orang tua kami mengajarkan jangan lupa salat. Itulah yang ditanamkan orang tua. Pokoknya nilai-nilai agama itu selalu ditekankan kepada kami agar selalu diterapkan. Sekalipun pendidikan kita tinggi, berhasil, dan jadi orang kaya, apalagi jadi orang susah, jangan pernah meninggalkan agama Islam,” jelasnya.

Karena itu, Asraf mengenang masa-masa kecilnya di Separi sebagai kenangan yang sangat membekas dalam kehidupannya. Sebagai tanah kelahiran, ia pun berikrar bila kelak meninggal dunia, Asraf menginginkan agar dikebumikan di Separi.

“Kalimat ini pernah saya sampaikan waktu saya kena Covid,” bebernya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di SLTP SPT Separi, Asraf melanjutkan pendidikan di SMA PPKP Ribathul Khail. Kemudian, ia menempuh S1 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Febis) Unikarta serta S2 di Ilmu Administrasi Publik Unikarta.

Di masa-masa kuliah inilah ia berkenalan dengan sejumlah tokoh dan politisi Kukar. Di sela-sela kuliah, Asraf aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kukar. Arbani, mantan Presiden BEM Febis Unikarta, yang mengajaknya bergabung di HMI.

“Di situlah saya banyak berteman. Dari HMI kita belajar politik, juga belajar dan mengenal dunia musik. Kita juga pernah mendatangi artis nasional. Dari HMI, kita belajar semuanya,” kata Asraf.

Kenyataan yang dilihatnya di kampung halamannya, serta dipadukannya dengan ilmu yang didapatkannya dari HMI, membuat Asraf memutuskan untuk berjuang di medan politik praktis.

“Melihat kondisi kampung yang hari ini sudah lumayan berkembang dan maju, kita harus punya perwakilan di legislatif. Mudah-mudahan ini menjadi sejarah bahwa putra daerah dan orang kampung serta tidak punya apa-apa itu bisa mengejar harapan,” pungkasnya. (um)

Peristiwa Terakhir yang Memilukan dari Kehidupan Rasulullah

Ketika Rasulullah Saw mengalami sakaratul maut, Fathimah Zahra merasa sangat sedih melihat ayahnya. Dengan hati yang hancur dan mata berlinang air mata, dia duduk di samping Nabi Saw. Fathimah melantunkan syair yang menggambarkan kebaikan dan belas kasih ayahnya.

Kemudian, Nabi Saw membuka matanya dan dengan lembut bersabda, “Katakanlah, ‘Muhammad ini hanyalah seorang rasul; telah ada sebelumnya beberapa rasul. Jika dia wafat atau dibunuh, apakah kamu akan berpaling? Barang siapa berpaling, tidak akan merugikan Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.’”

Dengan kata-kata ini, Nabi Saw seolah-olah ingin mempersiapkan putrinya, Fathimah, menghadapi masa-masa sulit yang akan datang. Beliau kemudian memberi isyarat kepada Fathimah untuk mendekat, dan Fathimah pun mendekati ayahnya.

Rasulullah Saw kemudian mengungkapkan sebuah rahasia yang membuat Fathimah menangis, lalu mengungkapkan rahasia lain yang membuatnya tersenyum. Beberapa orang yang hadir penasaran dan bertanya kepada Fathimah tentang rahasia tersebut. Fathimah menjawab, “Aku tidak akan menjelaskan rahasia Rasulullah Saw.”

Namun, setelah sang ayah wafat, Fathimah ditanya lagi tentang rahasia tersebut. Ia menjawab, “Rasulullah Saw memberitahuku bahwa ajalnya sudah dekat, dan sakit ini akan menyebabkannya meninggal dunia, maka aku menangis. Kemudian, beliau memberitahuku bahwa aku adalah orang pertama yang akan menyusulnya dari keluarganya, maka aku pun tertawa.”

Nabi Saw memberikan wasiat kepada Ali, mengajarinya, dan membagikan rahasia-rahasia kepadanya. Ketika detik-detik terakhir hidupnya tiba, Rasulullah Saw memanggil Ali, dan pada saat itu, Ali sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Nabi. Setelah beberapa saat, Ali datang, dan Rasulullah meminta Ali mendekat. Nabi terus berbicara dengan Ali sampai ajalnya tiba dan beliau menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Ali. Hal ini telah dijelaskan oleh Ali dalam salah satu khotbah terkenalnya.

Wafatnya Nabi dan Upacara Pemakaman

Saat-saat terakhir kehidupan Nabi, hanya Ali bin Abi Thalib, Bani Hasyim, dan istri-istri mereka yang ada di sekitarnya. Umat mengetahui kabar wafatnya Nabi melalui teriakan dan keramaian yang melonjak dari rumah Rasulullah, karena mereka bersedih atas perpisahan dengan sosok yang sangat mereka cintai. Hatinya bergetar karena kepergian makhluk yang paling mulia di sisi Allah Swt.

Berita wafatnya Nabi menyebar dengan cepat di Madinah. Masyarakat tenggelam dalam kesedihan dan kehampaan, meskipun Nabi telah mempersiapkan mereka dan telah memberi tahu mereka tentang dekatnya saat roh suci beliau akan meninggalkan dunia ini. Beliau juga mewasiatkan kepada umat untuk mematuhi pemimpin dan khalifah mereka yang akan datang, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Wafatnya Nabi Saw adalah goncangan emosional yang sangat besar bagi kaum Muslim. Penduduk Madinah pun merasa terguncang. Namun ironis, sebagian sahabat besar justru pergi ke Tsaqifah Bani Saidah untuk mengadakan pertemuan darurat membicarakan kepemimpinan umat (khilafah) setelah wafatnya Rasulullah. Mereka tampaknya melupakan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, begitu juga pembaiatan mereka terhadapnya. Tindakan mereka seakan-akan tidak memahami bahwa sikap ini meremehkan kehormatan Rasulullah dan jasadnya yang terbujur kaku.

Sementara itu, Ali bin Abi Thalib dan keluarganya sibuk mempersiapkan pemakaman Nabi. Ali memandikan Nabi tanpa melepas bajunya, dibantu oleh Abbas bin Abdul-Muthalib dan putranya, Fadhil. Ali berkata, “Demi ayah dan ibuku, engkau begitu harum, baik saat hidup maupun saat meninggal.”

Kemudian mereka meletakkan jasad Rasulullah di atas ranjang, dan Ali berkata, “Sesungguhnya Rasulullah adalah pemimpin kita, baik hidup maupun meninggal dunia. Hendaklah sekelompok demi sekelompok masuk, lalu mereka menyalatinya tanpa imam, kemudian membubarkan diri. Orang yang pertama kali menyalati Nabi Saw adalah Ali dan Bani Hasyim. Setelah mereka, kaum Anshar pun menyalatinya.”

Ali berdiri di hadapan Rasulullah Saw sambil berkata, “Salam kepadamu, wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkah-Nya semoga tercurah padamu. Ya Allah, kami bersaksi bahwa ia telah menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya, dan ia telah menasihati umatnya serta berjuang di jalan Allah, sehingga Allah memuliakan agama-Nya dan kalimat-Nya menjadi sempurna. Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang mengikuti apa yang diturunkan kepadanya, teguhkanlah kami setelahnya, dan kumpulkan kami kembali dengannya di akhirat.”

Orang-orang yang hadir di situ mengamini doa Imam Ali. Kemudian, kaum pria menyalatinya, lalu kaum wanita, dan selanjutnya anak-anak. Nabi dikebumikan di kamar tempat beliau meninggal dunia. Ketika Ali hendak menurunkan beliau ke kuburan, kaum Anshar memanggil dari belakang dinding, “Ali, kami mengingatkan engkau akan Allah dan hak kami hari ini dari Rasulullah. Masukkanlah seseorang dari kami sehingga ia mendapat bagian untuk mengebumikan Rasulullah.”

Ali berkata, “Biarkan Aus bin Khuli masuk ke sini.” Aus adalah veteran perang Badar yang berasal dari Bani Auf. Imam Ali lalu turun ke makam, lalu ia membuka wajah Rasulullah dan meletakkan pipinya di atas tanah, kemudian menguburkannya.

Salam bagimu, ya Rasulullah, di hari engkau dilahirkan, di hari engkau meninggal dunia, dan di hari engkau dibangkitkan kembali dalam keadaan hidup. (*)

Sumber: Disarikan dari buku Teladan Abadi: Muhammad Saw, Sang Adi Insan – Tim Al-Huda via Safinah Online

Pengkhianatan yang Dialami Imam Hasan Sepeninggal Ayahnya

BERITAALTERNATIF.COM – Imam Ali bin Abi Thalib syahid pada tanggal 21 Ramadhan 40 Hijriah. Beliau berwasiat supaya jasadnya dikuburkan pada malam hari agar tidak diketahui masyarakat. Putranya, Imam Hasan, keesokan harinya membacakan khotbah kepada masyarakat dan menyampaikan berita meninggalnya ayahanda kepada umat dengan membacakan keutamaan dan kemuliaan sang ayah.

Imam Hasan menangis dan masyarakat pun ikut menangis. Imam turun dari mimbar dan duduk di atas tanah. Di saat itu, Abdullah bin Abbas berdiri dan berkata. “Wahai manusia! Hasan bin Ali adalah anak Rasulullah dan washi Amirul Mukminin. Maka, berbaiatlah kepadanya untuk khilafah!”

Orang-orang yang hadir menerima ajakan itu dan membaiat Imam Hasan. Sejak itu, Imam Hasan duduk di kursi khilafah dan disibukkan dengan urusan pemerintahan. Imam mempelajari kinerja dan pekerjaan-pekerjaan para pegawai yang lama. Kemudian Imam menetapkan dan memperbarui hukum mereka. Beliau memilih wali yang baru dan mengutusnya ke tempat-tempat tugas, di antaranya adalah Abdullah bin Abbas dipilihnya sebagai pemimpin Basrah dan mengirimnya ke sana.

Di sisi lain, Muawiyah yang berkuasa di Syam mencium tentang baiat masyarakat kepada Imam Hasan. Maka, Muawiyah pun berupaya mencegahnya dengan memilih dan mengutus dua mata-mata yang lihai ke Kufah dan Basrah untuk mencari berita penting bagi Muawiyah serta melakukan makar dan kekisruhan di dalam pemerintahan Imam Hasan. Imam mendengar makar ini dan menginstruksikan penangkapan dua mata-mata itu. Kemudian Imam menulis surat kepada Muawiyah dan menyebutkan kelebihan-kelebihan beliau sehingga lebih layak menjadi khalifah.

Muawiyah yang telah sekian tahun berupaya mencegah perluasan pemerintahan Imam Ali menantikan peluang seperti ini. Oleh karena itu, ia tidak bersedia mendengarkan ucapan Imam Hasan dan menolak kebenaran. Ia memutuskan untuk berjuang melawan pemerintahan baru Imam Hasan dan menyingkirkan musuh baru tersebut dengan segala cara, bahkan dengan perang dan pembunuhan untuk menyingkirkan Imam Hasan dari pentas politik. Dengan tujuan inilah, ia mengumumkan perang dan dengan pasukannya yang besar, ia bergerak menuju Irak.

Berita ini sampai ke telinga Imam Hasan dan beliau terpaksa mempersiapkan pasukan untuk melawan pasukan Muawiyah. Setelah pernyataan perang ini Imam Hasan menginstruksikan Hujr bin Adi untuk memobilisasi umat demi membela pemerintahan yang sah. Sekelompok umat menerima dan bersiap-siap untuk bergerak menuju medan laga.

Namun sayangnya, kebanyakan umat enggan mengikuti perang. Akibatnya, pasukan Imam Hasan tidak mencapai jumlah yang mencukupi untuk menghadapi pasukan Muawiyah yang banyak. Beberapa sejarawan membagi pasukan Imam Hasan ke dalam beberapa kelompok.

Pertama, sekelompok umat adalah Syiah sejati dan pendukung setia Imam Hasan serta pendukung pemerintahan Alawi.

Kedua, sekelompok lainnya adalah mereka yang bermusuhan dengan Muawiyah dan ikut serta dalam perang dengan tujuan hanya untuk menjatuhkan Muawiyah, bukan untuk membela pemerintahan dan khilafah Imam Hasan yang sah.

Ketiga, kelompok yang ragu dalam mengenali kebenaran sehingga memiliki dua hati dalam melakukan perang atau, dengan kata lain, mereka menyertai peran dengan tanpa tujuan.

Keempat, kelompok yang tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang tujuan perang dan berperang hanya karena fanatisme golongan sehingga mereka secara mutlak mengikuti para kepala suku saja. (Kasyful Ghummah, jilid 2, hal. 163-165)

Alhasil, Imam Hasan tidak memiliki cara lain, kecuali bersama pasukan yang dimilikinya itu berusaha mempertahankan dan membela diri. Beliau mengatur pasukannya dan mengutus 4.000 orang yang dipimpin oleh lelaki dari Kabilah Kandah ke wilayah bernama Anbar. Beliau mengatakan, “Tunggulah perintahku dan jangan berbuat sesuatu terlebih dahulu!”

Muawiyah segera menggunakan tipuan dan makar yang biasa dilakukannya. Dengan memberikan 500.000 dirham kepada komandan pasukan Imam Hasan, ia meminta komandan itu agar menggagalkan perang dan berpaling dari Imam Hasan. Komandan itu pun menerima uang Muawiyah dan beserta 200 orang pengikutnya, pergi menuju Muawiyah.

Imam Hasan sangat kecewa mendengar berita ini dan menunjuk seorang komandan lain dari suku Murad sebagai gantinya. Namun Muawiyah kembali berhasil menyuap lelaki dari kabilah Murad itu dan memberikan 5.000 dirham kepadanya seraya berjanji bahwa nanti seusai perang, akan diserahkannya salah satu wilayah. Ia menerima uang itu dan bergabung dengan Muawiyah.

Beberapa yang lainnya juga disogok seperti itu dan bergabung dengan Muawiyah, di antaranya adalah Ubaidillah bin Abbas. Sejumlah kepala kabilah Kufah menulis surat kepada Muawiyah, “Kami adalah pendukungmu dan datanglah kepada kami. Ketika engkau telah mendekati kami, kami akan menangkap Hasan dan menyerahkannya kepadamu atau kami akan menerornya.”

Perdamaian dengan Muawiyah

Saat Imam Hasan bersama empat ribu pasukannya berhenti di Sabath, Muawiyah mengirimkan surat-surat warga Kufah dan para pemuka kabilah kepada Imam Hasan seraya menulis, “Wahai anak paman! Janganlah engkau memutuskan kekeluargaan antara diriku dan dirimu! Janganlah engkau percaya dan sombong dengan masyarakat ini sebab, sebelumnya mereka telah berkhianat kepadamu dan juga kepada ayahmu. Aku bersedia menjalin perdamaian denganmu.”

Imam Hasan mengawasi keadaan pasukannya dari mengetahui pengkhianatan sejumlah pemuka pasukannya kepada Muawiyah. Imam mengetahui benar ketidaksetiaan masyarakat Kufah dan ketidaksepahaman pikiran di dalam pasukan.

Imam merasakan bahwa dalam kondisi seperti ini, perang tidak akan menghasilkan sesuatu, kecuali pembunuhan dan pembantaian massal kaum muslimin sehingga pada akhirnya pasukan musuh akan menang dan kejahatan akan bertambah terhadap orang-orang Syiah. Hanya saja menerima perdamaian bukanlah suatu hal yang mudah.

Imam memutuskan untuk menyampaikan khotbah dengan maksud menguji para sahabatnya dan mengetahui pendapat mereka. Imam memanggil masyarakat dan membacakan khotbah serta menyampaikan penjelasan. Namun pendapat Imam tidak diterima oleh sebagian yang hadir dan mereka berpikir bahwa Imam berniat untuk berdamai dengan Muawiyah. Sebagian dari mereka bangkit dan berkata, “Engkau telah kafir dan musyrik wahai Hasan sebagaimana ayahmu telah kafir!”

Sekelompok orang menyerang kemah Imam Hasan dan merampok isinya, bahkan mereka menarik sajadah dari bawah kaki Imam dan mencabut jubah dari pundaknya Imam. Ketika mengetahui nyawanya terancam, Imam Hasan terpaksa menaiki kuda untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman sekelompok orang.

Pengikut setia Imam secara khusus mengelilingi Imam Hasan untuk menjaganya dari bahaya musuh di bawah selimut. Tatkala melewati Sabath di kegelapan malam, seorang lelaki tiba-tiba menyerang Imam dan melukai pahanya cukup serius dengan senjatanya.

Para sahabat Imam Hasan membantunya dan menyelamatkan nyawa Imam dari kejahatan lelaki itu. Kemudian para sahabatnya itu membawa Imam ke Madinah. Imam berbaring di rumah salah seorang Syiahnya dan berobat di sana.

Imam dengan cermat dapat membaca keadaan yang sebenarnya dari pemberontakan dan pengkhianatan pasukannya. Imam berpikir bagaimana mungkin ia dapat memerangi musuh dan keluar sebagai pemenang sementara di antara pasukannya sendiri terdapat orang-orang yang mengutuk Imam. Selain itu, komandannya bahkan mengafirkan, menghalalkan darah, serta merampok hartanya? Apakah pasukan yang tidak ikhlas seperti itu dapat dipercaya?

Pada saat itu, Muawiyah mengirimkan surat sebagian pemuka kabilah kepada Imam Hasan yang tertulis, “Kami bersedia untuk menangkap Hasan dan menyerahkannya kepadamu atau menerornya.”

Selain itu dalam sebuah surat ditulis, “Pasukanmu adalah semacam ini. Dengan pasukan seperti ini, engkau ingin berperang denganku? Sebaiknya engkau dan umatmu menghindari perang ini dan menerima perdamaian. Dalam kaitan ini, aku menerima persyaratanmu dan akan konsisten serta memegang teguh perjanjian itu.”

Kendati mengenal dengan baik tipu daya dan siasat Muawiyah, Imam Hasan tidak mempunyai jalan lain kecuali menerima tawaran Muawiyah. lmam tahu bahwa ia tidak dapat menang melawan pasukan Muawiyah. Maka demi menjaga pertumpahan darah yang sia-sia Imam menerima perdamaian tersebut.

Beliau menyatakan kesiapannya untuk berdamai dan mengusulkan beberapa hal berikut ini sebagai syarat.

Pertama, Muawiyah tidak menamakan dirinya sebagai Amirul Mukminin.

Kedua, Imam Hasan tidak dihadirkan untuk menyatakan kesaksian.

Ketiga, kaum Syiah di mana saja dalam keadaan aman serta tidak mendapatkan gangguan dan penyiksaan.

Keempat, hendaknya Muawiyah membagikan ribuan dirham kepada anak-anak syuhada yang ayah-ayah mereka syahid dalam pertempuran Jamal dan Shiffin di dalam barisan pasukan Imam Ali.

Kelima, hendaknya Muawiyah bersikap sesuai dengan Alquran dan sunah Rasulullah Saw serta sirah khalifah yang saleh.

Keenam, Muawiyah tidak diperkenankan menunjuk putra mahkota setelahnya dan menyerahkan urusan khilafah kepada dewan syura muslimin.

Ketujuh, tidak melakukan makar terhadap segenap Ahlulbait Rasulullah baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan dan jangan meneror mereka.

Muawiyah menerima semua persyaratan itu dan berjanji untuk bersikap setia. Dengan demikian, perjanjian perdamaian pun ditandatangani oleh kedua pihak. Akan tetapi Muawiyah tidak lama setelah itu mengkhianati semua janji perdamaian tersebut. Masih merasa tidak nyaman dengan keberadaan Imam Hasan, Muawiyah berhasil membujuk Jadah (istri Imam Hasan) dan dijanjikan akan dinikahkan dengan putra mahkotanya Yazid. Wanita terhina itu berhasil membunuh Imam Hasan, suaminya, dengan racun yang sangat ganas. Imam Hasan pun syahid pada bulan Safar 50 H.

Ya’qubi menulis, “Imam Hasan menjelang wafatnya beliau berkata kepada saudaranya, ‘Wahai saudaraku, ini ketiga kalinya aku diracun. Dan racun ini sangat berbeda dengan sebelumnya, dan inilah yang akan menjadi penyebab kematianku hari ini. Jika aku meninggal, maka makamkanlah aku di sisi makam Rasulullah saw, sebab tidak ada yang lebih dekat dengannya kecuali aku, namun jika pemakamanku di sisi makam Rasulullah dapat menyebabkan pertumpahan darah, maka hindarilah.’” (Ya’qubi, Tārikh Ya’qubi, jld. 2, hlm. 154) (*)

Sumber: Disarikan dari buku Para Pemimpin Teladan karya Ayatullah Ibrahim Amini via Safinah Online

In Memoriam Sinead O’connor: Suara untuk Keadilan dan Kasih Sayang

Oleh: Ahmad Ibsais

Dunia berduka atas kehilangan seorang musisi ikonik dan berpengaruh, Sinead O’Connor, yang hidupnya dipersingkat, meninggalkan warisan kecemerlangan musik, transformasi spiritual, dan dukungan tak tergoyahkan untuk rakyat Palestina. Sementara itu dia juga menemukan pelipur lara dan tujuan dalam Islam selama tahun-tahun terakhirnya, sangat menyedihkan untuk dicatat bahwa banyak media telah mengabaikan aspek penting dari identitasnya.

Bakat musik Sinead O’Connor tidak dapat disangkal, dan penampilan emosionalnya menyentuh hati banyak pendengar. Dari membawakan lagu “Nothing Compares 2 U” yang menggetarkan jiwa hingga komposisinya yang menggugah pikiran, musiknya melampaui genre dan generasi, memberinya tempat di antara yang terbaik.

Di luar sorotan, Sinead memulai perjalanan spiritual yang mendalam. Pada tahun 2018, dia secara terbuka mengumumkan kepindahannya ke Islam, sebuah keputusan yang sangat pribadi yang sangat berarti baginya. Memeluk keyakinannya, dia mencari ketenangan dan tujuan, mengungkapkan keyakinannya pada kekuatan spiritualitas untuk menyembuhkan dan membimbing jiwa seseorang.

Terlepas dari ketenaran dan pengakuannya, keyakinan Sinead O’Connor tidak terwakili secara memadai di media. Sungguh menyedihkan menyaksikan betapa banyak outlet media yang mengabaikan identitasnya sebagai seorang Muslim, seolah-olah aspek hidupnya ini tidak penting atau tidak layak untuk disebutkan. Kelalaian ini hanya menggarisbawahi bias umum dan kesalahpahaman seputar Islam dan para pengikutnya di dunia saat ini.

Selain perjalanan spiritualnya, Sinead adalah pembela vokal bagi rakyat Palestina. Dukungannya yang tak tergoyahkan untuk keadilan dan kasih sayang berakar dalam pada keyakinan dan hati nuraninya. Dia menggunakan platformnya untuk memperkuat suara mereka yang mengalami kesulitan dan ketidakadilan, khususnya dalam konteks konflik Israel-Palestina.

Komitmen Sinead untuk perjuangan Palestina beresonansi dengan banyak orang, dan pembelaannya yang penuh semangat membawa perhatian pada penderitaan mereka yang menderita di bawah pendudukan dan apartheid. Keberaniannya untuk berbicara, meskipun menghadapi kritik dan reaksi, menunjukkan kekuatan menggunakan pengaruh seseorang untuk perubahan yang berarti.

Seperti yang kita ingat Sinead O’Connor, mari kita hormati keseluruhan identitasnya – sebagai musisi berbakat, pencari kebenaran dan spiritualitas, dan advokat penuh kasih bagi rakyat Palestina. Sangatlah penting bagi kita untuk menantang kecenderungan untuk mengabaikan atau salah mengartikan aspek-aspek tertentu dari kehidupan seseorang, terutama dalam hal iman dan identitas.

Dalam kepergiannya, kita diingatkan akan pentingnya mengenali dan menghormati perjalanan beragam yang membentuk kehidupan individu. Jangan biarkan bias dan prasangka mengaburkan pemahaman kita satu sama lain. Sebaliknya, mari kita rayakan jalan unik yang diambil setiap orang dan hargai keindahan keragaman yang memperkaya dunia kita.

Semoga ingatan Sinead O’Connor mengilhami kita untuk lebih berempati, berbelas kasih, dan berpikiran terbuka, menyadari bahwa setiap kehidupan adalah permadani pengalaman, keyakinan, dan kontribusi.

Semoga warisannya mendorong kita untuk saling merangkul dengan pengertian dan cinta, bekerja menuju dunia di mana semua suara didengar, dan semua kehidupan dihargai. (*)

Budiman Sudjatmiko: Pejuang Demokrasi dan Pencetus Undang-Undang Desa

BERITAALTERNATIF.COM – Budiman Sudjatmiko (lahir 10 Maret 1970) adalah seorang politisi dan aktor berkebangsaan Indonesia. Ia dikenal karena ikut menyusun Undang-Undang Desa dan mendirikan gerakan Inovator 4.0 Indonesia.

Dia juga dikenal sebagai aktivis reformasi atas keterlibatannya mendirikan dan memimpin Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan membacakan manifesto PRD di ruang sidang. Bukunya, Anak-Anak Revolusi, menjadi salah satu sumber informasi mengenai dunia aktivisme pada masa Orde Baru.

Oleh Orde Baru, ia sempat dikambinghitamkan dalam Peristiwa 27 Juli 1996 dalam penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia dan kemudian divonis dengan hukuman 13 tahun penjara.

Masa Kecil dan Pendidikan

Budiman dilahirkan dari pasangan Wartono Sudjatmiko dan Sri Sulastri Sudjatmiko, anak pertama dari empat bersaudara. Keluarganya membesarkannya dengan suasana kental dengan keagamaan.

Ia mulai memperhatikan kemiskinan yang menjerat rakyat kecil saat mendapati pengasuhnya bunuh diri karena jeratan utang.

Masa kecilnya dihabiskan di Bogor, menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Pengadilan 2 Bogor. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Cilacap dan lulus tahun 1986.

Kemudian pendidikan menengah atas di SMA Negeri 5 Bogor dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan lulus tahun 1989. Pendidikan tinggi sebenarnya ia tempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM), namun kemudian aktivisme membuatnya drop out.

Ia baru kembali melanjutkan pendidikannya selepas dipenjara ke Ilmu Politik di Universitas London dan Master Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris.

Karier Organisasi dan Politik

Budiman aktif dalam berbagai kegiatan diskusi dan organisasi sejak duduk di bangku SMP. Ia terlibat dalam gerakan mahasiswa saat berkuliah di Fakultas Ekonomi UGM, namun Budiman tidak dapat menyelesaikan pendidikan di universitas tersebut.

Ia kemudian menerjunkan diri sebagai community organizer yang melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibat kegiatannya ini pula, dia tidak sempat menyelesaikan kuliahnya.

Pada tahun 1996, Budiman mendeklarasikan PRD yang kemudian menyebabkan dirinya dipenjara oleh pemerintah Orde Baru dan divonis 13 tahun penjara, dan hanya dijalani selama tiga tahun, karena dianggap sebagai dalang insiden peristiwa 27 Juli 1996.

Peristiwa ini disebut juga Sabtu Kelabu, satu peristiwa penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jl. Diponegoro, Jakarta. Pertikaian terjadi di antara para pendukung PDI yang telah pecah untuk memperebutkan kantor DPP mereka yang terletak di Jl. Diponegoro 58 Jakarta Pusat.

Setelah ada perlawanan dari pendukung PDI dan juga dari rakyat Jakarta yang mengakibatkan Kota Jakarta terbakar pada 27 Juli. Akibatnya Budiman dituduh sebagai dalang karena dianggap mendalangi Mimbar Bebas selama satu bulan sebelumnya.

Karena kemenangan gerakan demokrasi, Budiman hanya menjalani hukuman selama 3,5 tahun setelah diberi amnesti oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 10 Desember 1999.

Setelah kembali ke Indonesia, pada akhir 2004 Budiman bergabung ke PDI Perjuangan, dan membentuk Repdem (Relawan Perjuangan Demokrasi), sebuah organisasi sayap partai.

Pada periode 2009-2019, Budiman menjabat sebagai anggota DPR RI dari PDI Perjuangan (dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII: Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap) dan duduk di komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, dan agraria; dan juga merupakan Wakil Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Desa.

Pada tingkat internasional, Budiman terlibat aktif sebagai pengurus Steering Committee dari Social-Democracy Network in Asia (Jaringan Sosial-Demokrasi Asia).

Sekarang ini, dia juga memegang posisi sebagai Pembina Utama di Dewan Pimpinan Nasional organisasi Parade Nusantara, yaitu organisasi yang menghimpun para kepala desa dan seluruh perangkat desa di seluruh Indonesia yang memiliki agenda utama memperjuangkan pengesahan RUU pembangunan pedesaan.

Budiman ikut terlibat aktif memelopori penyusunan Undang-Undang Desa pada tahun 2009. Ia menjanjikan penyusunan RUU Desa kepada konstituennya saat berkampanye di pemilihan legislatif, yang kemudian diwujudkan dengan kinerja penyusunan RUU tersebut, setelah ide serupa tidak berhasil diwujudkan sejak 2005.

Setelah masuk ke Senayan, Budiman menjadi jangkar politik bagi pegiat desa, misalnya mempertemukan pegiat desa dengan Komisi II secara institusional dan personal. Terwujudnya Parade Nusantara (2009) di bawah pimpinan Sudir Santosa, dan Budiman juga hadir sebagai pembinanya, membuat dorongan untuk mewujudkan Undang-Undang ini semakin kuat, dan puncaknya pada September hingga Desember 2011.

Akhirnya atas desakan publik, Presiden SBY mengeluarkan Ampres RUU Desa pada Januari 2012. DPR RI kemudian membentuk Pansus RUU Desa yang dipimpin oleh Ketua Akhmad Muqowam (PPP), serta wakil ketua Budiman (PDI Perjuangan), Khatibul Umam Wiranu (Demokrat) dan Ibnu Munzir (Golkar).

Pendirian Inovator 4.0 Indonesia

Pada 11 September 2018, Inovator 4.0 Indonesia dideklarasikan dengan Budiman sebagai ketua umumnya. Komunitas ini berisikan akademisi, ahli rekayasa, peneliti, programmer, seniman, dokter dan lainnya yang berhubungan dengan komputasi kuantum, rekayasa genetik, pertanian presisi, kecerdasan buatan, drone, otomatisasi, sumber energi terbarukan, pendidikan, manajemen talenta, dan sosial budaya untuk memicu lompatan Indonesia menuju Revolusi Industri 4.0.

Pada 19 Agustus 2019, Budiman bersama berbagai ahli, talenta, dan akademisi PhD Inovator 4.0 Indonesia dari luar negeri menemui presiden Republik Indonesia dan membuat pernyataan siap pulang untuk ikut membangun negeri dan menularkan pengetahuan yang telah mereka dapat kepada talenta-talenta lainnya di Indonesia, terutama di desa.

Inovator 4.0 Indonesia juga yang memelopori peringatan mengenai Firehose of Falsehood dalam pelaksanaan Pemilu 2019 dan memberikan edukasi untuk mengalahkannya.

Aktivitas di Media Sosial dan Publikasi

Budiman tergolong politikus yang aktif di media sosial, terutama Twitter. Pendapat yang dia tuliskan di media sosial resminya sering dikutip oleh media sebagai berita.

Pada bulan Juni 2014, Budiman kembali berseteru di media sosial dengan Hutomo Mandala Putra. Perseteruan ini seperti sebuah aroma dendam lama di antara keduanya pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya rezim Orde Baru.

Budiman meluncurkan buku pertama Anak-Anak Revolusi di Jakarta pada April 2012. Buku ini adalah kisah nyata perjalanan panjang dan berliku Budiman untuk mencari jawaban dan memperjuangkan mimpinya yang tertanam sejak dini.

Buku ini sengaja ditulisnya sendiri karena mengisahkan tentang Indonesia yang disaksikan oleh Budiman secara langsung.

Buku jilid pertama dari dua edisi ini bercerita mulai dari Budiman kecil sampai dengan dia dipenjara oleh Orde Baru. Mulai dari pertanyaan batinnya saat ia masih kecil tentang mengapa ada kemiskinan, kemudian menemukan jalan yang dituju yaitu politik, sampai dengan perjuangannya mewujudkan cita-cita demokrasi Indonesia. (*)

Sumber: Wikipedia

Ali Syariati adalah Potret Muslim Revolusioner

Oleh: Bahry Al Farizi

Ali Syariati adalah salah satu intelektual muslim revolusioner dan berpengaruh yang berasal dari Iran. Beliau merupakan salah satu tokoh kunci keberhasilan revolusi Iran. Lewat berbagai tulisan serta kuliah yang ia berikan, ia mampu mempengaruhi opini publik rakyat Iran supaya memahami Islam secara emansipatoris sekaligus revolusioner.

Sepak terjang Syariati berujung jatuhnya rezim diktator Shah Pahlevi yang telah lama menjadi musuh bagi kaum progresif Iran. Keberpihakan Syariati kepada wong cilik membawanya pada suatu pengembaraan intelektual yang panjang.

Profil Ali Syariati

Syariati sangat mengagumi sosok ayahnya, Muhammad Taqi Syari’ati, seorang ulama besar sekaligus penggerak intelektualisme Iran yang lebih memilih hidup di tengah padang pasir Kavir dibanding bermewah-mewahan di Teheran.

Sedangkan dari jejak Intelektual, Syariati dipengaruhi oleh pemikir-pemikir Barat seperti Frantz Fanon (intelektual revolusioner asal Prancis), George Gurvich (membelot menantang rezim Stalin dan menentang penjajahan Prancis atas Aljazair), dan Louis Massignon (pemikir Katolik progresif). Kebenciannya atas kolonialisme maupun imperialisme Barat kepada dunia ketiga tidak membuatnya alergi menimba ilmu dari intelektual Eropa.

Selain dikenal sebagai akademisi, Syariati juga dikenal sebagai aktivis yang kerap masuk keluar penjara dengan tuduhan subversif kepada pemerintah. Aktivisme serta keberpihakannya terhadap kaum tertindas kemudian mengantarnya menjadi Intelektual Muslim yang diperhitungkan di dunia.

Perlu digarisbawahi, Syariati adalah penganut Islam Syiah. Oleh karenanya, Islam revolusioner yang digagas Syariati kental dengan nilai-nilai Islam Syiah. Beliau sangat menjiwai perjuangan Imam Husein as dan imam-imam Syiah yang terbunuh sebagai Syuhada’. Imam Ali bin Abi Thalib as disebutnya “telah mengorbankan hidupnya untuk menegakkan suatu mazhab pemikiran, persatuan dan keadilan,” tulis Jalaluddin Rahmat dalam pengantar buku Ideologi Kaum Intelektual.

Tetapi sayang, beliau meninggal sebelum menyaksikan kemenangan rakyat Iran atas rezim diktator Shah Pahlevi pada 10 Muharram 1398 H/1978 M. Ada yang mengatakan ia terkena sakit jantung, tetapi dugaan kuat ia dibunuh oleh polisi rahasia Shah, SAVAK, yang terkenal kejam.

Intelektual yang Radikal

Jangan sampai kita salah paham dengan pemaknaan radikal di sini. Yang dimaksud sebetulnya ialah “berpikir secara mendalam, menyentuh akar persoalan dan menyediakan solusi terarah”. Menjadi radikal dalam konteks dunia pemikiran merupakan syarat sah seseorang dapat dipredikatkan sebagai thinker atau pemikir.

Seorang radikal tidak mesti menggunakan kekerasan dalam melancarkan aksinya. Termasuk Syariati berusaha mendamaikan konsep perang kelas marxisme dengan tauhid pembebasan perspektif Syiah. Lebih memilih propaganda lewat orasi beserta pena dibanding dengan senjata. Pun revolusi Iran 1978 penuh dengan darah.

Tokoh Reformasi kita, Prof. Amien Rais mengungkapkan kekagumannya dalam pengantar buku Tugas Cendekiawan Muslim terjemahan dari karya Syariati, “Beberapa buku almarhum Dr. Ali Syariati pernah saya baca dan setiap selesai membaca buku-buku itu, saya benar-benar mendapat wawasan baru tentang Islam dan kehidupan modern. Yang khas dari Syariati adalah keradikalan berpikirnya serta keterusterangannya untuk memberikan penilaian pada berbagai masalah sosial di dunia Muslim pada umumnya dan Iran pada khususnya.”

Kendati konteks permasalahan yang dihadapi Syariati berbeda dengan apa yang dihadapi di Indonesia, menurut Prof. Amien, butir-butir pemikirannya dapat dikaitkan dengan problematika yang mendera umat Islam di Indonesia yang terancam dengan kebekuan berpikir.

Dan permasalahan ini masih mengelilingi kita sampai sekarang. IBTimes.ID saja kerap mendapatkan tuduhan sebagai agen liberal dari beberapa orang. Bukan bermaksud menghakimi, namun sempitnya perspektif dalam memandang keragaman pemikiran dapat menyebabkan umat Islam berjalan mundur ke belakang. Bahkan bisa saja terjatuh dalam pertikaian yang tak ada habisnya.

Rausyan Fikr

Islam tidak hanya membahas dimensi spiritual semata, tetapi juga dimensi sosial-kemanusiaan. Maka Islam sebagai agama memiliki fungsi multidimensi terhadap keharmonisan hidup antara manusia dan alam.

Tidak berhenti sampai di situ, menurut Syariati, Islam bukan sekadar agama melainkan juga ideologi. Tidak seperti marxisme menganggap bahwa ideologi adalah kesadaran palsu, bagi Syariati, ideologi adalah kesadaran khas manusia yang dapat membimbingnya menuju kemerdekaan.

Ideologi adalah pandangan atau sikap yang menghilangkan netralitas terhadap sesuatu. Karena netralitas hanya membawa kita pada obyektivitas, sedangkan obyektivitas di sini telah disuapkan oleh Barat kepada kita. Obyektivitas dikonstruksi oleh kelas yang berkuasa sehingga seorang pemikir tidak bisa memberikan solusi nyata bagi masyarakat karena hanya bekerja sesuai standar ilmiah semata, bukan amaliah.

Bagi Syariati, ideolog tidak melulu seorang akademisi yang sibuk mengkaji teori dan teori. Kesadaran ideologis tumbuh tanpa mengenal apakah seseorang itu adalah akademisi, intelektual, ilmuwan, teoritis, atau hanya seorang penggembala kambing. Dibuktikan, seorang nabi tidaklah melulu berasal dari kelas yang berkuasa. Kebanyakan berasal dari kelas yang tertindas, Syariati menyebutnya sebagai ummiUmmi adalah karakter kelas bawah yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, tetapi kesadaran ideologisnya tumbuh untuk menentang kemapanan yang diciptakan oleh kelas yang berkuasa.

Intelektual muslim berideologi seperti itu, kelak oleh Syariati disebut sebagai Rausyan Fikr atau seseorang yang mengikuti ideologi yang dipilihnya secara sadar. Bermakna pula pemikir yang sadar dengan kondisi masyarakat, turun untuk mencari solusi bersama lalu bertindak untuk mengubahnya ke keadaan yang lebih baik.

Kesimpulan

Peranan yang dimainkan oleh Rausyan Fikr berbeda dengan para filosof. Syariati memberikan contoh mengenai peradaban Yunani yang penuh dengan akademisi, ilmuan, maupun filosof. Aristoteles bukanlah Rausyan Fikr, sebab ia tidak memelopori satu pun gerakan sosial. Rausyan Fikr harus berwujudkan dari intelektual, aktivisme, dan spiritualitas.

Beginilah peran Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah. Dan begitulah seharusnya intelektual muslim ideologis. Pengutusan Nabi Muhammad bukan hanya sekadar memperbaiki akhlak manusia, tetapi juga membawanya menuju pembebasan sejati dari kaum-kaum pengisap yang senantiasa berbuat kerusakan di atas bumi. (*)

Sumber: Ibtimes.id

Imam Muhammad al-Baqir: Tabiin Agung dan Pewaris Ilmu Nabi

BERITAALTERNATIF.COM – Imam Muhammad Baqir as, seperti juga para imam lainnya, adalah seorang manusia yang sempurna dan terpelihara dari segenap aib dan kekurangan serta memiliki semua kesempurnaan insani. Pernyataan tersebut bukan hanya diyakini oleh para pecinta Ahlulbait, melainkan juga oleh para penentangnya.

Syekh Mufid berkata: “Imam Baqir Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain, di antara saudara-saudaranya, merupakan pengganti ayahnya, Ali bin Husain, serta imam setelah sang ayah. Dari segi ilmu, zuhud, serta qiyadah ‘kepemimpinan’, ia lebih mulia daripada saudara-saudaranya. Di kalangan masyarakat umum dan khusus, ia lebih populer, terkenal, dan lebih berwibawa. Apa yang tampak dari ilmu agama, sunah, tafsir Alquran, sirah, serta adab kehidupan Imam tidaklah tampak pada diri anak-anak Hasan dan Husain lainnya. Sisa-sisa sahabat, para pembesar dari tabiin, dan ulama fikih meriwayatkan persoalan agama dari Imam Baqir.”

Imam Baqir populer dengan keutamaan ilmu sehingga berbagai macam syair dikumandangkan untuk menyifati keutamaannya itu. Abu Fida mengenai Imam mengatakan: “Muhammad bin Ali bin Husain Abu Jafar Baqir adalah tabiin yang sangat mulia dari segi ilmu, amal, dan qiyadah. Kemuliaannya merupakan yang paling menonjol di tengah umat. Umat Syiah lmamiyah meyakininya sebagai salah satu imam dari dua belas imam. Dia banyak sekali menukilkan hadis dari Rasulullah Saw dan banyak jemaah dari tabiin yang meriwayatkan darinya. Di antara para perawinya adalah putranya Ja’far Shadiq, Hakam bin Utaibah, Rabniah, Abi Ishaq Sabi’i, Auzai, A’raj, Ibn Juraih, Atha’, Amr bin Dinar, dan Zuhri.”

Ahmad bin Hajar Haitsami mengenai Imam menuliskan: “Abu Ja’far Muhammad Baqir adalah pewaris ilmu, ibadah, dan zuhud Ali bin Husain. Dinamakan Baqir sebab dia mampu menyingkap hakikat ilmu dan menguaknya. Dia mengungkapkan simpanan-simpanan pengetahuan, hakikat hukum, serta hikmah yang dapat diterima oleh semua, kecuali orang-orang yang buta batinnya dan rusak akidahnya. Oleh karena itulah, dia dinamakan dengan ‘pengungkap dan penyebar ilmu’. Hatinya bercahaya. Ilmu dan amalnya bersih. Jiwanya suci. Penciptaannya indah dan tampan. Usianya dihabiskan dalam ketaatan kepada Allah. Akhlak dan cara hidupnya, dalam maqam irfan, tidak terjangkau untuk disifati sementara, dalam sair sulk, serta pengetahuan, dia banyak menyampaikan pandangan yang memerlukan waktu panjang untuk menyebutkannya.”

Imam Muhammad Baqir as, pada masanya terhitung sebagai salah satu ahli fikih dan ulama besar. Rasulullah Saw sebelumnya telah memberitahukan maqam keilmuannya. Jabir bin Abdullah Anshari menukil dari Rasulullah Saw yang mengatakan kepadanya: “Wahai Jabir! Engkau akan bertemu dengan salah seorang anakku dari keturunan Husain yang namanya sama dengan namaku. Dia menyingkapkan ilmu dan mendedahkan hakikat.”

Jabir memiliki umur panjang sehingga dapat bertemu dengan Imam Muhammad Baqir dan menyampaikan salam Rasulullah Saw kepada Imam.

Banyak sekali pembesar yang memuji maqam keilmuan Imam. Di antaranya adalah beberapa orang berikut ini. Ibn Barqi menyebut Imam sebagai seorang ahli fikih yang mulia, sementara Nasa’i menyebutnya sebagai ahli fikih Madinah dari kalangan tabiin.

Abdullah bin Atha’ Makki berkata: “Ulama begitu merendahkan diri di hadapan Muhammad Baqir, hal yang tidak mereka lakukan di hadapan orang lain. Aku melihat Hakam bin Utaibah dengan kewibawaan dan keagungan yang dimilikinya, tatkala bertemu dengan Muhammad bin Ali, bagaikan anak kecil yang berada di hadapan gurunya.”

Ibn Abil Hadid menulis: “Muhammad bin Ali bin Husain adalah pembesar para ahli fikih Hijaz. Masyarakat belajar darinya dan dari putranya, Ja’far. Dia mendapatkan gelar baqirul ulum. Saat belum dilahirkan, Rasulullah Saw memanggilnya dengan laqab tersebut dan kepada Jabir bin Abdullah Anshari, Nabi Saw memberitakan kabar gembira tentang pertemuan Jabir dengan cucunya itu seraya berkata, ‘Sampaikan salamku kepadanya!’”

Syekh Mufid menulis: “Dari Abu Ja’far, banyak sekali diriwayatkan hadis tentang awal mula penciptaan alam, sejarah para nabi, peperangan, sunah dan sirah, serta manasik haji Rasulullah Saw sementara dalam tafsir Alquran, banyak sekali dikutipkan hadis melalui khawas dan ammah, bahwa dia berdebat dengan sekelompok ahli kebatilan dan pembangkang. Masyarakat banyak mengambil ilmu darinya.”

Bukti yang terbaik untuk menisbahkan maqam ketinggian ilmu Imam Baqir adalah banyaknya hadis yang keluar darinya dalam berbagai bidang keilmuan: akidah, kalam, filsafat, fikih, akhlak, sejarah, dan persoalan-persoalan sosial. Para mufasir dan perawi hadis mencatat dan mengutip hadis-hadis itu dalam kitab-kitab mereka.

Hadis-hadis yang dinisbahkan kepada Imam begitu banyak sehingga dapat dikatakan bahwa Imam Baqir, sepanjang hidupnya, mendidik murid-murid yang pandai dan istimewa. Murid-murid Imam terhitung sebagai sahabat dan perawi hadisnya. Kami akan menyebutkan sebagian dari mereka: Abu Hamzah Tsumali, Tsabit bin Dinar, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Ali bin Rafi’, Dhahhak bin Muzahim Khurasani, Hamid bin Musa Kufi, Abu Fadzl Sudair bin Hakim bin Shuhaib Shairafi, Abdullah Barqi, Yahya bin Ummu Thawil Math’ami, Hakim bin Jubair, Farazdaq, Farat bin Ahnaf, Ayyub bin Hasan, Abu Muhammad Quraisy Saddi Kufi, Thawus bin Kiysan Hamadani, Aban bin Thaglib bin Riyah, Qays bin Ramanah, Abu Khalid Kabuli, Sa’id bin Musabbib Makhzumi, Umar bin Ali bin Husain, dan saudaranya, Abdullah serta Jabir bin Muhammad bin Abi Bakar.

Murid-murid ini memiliki posisi istimewa dalam mempelajari dan meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Baqir. Mereka menyebarkan ilmu yang mereka peroleh dari Imam dan menjadi perawi hadis yang dihormati. Imam Baqir dan putranya, Imam Shadiq, merupakan dua imam yang paling banyak memiliki hadis. Hadis-hadis mereka mencakup berbagai bidang keilmuan dan menjadi rujukan penting bagi para mufasir, perawi hadis, dan ulama pada masa itu.

Dengan demikian, Imam Muhammad Baqir adalah seorang ulama yang memiliki keilmuan yang tinggi dan dihormati oleh banyak orang. Maqam keilmuannya dikenal luas dan disebut-sebut oleh banyak pembesar, ulama, dan murid-muridnya. Hadis-hadis yang keluar dari Imam Baqir menjadi sumber penting dalam memahami berbagai aspek agama dan kehidupan.

Sumber-sumber ilmu Imam Baqir meliputi: Pertama, Imam hidup kurang lebih dengan ayahnya, Imam Zainal Abidin, selama 35 tahun dan meneguk banyak ilmu dari sang ayah.

Kedua, kitab-kitab hadis diterima Imam melalui warisan. Kitab-kitab tersebut didiktekan Rasulullah Saw melalui tulisan tangan Imam Ali bin Abi Thalib as yang diwariskan kepada keturunannya suci.

Ketiga, Imam memanfaatkan dengan teliti segala potensi tersebut serta dengan dukungan Ilahiah dari ayat Alquran.

Keempat, Imam menyingkapkan ilham gaib dan batin yang diperolehnya melalui ruh malakuti dan qudsiah dari alam gaib. (*)

Sumber: Dikutip dari buku karya Ayatullah Ibrahim Amini—Para Pemimpin Teladan via Safinah Online

Ayatullah Ibrahim Amini, Tokoh Pendidikan Islam

BERITAALTERNATIF.COM – Ibrahim Amini Najafabadi (1304-1399 HS/1925-2020) seorang ruhaniawan Syiah, berperan aktif dalam revolusi Islam Iran, dan wakil ketua Majlis Khubrigan (lembaga tertinggi pemimpin revolusi Iran).

Dia juga anggota Jami’ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, anggota Majma’ Tasykhish Mashlate Nizham (lembaga penentu kelayakan konstitusi), imam jumat Qom, imam jamaah masjid A’zham di Qom dan termasuk murid Ayatullah Burujerdi, Imam Khomaini, dan Allamah Thabathabai.

Pembentukan satu kelompok dengan tujuan mereformasi Hauzah Ilmiah Qom dan penerapan hukum-hukum politik pada tahun 1341 HS/1962 M, penanda tanganan surat pengumuman kemarjaan Imam Khomaini dan pemberian motivasi kepada masyarakat untuk mengadakan unjuk rasa demi kebebasan Imam Khomaini termasuk di antara aktivitas-aktivititas politisnya sebelum revolusi.

Paska revolusi, Amini sebagai wakil Imam Khomaini pergi ke beberapa kota Iran untuk menyelesaikan problematika masyarakat, dan menjadi anggota Dewan Peninjau Konstitusi Iran.

Amini menulis beberapa karya dalam berbagai tema. Sebagian dari karya-karyanya seperti buku Farhangge Eslami va Ta’limāte Dini dan buku Dadgustare Jahan termasuk dari sumber mata pelajaran sekolah pendidikan Iran dan Hauzah Ilmiah Qom. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dan kejanggalan-kejanggalan seputar agama termasuk dari perhatian-perhatiannya paska revolusi. Buku-buku akhlak seperti Khudsasi (penyucian dan pembersihan jiwa), Javan va Hansarguzini (pemuda dan memilih jodoh) dan Hamsardari (pernikahan) termasuk dari karya-karya tulisnya.

Biografi dan Pendidikan

Amini lahir tahun 1304 HS/1925 M di Najafabad dan ditinggal mati ayahnya pada usia 6 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Najafabad, pada tahun 1321 HS/1942 M ia masuk Hauzah Ilmiah Qom, dan setelah tiga bulan tinggal di sana, meskipun ia suka belajar di Hauzah Qom, namun karena problem ekonomi, ia memilih Hauzah Ilmiah Isfahan untuk melanjutkan pendidikannya.

Dia menyelesaikan pelajaran-pelajaran tingkat dasarnya di Madrasah Nuriah, Madrasah Kasehgaran dan Madrasah Jaddeh Buzurg di Isfahan selama enam tahun, dan selama ini ia termasuk murid dari Mirza Ali Agha Syirazi.

Untuk menyempurnakan pelajaran Hauzah, ia pada tahun 1326 HS/1947 M masuk kota Qom. Dia termasuk dari murid Ayatullah Golpaigani, Ayatullah Mar’asyi Najafi, Imam Khomaini, Allamah Thabathabai dan Haji Agha Rahim Arbab, dan mengikuti pelajaran akhlak Imam Khomaini dan Agha Husain Qummi.

Amini termasuk dari dua belas orang yang pasca meninggalnya Ayatullah Hakim menandatangani surat pengumuman kemarjaan Imam Khomaini.

Wafat

Amini meninggal dunia pada 5 Urdibehesht 1399 HS/24 April 2020 M bertepatan dengan 30 Sya’ban di kota Qom, dan pada 7 Urdibehest Ayatullah Nuri Hamedani salah satu marja’ Taklid menyalati jenazahnya, kemudian dikuburkan di Haram Sayidah Maksumah sa.

Karena menyebarnya virus corona dan menjaga anjuran protokol kesehatan, maka seremoni pengiringan jenazah dan penguburannya tidak diselenggarakan secara umum.

Aktivitas-Aktivitas Ilmiah dan Budaya

Amini mengatakan, “Spesialisasi ilmu-ilmu agama merupakan satu keniscayaan yang sangat disayangkan tidak mendapat perhatian, baik dahulu maupun masa kini. Meskipun di zaman akhir ini muncul sebagian bidang-bidang kejurusan dan spesialisasi, namun disayangkan sekali pelajaran-pelajaran tersebut tidak diseriusi bahkan dianggap sebagai pelajaran-pelajaran cabang dan sampingan.”

Amini mengajarkan kitab-kitab fikih, ushul, filsafat dan teologi, dan ikut serta dalam seminar-seminar ilmiah dan budaya di berbagai negara, di antaranya Inggris, Prancis, China, dan Jepang.

Dari tahun 1377 HS/1998 M, Amini menjadi imam salat jama’ah masjid A’zham Qom untuk salat magrib dan isya. Seusai salat, ia mendengarkan pembicaraan-pembicaraan masyarakat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Pasca revolusi Islam, Amini lebih menfokuskan kebanyakan aktivitasnya untuk menjawab kejanggalan-kejanggalan dan masalah-masalah kekinian. Menurut keyakinannya, pasca revolusi Islam, sekian banyak dari kalangan guru dan akademisi menyukai pandangan-pandangan Islam mengenai berbagai masalah.

Mengingat bahwa para ruhaniawan sibuk dengan aktifitas belajar dan mengajar, maka ia bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ini.

Karya-Karya dan Aktivitas Politik

Dari Amini telah terbit dan dicetak 34 jilid buku dalam berbagai tema Islami. Dia meyakini motivasi penulisan buku-bukunya adalah kebutuhan masyarakat dan tidak adanya buku-buku yang layak mengenai tema tersebut.

Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, termasuk Fatimah Az-Zahra, Wanita Teladan Sepanjang MasaHijrah Menuju AllahFatimah Az-Zahra, Wanita Teladan Sepanjang MasaSemua Perlu TahuAgar tak Salah MendidikKiat Memilih Jodoh Menurut Alquran dan SunnahBimbingan Islam untuk Kehidupan Suami-IstriRisalah Tasawuf: Kitab Suci Para Pesuluk.

Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, termasuk Fathimah Az-Zahra, Wanita Teladan Sepanjang MasaHijrah Menuju AllahFatimah Az-Zahra, Wanita Teladan Sepanjang MasaSemua Perlu TahuAgar tak Salah MendidikKiat Memilih Jodoh Menurut Alquran dan SunnahBimbingan Islam untuk Kehidupan Suami-IstriRisalah Tasawuf: Kitab Suci Para Pesuluk.

Ayatullah Amini termasuk tokoh politik Republik Islam Iran. Dia pernah menjadi wakil ketua Khubrigan Rahbari (lembaga tertinggi pemimpin revolusi Iran), ketua sekretariat Khubrigan dan imam jumat Qom. Sebagian aktivitas politis Amini diperankan sebelum Revolusi Islami dan sebagian lagi pasca Revolusi.

Sebelum dan setelah Revolusi

Amini termasuk dari para pejuang sebelum terjadi revolusi, dan bersama dengan orang-orang yang satu pemikiran dengannya seperti Ayatullah Quddusi, Rabbani Syirazi, Mishbah Yazdi, Sayid Ali Khamenei dan Hasyimi Rafsanjani membentuk sebuah lembaga pada tahun 1341 HS/1962 M yang di kemudian hari dapat membentuk titik Pusat Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom.

Salah satu tujuan pembentukan pusat ini ialah mereformasi Hauzah Ilmiah, melakukan amar makruf, mencegah kemungkaran dan menjalankan hukum-hukum politik. Demikian juga lembaga ini menerbitkan majalah Bi’tsat dan Intiqam.

Dalam peristiwa ditangkapnya Imam Khomaini, Amini adalah satu di antara para ulama yang pergi dari Qom ke Tehran untuk mengajukan protes demi kebebasan Imam Khomaini.

Dia juga memiliki andil dalam menyiapkan informasi-informasi dan memotivasi masyarakat untuk mengadakan unjuk rasa. Dalam buku kenangannya, ia menyinggung beberapa kejadian tahun 1342 HS/1963 M hingga masa revolusi.

Di antara kenangan-kenangan ini adalah: peristiwa Faidhiyah, penangkapan Imam Khomaini, peristiwa 15 Khordad dan kenangan-kenangan tahun 1341 HS/1962 M sampai masa kemenangan revolusi.

Setelah revolusi Islam Iran, Amini menjadi anggota Jami’ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, anggota Dewan Pengawas Universitas Imam Shadiq as, anggota Majlis Khubrigan (lembaga tertinggi pemimpin revolusi), dan Lembaga Penentu Kelayakan Konstitusi.

Dia juga menjadi anggota Dewan Syura Peninjau konstitusi, dan pada masa awal-awal revolusi ia pergi ke kota-kota Nahavand, Hormozgan, Mazandaran, Hamedan dan Malayer sebagai perwakilan Imam Khomaini.

Pada tahun 1357 HS/1978 M ia ditugaskan oleh Imam Khomaini untuk pergi ke Turkanam Shahra dan menyelesaikan perselisihan di antara masyarakat dan kaum elite yang diwujudkan oleh kelompok munafikin. Keanggotaan dalam Syura Tinggi Lembaga Internasional Ahlulbait, imam jumat di kota Qom termasuk dari jabatan-jabatan lainnya. (*)

Sumber: Wikishia

Imam Khomeini: Berhati-hatilah kalau Anda Ditokohkan di Masyarakat

BERITAALTERNATIF.COM – Di antara kalian, pasti ada yang punya cita-cita untuk memperbaiki keadaan masyarakat, dengan menjadi tokoh, figur, atau pemimpin. Tapi, siapa saja yang berniat memperbaiki dunia, seharusnya ia terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri. Mulailah upaya itu dari sekarang, dan jangan ditunda-tunda.

Jika kalian menunda-nunda, kalian akan terjebak ke dalam situasi di mana kalian terlanjur menjadi tokoh. Di saat itu, masyarakat mengagumi dan menjadikan kalian sebagai orang yang terpercaya.

Padahal, diri kalian sendiri belumlah benar. Kalau itu sampai terjadi, kalian akan terlena dan kehilangan kontrol diri. Kalian akan menjadi pribadi yang menyesatkan masyarakat, karena yang kalian bimbingkan kepada masyarakat adalah hal-hal yang tidak otentik.

Renungan

Ini adalah nasihat spiritual dari Imam Khomeini yang harus kita perhatikan dengan saksama. Para aktivis ABI adalah orang yang menjadi objek kata-kata Imam tersebut. Kita adalah orang yang memiliki tekad sekaligus amanah untuk memperbaiki masyarakat. Sebagian dari kita malah sudah memiliki “gelar” ustaz, aktivis, intelektual, atau tokoh di tengah-tengah masyarakat.

Akan tetapi, Imam Khomeini secara tegas mewanti-wanti kita untuk berhati-hati dengan persepsi tokoh yang melekat pada diri kita tersebut.

Alih-alih merupakan tanda kebaikan, posisi dan ketokohan kita itu malah menjadi indikasi sangat buruknya posisi kita di hadapan Allah. Itu akan terjadi manakala kita sebenarnya tidak memiliki kelayakan atau kapasitas untuk menjadi tokoh.

Jika kita sebenarnya tidak punya kapasitas menjadi ustaz, tapi kemudian masyarakat menyebut kita ustaz, kita akan tersandera dengan gelar yang keliru itu.

Sebagai orang yang “di-ustaz-kan, masyarakat akan bertanya kepada kita tentang sejumlah masalah fikih, misalnya. Nah, kalau kita tidak bisa menjawab, kita akan malu. Tapi, kalau kita menjawab, sangat mungkin jawaban kita keliru.

Situasi seperti itu sangat mungkin dikategorikan sebagai bentuk kebodohan yang dikecam dalam Alquran, dan pelakunya diancam dengan siksaan yang sangat pedih.

Allah berfirman:

Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzāb [33]: 72)

Kebodohan semacam ini juga merupakan sebuah penjara. Orang semacam ini beranggapan bahwa kesalahan yang telah dikerjakannya merupakan sebuah kebaikan dan akan mendatangkan pahala.

Dalam sebuah riwayat, Imam Ja’far Shadiq bercerita tentang seorang yang dermawan. Akan tetapi, harta sedekahnya itu merupakan hasil perampokan. Orang itu berniat mengamalkan firman Allah yang berbunyi:

Siapa saja yang membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan siapa saja yang membawa perbuatan yang jahat, maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya. (QS. Al-An’ām [6]: 160)

Jadi, dalam logika orang itu, dia tetap mendapatkan pahala yang besar, karena, saat dia merampok, dosanya satu; sedangkan saat ia bersedekah, pahalanya sepuluh. Dengan demikian, ia memiliki sembilan kebaikan.

Imam menegur orang tersebut, dan mengatakan bahwa harta yang ia sedekahkan itu bukanlah harta dirinya, melainkan harta milik orang yang ia rampok. Karenanya, seandainya pun ada orang yang mendapat pahala, maka yang mendapat pahala itu adalah orang yang hartanya dicuri itu, bukan si pencuri.

Allah berfirman:

Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang merugi dalam perbuatannya?’  Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”(QS. Al-Kahf[18]: 103-104)

“(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka telah beriman) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya (sumpah itu) ada gunanya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.” (QS. Al-Mujadalah [58]: 18)

Sebagai aktivis dan duta sebuah mazhab suci, kita harus betul-betul memperhatikan masalah ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang sangat merugi, gara-gara kita menyangka bahwa kita berbuat baik, menjadi tokoh, aktivis, dan ustaz bagi masyarakat. Padahal, kita sebenarnya tidak memiliki kapasitas sebagaimana yang disyaratkan. Akibatnya, kita malah mendapatkan azab yang pedih.

Tentu harus segera ditambahkan bahwa prinsip ini tidak berarti bahwa kita harus mundur dari aktivitas sosial. Bagaimanapun juga, aktivitas sosial adalah kewajiban kita. Meninggalkan aktivitas sosial juga berakibat dosa.

Inti pesan moralnya: Jangan merasa cukup dengan ilmu dan kecakapan kita sekarang ini, hanya gara-gara kita punya jabatan dan dianggap ustaz/aktivis oleh masyarakat. Kita harus terus menambah ilmu dan memperbaiki diri kita; karena keduanya adalah tugas kita seumur hidup. (*)

Sumber: Dikutip dari rubrik Pesan Spiritual, Buletin Al-Wilayah, edisi 10, Maret 2017, Jumada Al-Akhira 1438 via Safinah Online