Search
Close this search box.
Search

Imam Muhammad Baqir as, Unggul dalam Keilmuan dan Kezuhudan

BERITAALTERNATIF.COM – Mengenal Imam Syiah yang kelima, yakni Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as yang terkenal dengan sebutan Imam Baqir as (57-114 H/733). Beliau menjadi imam selama 19 tahun di mana masa keimamahannya bertepatan dengan era kelemahan pemerintahan Bani Umayah dan perebutan kekuasaan di antara mereka. Pada periode tersebut, beliau telah membuat gerakan pengembangan ilmu yang sangat luas yang mencapai puncaknya pada periode keimamahan putranya Imam Shadiq as . Dikatakan bahwa Imam Baqir as sangat tinggi dalam sisi keilmuan, kezuhudan, keagungan dan keutamaan. Darinya telah banyak periwayatan yang dinukil dalam bidang ilmu agama seperti dalam ilmu fikih, tauhid, hadis dan sunah Nabi saw, ilmu Alquran, sejarah, akhlak dan sastra. Pada masa keimamahannya, telah diambil langkah-langkah penting dalam penyusunan pandangan-pandangan Syiah dalam berbagai bidang pengetahuan, seperti akhlak, fikih, kalam, tafsir, dan sebagainya. Para ulama Ahlusunah memberi kesaksian atas kemasyhuran ilmu dan agama Imam Baqir as. Ibnu Hajar Haitami berkata, “Abu Ja’far Muhammad Baqir menyingkap khazanah ilmu yang terpendam, hakikat-hakikat hukum dan mutiara-mutiara kebijaksanaan. Ia menghabiskan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Imam Baqir as telah sampai pada kedudukan para arif, dimana bahasa tidak mampu menjelaskan sifat-sifatnya. Ia pun mempunyai banyak memiliki kata-kata mutiara dalam hal suluk dan pengetahuan.” Nasab, Julukan dan Gelar Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang terkenal dengan sebutan Imam Baqir as adalah Imam Kelima Syiah, putra Imam Sajjad as. Ibunya bernama Ummu Abdillah adalah putri dari Imam Hasan al-Mujtaba as. Imam Baqir as merupakan orang pertama dari Bani Hasyim yang lahir dari ayah dan ibu yang sama-sama berasal dari Bani Hasyim. Nasabnya dari kedua orang tua sampai kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. Di antara gelar Imam Baqir as yaitu Syakir, Hadi dan Baqir. Baqir merupakan gelarnya paling masyhur yang berarti “pembuka”. Ya’qubi menulis bahwa Imam Baqir as digelari dengan Baqir al-Ulum karena menjadi pembuka atau penyingkap khazanah ilmu pengetahuan. Julukannya yang terkenal adalah Abu Ja’far. Dalam sumber-sumber riwayat, beliau lebih dikenal dengan julukan Abu Ja’far awal. Hari Lahir Imam Baqir as lahir pada hari Jumat, 1 Rajab tahun 57 H/677, di Madinah. Sebagian lagi menyebutkan hari lahirnya pada tanggal 3 Shafar tahun 57 H/677. Beliau sempat hadir dalam peristiwa Karbala pada usianya yang masih kanak-kanak. Penamaan Bertahun-tahun sebelum kelahiran Imam Baqir as, Nabi Muhammad saw telah menetapkan nama Muhammad dan gelar “Baqir” untuknya. Riwayat dari Jabir dan riwayat-riwayat lainnya menjadi bukti dari pemberian nama ini. Syahadah Imam Baqir as wafat pada tanggal 7 Dzulhijjah tahun 114 H/733.[8] Namun terdapat pendapat lain yang berbeda tentang tahun wafat dan kesyahidan Imam Baqir as. Mengenai siapa orang yang telah membunuh Imam Baqir as, terdapat beberapa riwayat dan sejarah yang beragam. Sebagian sumber menyebutkan Hisyam bin Abdul Malik sebagai pembunuh Imam Baqir as. Sebagian lainnya menyebutkan Ibrahim bin Walid yang telah meracunnya. Riwayat lain mencatat Zaid bin Hasan sebagai pelaku pembunuhan, karena memiliki dendam lama terhadap Imam Baqir as. Yang jelas, wafat Imam Baqir as terjadi pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik. Hal ini karena Hisyam memerintah dari tahun 105 H/724 – 125 H/743 dan Imam Baqir as wafat pada tahun 118 H/736. Sekalipun terdapat riwayat yang berbeda-beda, namun tidak menutup kemungkinan semuanya adalah benar, karena bisa jadi pelaku pembunuhan terhadap Imam Baqir as tersebut tidak hanya seorang. Dalam hal ini, setiap riwayat hanya menyebutkan salah satu dari pelaku pembunuhan saja. Dengan memperhatikan adanya kebencian Hisyam terhadap Imam Baqir as dan permusuhan Bani Umayah terhadap keluarga Imam Ali bin Abi Thalib as, tidak diragukan lagi bahwa terdapat dugaan kuat Hisyam yang melakukan pembunuhan terhadap Imam Baqir as secara tidak langsung dengan menyuruh orang lain. Dalam melaksanakan rencana jahatnya tersebut, Hisyam menggunakan kekuatan bawahannya yang dapat dipercaya. Hisyam menunjuk Ibrahim bin Walid yang masih bagian dari Bani Umayah dan memiliki permusuhan dengan Ahlulbait as. Beliau memberikan perlengkapan kepada seseorang dari anggota rumah keluarga Imam Ali bin Abi Thalib as yang tidak memiliki hambatan dalam lingkungan kehidupan Imam Baqir as, juga tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Sehingga, dengan perantaranya ia berhasil melaksanakan rencana licik Hisyam dan membunuh Imam Baqir as. Imam Baqir as dikuburkan di Baqi’ di samping kuburan ayahnya, Imam Sajjad as, dan kuburan paman dari ayahnya, Imam Hasan al-Mujtaba as. Istri dan Anak Sumber riwayat menyebutkan Ummu Farwah sebagai istri Imam Baqir as. Ia adalah ibu dari Imam Shadiq as. Ummu Hakim putri Usaid Tsaqafi juga disebut sebagai istri Imam Baqir as yang kemudian melahirkan dua putra Imam Baqir as. Imam juga memiliki istri lainnya dari hamba sahaya yang melahirkan tiga orang anak. Keturunan Imam Baqir as berjumlah tujuh orang, yaitu lima laki-laki dan dua perempuan. Imamah Imam Baqir as menjadi imam setelah ayahnya mati syahid. Ia menjadi pemimpin Syiah hingga wafat pada tahun 114 H/733 (atau 117 H/735). Dalil Keimamahan Syaikh al-Mufid menulis, “Imam Baqir as memiliki keunggulan di antara saudaranya dalam sisi keilmuan, kezuhudan, dan kemuliaan. Kedudukan dan kebesarannya lebih tinggi. Setiap orang memuji kebesarannya. Ia dihormati oleh masyarakat umum dan orang-orang khusus. Darinya terpancar ilmu-ilmu agama, sunah nabawi, ilmu Alquran, sejarah, akhlak dan sastra. Semua itu tidak nampak pada seorang pun dari keturunan Imam Hasan as dan Imam Husain as. Para sahabat Nabi saw yang tersisa, para pembesar dari tabi’in dan ulama fikih kaum muslimin meriwayatkan darinya. Keutamaan dan kebesarannya sedemikian rupa hingga menjadi perumpamaan di kalangan ulama. Mengenai sifat-sifatnya, para ulama menulis buku dan membacakan syair-syair tentangnya.” Para Penguasa pada Masa Imam Baqir as Masa keimamahan Imam Baqir as berbarengan dengan lima penguasa Bani Umayah: Walid bin Abdul Malik (86 H/705-96 H/715), Sulaiman bin Abdul Malik (96 H/715-99 H/718), Umar bin Abdul Aziz (99 H/718-101 H/720), Yazid bin Abdul Malik (101 H/720-105 H/724), Hisyam bin Abdul Malik (105 H/724-125 H/743). Dari kelima penguasa Bani Umayah tersebut, Umar bin Abdul Aziz terbilang bertindak menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana. Sementara para penguasa lainnya memerintah dengan kesewenang-wenangan dan bertindak zalim terhadap masyarakat, terutama kepada orang-orang Syiah. Di istana mereka sangat nampak kerusakan, kemungkaran, dendam dan pengkastaan manusia. Kebangkitan Ilmu Tahun 94 H/713 hingga 114 H/733 merupakan masa munculnya aliran-aliran fikih dan puncak periwayatan mengenai tafsir

Baca Selengkapnya

Mengenal Imam Muhammad al-Jawad as

BERITAALTERNATIF.COM – Muhammad bin Ali bin Musa atau yang masyhurnya: Imam Jawad dan Imam Muhammad Taqi (195-220 H) adalah Imam Kesembilan Syiah Itsna Asyariyah. Ia memegang tampuk keimamahan selama 17 tahun dan pada usia 25 tahun meneguk cawan syahadah. Ia adalah imam termuda yang syahid. Usia muda yang dimiliki Imam Jawad as saat ayahandanya syahid, membuat sekelompok sahabat Imam Ridha as meragukan keimamahannya. Sebagian mereka menyebut saudaranya, Abdullah bin Musa sebagai imam, dan sebagian lainnya bergabung dengan kelompok Waqifiyah. Namun mayoritas mereka menerima keimamahan Muhammad bin Ali as. Hubungan Imam Jawad as dengan Syiahnya lebih banyak melalui para wakilnya dan korespondensi. Pada periode keimamahan imam kesembilan Syiah, kelompok-kelompok ahli hadis, Zaidiyah, Waqifiyah dan Ghulat memiliki aktivitas. Imam memberitahukan akidah mereka kepada syiahnya dan melarang mereka salat berjamaah di belakang kelompok-kelompok tersebut serta mengutuk orang-orang Ghulat. Perdebatan ilmiah Imam Jawad as dengan para ulama kelompok-kelompok Islam dalam masalah teologi seperti kedudukan Syekhain dan masalah-masalah fikih misalnya pemotongan tangan pencuri dan hukum-hukum haji adalah termasuk dari forum ilmiah tersohor para Imam Maksum. Nasab, Julukan dan Gelar Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad, adalah imam kesembilan Syiah Itsna Asyariyah, yang masyhur dengan Jawad al-Aimmah. Keturunan ke-6 yang nasabnya bersambung kepada Imam Ali as, imam pertama mazhab Syiah. Ayah beliau adalah Imam Ridha as, Imam kedelapan mazhab Syiah. Ibunda beliau seorang budak bernama Sabikah al-Nubiyah. Julukan beliau adalah Abu Ja’far dan Abu Ali. Dalam sumber-sumbser hadis, ia disebut sebagai Abu Ja’far Tsani (kedua), supaya tidak keliru dengan Abu Ja’far Awal (pertama) (Imam Baqir as. Di antara gelar terpopuler imam kesembilan adalah Jawad dan Ibnu al-Ridha. Taqi, Murtadha, Zaki, Qani’, Radhi, Mukhtar, Mutawakkil, Murtadha dan Muntajab, termasuk di antara lakab-lakab yang juga disematkan kepadanya. Biografi Menurut penuturan para sejarawan, Imam Jawad as lahir di kota Madinah, pada tahun 195 H/811. Namun terdapat perbedaan terkait hari dan bulan kelahirannya. Kebanyakan referensi meyakini hari kelahiran Imam terjadi pada bulan Ramadhan. Sebagian referensi tersebut menyebut 15 Ramadhan dan sebagian lagi menyebut 19 Ramadhan. Syekh Thusi dalam kitab Mishbah al-Mutahajjid menyebut 10 Rajab sebagai tanggal lahirnya. Dari beberapa riwayat dapat dipahami bahwa sebelum kelahiran Jawad al-Aimmah sebagian kelompok Waqifi mengatakan, bagaimana Ali bin Musa as bisa menjadi seorang imam padahal ia tidak memiliki keturunan. Oleh karena itu, tatkala Jawad al-Aimmah terlahir ke dunia, Imam Ridha as menyifati kelahirannya dengan kelahiran yang penuh berkah. Dengan semua itu bahkan setelah kelahirannya, sebagian kelompok Waqifi tetap mengingkari penisbatan dia kepada Imam Ridha as. Mereka mengatakan, ‘Jawad al-Aimmah tidak memiliki kemiripan wajah dengan ayahnya’, hingga didatangkan para ahli dan mereka menyatakan bahwa Imam Jawad as putra Imam Ridha as. Mengenai kehidupan Imam Jawad as tidak banyak informasi yang dimuat dalam sumber-sumber historis. Hal itu dikarenakan keterbatasan-keterbatasan politik dari pihak pemerintahan Abbasiyah, taqiyah dan usianya yang pendek. Ia hidup di Madinah. Menurut laporan Ibnu Baihaqi, ia melakukan safar sekali ke Khurasan untuk bertemu dengan sang ayah. Dan setelah menjadi imam pun, ia beberapa kali didatangkan ke Baghdad oleh para penguasa Abbasiyah. Pernikahan Ma’mun Abbasi pada tahun 202 H/817 M atau 215 H/830 M mengawinkan putrinya, Ummu al-Fadhl dengan Imam Jawad as. Sebagian mengatakan bahwa ada kemungkinan pada pertemuan Imam Jawad dengan sang ayah di Thus, Ma’mun mengakadkan Ummul Fadhl dengannya. Menurut pernyataan Ibnu Katsir (701-774 H), khutbah akad Imam Jawad as dengan putri Ma’mun dibacakan di masa hidupnya Imam Ridha as, namun resepsi pernikahannya dilangsungkan pada tahun 215 H/830 M di Tikrit. Menurut catatan sumber-sumber sejarah, pernikahan Imam Jawad as dengan Ummu al-Fadhl dilangsungkan atas permintaan Ma’mun. Tujuan Ma’mun adalah hendak menjadi kakek dari seorang anak dari keturunan Nabi saw dan Imam Ali as. Menurut Syekh al-Mufid dalam kitab al-Irsyad, Ma’mun mengawinkan Ummu al-Fadhl dengan Muhammad bin Ali dikarenakan kepribadian ilmiahnya dan kecintaan kepadanya, namun beberapa peneliti meyakini bahwa perkawinan ini berlangsung dengan motivasi dan kepentingan-kepentingan politik, di antaranya Ma’mun dengan cara ini ingin mengontrol Imam Jawad as dan juga mengontrol hubungannya dengan para Syiahnya atau hendak menampakkan kecenderungannya kepada kelompok Alawi (Syiah) dan mencegah mereka melakukan pemberontak kepada Ma’mun. Pernikahan ini menuai protes dari sebagian pendukung Ma’mun, sebab mereka khawatir tampuk kekhalifahan akan berpindah dari kelompok Abbasi ke kelompok Alawi. Imam Jawad as menentukan mahar Ummu al-Fadhl setara dengan maharnya Sayidah Fatimah sa, yakni 500 Dirham. Imam tidak memiliki keturunan dari Ummu al-Fadhl. Istri lain Imam Jawad as bernama Samanah al-Maghribiyah, seorang budak wanita yang dibeli atas keinginananya sendiri. Seluruh keturunan Imam Jawad as berasal dari Samanah al-Maghribiyah. Keturunan Menurut penuturan Syekh al-Mufid, Imam Jawad memiliki empat anak, yaitu Ali, Musa, Fatimah dan Umamah. Namun, sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa putri Imam ada tiga orang, yaitu Hakimah, Khadijah dan Ummu Kultsum. Pada sebagian sumber kontemporer dimuat bahwa Ummu Muhammad dan Zainab juga dianggap sebagai putri-putri beliau. Syahadah Pemerintahan Abbasiah dua kali mengundang Imam Jawad as dari Madinah menuju Baghdad. Perjalanan pertama pada masa Ma’mun tidak menghabiskan waktu begitu lama. Perjalanan kedua, atas perintah Mu’tashim, Imam masuk kota Baghdad pada hari 28 Muharram tahun 220 H/835 M, dan beliau meninggal pada bulan Dzulkaidah, atau Dzulhijjah di Baghdad pada tahun yang sama. Dalam kebanyakan referensi, hari syahadahnya adalah akhir Dzulhijjah, namun dalam sebagian referensi, tanggal 5 atau 6 Dzulkaidah juga disebutkan. Tubuh suci beliau dimakamkan di sisi kakeknya, imam Musa bin Ja’far as di pekuburan Quraisy di Kazhimain. Beliau berusia 25 tahun saat meneguk cawan syahadah. Atas dasar ini, beliau adalah imam Syiah yang berusia paling muda saat syahid. Sebagian ahli sejarah meyakini bahwa penyebab kesyahidan Imam Jawad as adalah gunjingan Ibnu Abi Dawud (hakim Baghdad) di sisi Mu’tashim khalifah Abbasiah. Dan dalilnya adalah karena diterimanya pendapat imam tentang dipotongnya tangan pencuri, yang mana hal ini membuat Ibnu Abi Dawud dan sebagian besar para fakih dan para anggota istana menjadi malu. Terkait bagaimana kesyahidan imam ke-9 Syiah, terdapat perbedaan pendapat. Dalam sebagian sumber dimuat bahwa Mu’tashim melalui salah seorang menterinya meracuni Imam dan ia pun syahid. Namun, sebagian orang meyakini bahwa Mu’tashim melalui Ummu al-Fadhl meracuni Imam. Mas’udi, sejarawan abad ke-3 H (W. 346 H/958 M) mengatakan, Mu’tashim dan Ja’far bin Ma’mun (saudara Ummu al-Fadhl, istri Imam Jawad) senantiasa berfikir untuk

Baca Selengkapnya

Imam Khomeini: Sufi yang Mengguncang Dunia

Oleh: Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat Di tengah-tengah umat yang dirundung kemalangan demi kemalangan, seorang lelaki Mukmin datang memberi harapan. Di tengah-tengah umat yang sudah kehilangan keberanian, ia berdiri tegak meneriakkan kebenaran. Jutaan kaum Muslimin seluruh dunia menemukan pemimpin mereka. Setelah ratusan tahun merintih dalam gelombang penindasan yang tak kunjung berhenti, pemimpin ini menyuarakan hati nurani mereka. Ia berbicara kepada dunia tentang Islam tidak dengan suara memelas. Ia tidak mengemis minta belas kasihan. Ia tidak merendahkan suaranya karena takut pembalasan. Ia membentak musuh-musuh umat dengan suara lantang. Dunia pun mendengar suara Islam yang menggetarkan, menggerakkan, membangkitkan, dan menghidupkan. Lelaki Mukmin ini berkata, “Inilah kata-kataku yang terakhir bagi kaum Muslimin dan rakyat yang tertindas di seluruh dunia: Kalian tidak boleh duduk berpangku tangan dan diberi anugerah kemerdekaan dan kebebasan oleh orang yang berkuasa di negeri kalian atau oleh kekuatan asing. Kalian, wahai rakyat tertindas di dunia, hai negeri-negeri Muslim. Bangun, ambillah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian.” Umat Islam terpesona mendengar suara ini. Biasanya, mereka mendengar pemimpin Islam yang menyuruh mereka bersabar, yang memberikan obat penenang, yang meniupkan impian. Suara lelaki ini lain. Ia menggugah, ia mengelektrifisir, ia menghentak. Maka, jutaan umat Islam bangun dari tidur mereka yang panjang. Di bawah komando lelaki ini, rakyat Iran menumbangkan tiran yang paling kuat di Negara Dunia Ketiga. Akan tetapi, suaranya tidak hanya menggerakkan Iran. Suaranya melintas ke seluruh penjuru dunia. Bangkitlah jutaan umat Muhammad: sebagian tersentak, sebagian besar hanya menggeliat. Apa pun yang terjadi, jalan sejarah telah berubah. Harian Independent dari Inggris menulis, “It’s rare than one person, is given the mission of changing the path history. The mission was given to Ayatullah Khomeini.” Ya, dialah Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomeini. Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan pengalaman orang-orang yang pernah berhadapan dengan tokoh besar ini. Saya ingin mulai dengan pengalaman Robin Woodsworth Carlsen, seorang filusuf Kanada yang non-Muslim. Setelah itu, saya akan hantarkan kisah-kisah kehidupan Imam seperti yang diceritakan oleh orang-orang yang dekat dengan Imam Khomeini, yaitu Sayyid Akhmad Khomeini dan istrinya. Robin Woodsworth Carlsen adalah seorang penyair dan filusuf Kanada. Ia menulis beberapa buku filsafat, antara lain Enigma of An Absolute: The Consciousness of Ludwig Wittgenstein. Sebagai wartawan, ia telah tiga kali berkunjung ke Iran. Pada kunjungan yang ketiga, Februari 1982, beserta para peserta konferensi internasional, ia berkesempatan beraudiensi dengan Imam Khomeini di Jamaran. Pertemuan dengan Imam diceritakannya dengan bahasa yang sangat filosofis dalam bukunya The Imam and His Revolution: A Journey Into Heaven and Heil. Sangat sulit bagi saya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa yang mudah dicerna. Saya akan kutipkan secara langsung sebagian saja dari tulisannya, dan di sana sini saya akan menceritakan kembali dalam narasi saya sendiri. Pada malam 8 Februari diumumkan bahwa peserta konferensi akan mendapat kesempatan mendengarkan pidato Imam. Carlsen melihat pertemuan ini sebagai kesempatan penting untuk meneliti Imam secara kritis. Sebagai seorang filusuf, ia sudah sering berjumpa dengan orang-orang yang dianggap suci, tetapi ia meragukan kesucian Imam Khomeini. “Terlalu banyak dendam, darah, dan absolutisme” di sekitar pribadi Imam. Sebagai wartawan Barat, ia sudah memperoleh gambaran tentang sosok Imam Khomeini yang sangat jelek. Majalah Times telah mengungkapkan banyak hal buruk tentang kehidupan Imam. Dengan kerangka pikiran seperti itulah, Carlsen ingin mengamati Imam dari dekat. Sebagai filusuf, ia sudah mempersiapkan pikiran yang kritis, pikiran yang setiap saat siap mengevaluasi orang secara radikal. Anehnya, begitu ia naik bus menuju Jamaran, hatinya dipenuhi perasaan yang luar biasa. Hatinya ikut bergejolak sebagaimana dirasakan para penumpang bus lainnya. Ia merasa kalau sebentar lagi ia akan menyaksikan sebuah peristiwa hebat. Sekarang kita dengarkan cerita Carlsen: “Saya duduk di bagian depan ruangan. Kursi Khomeini, yang tertutup kain putih, terletak di atas panggung di hadapan kami kira-kira lima belas kaki di atas lantai. Seorang mullah bercambang putih mengawasi kami ketika kami memasuki ruangan. Ia memperbaiki mikrofon, sambil dengan sabar menunggu kedatangan Imam dari pintu tertutup di sebelah kanan panggung tempat ia memberikan ceramahnya. Ruangan dipenuhi harapan yang disampaikan dengan berbisik. Sekali-kali sebagian orang Islam meneriakkan slogan atau ayat-ayat Alquran, lalu diikuti oleh ratusan orang Islam dan pengawal revolusi yang hadir di situ. Tidak seorang pun diperbolehkan merokok. Sikap penghormatan yang menguasai orang-orang yang menunggu Imam telah mengubah pemandangan yang biasanya kita lihat di Iran. Ketika saya mengamati panggung tempat Imam Khomeini menyampaikan ratusan pidatonya, mata saya menangkap ketenangan, kemurnian, dan kesegaran fisik yang melayang-layang, atau lebih tepat lagi berkumpul dalam sebongkah energi yang kokoh dan tembus cahaya, yang sangat berbeda dengan hotel tempat kami menginap, bahkan berbeda dengan lingkungan mana pun yang pernah saya lihat dalam dua kali kunjungan saya ke Iran. Masjid saja tidak memancarkan sifat-sifat ini, sosok energi yang bulat. Mungkin Imam itu seorang manusia yang tercerahkan seorang sufi sejati atau barangkali lebih dari itu? Semua tanda menunjukkan bahwa apa yang terjadi di sini menyeruak kepada apa pun yang terjadi di Iran di luar ruangan ini. Perasaan seperti ini hanya mirip dengan apa yang saya rasakan ketika saya berada di front pertempuran atau ketika saya berjalan-jalan di pemakaman Beheste Zahra. Saya hanya dapat menjelaskan perasaan ini dengan berasumsi bahwa barangkali kesyahidan itu ada, bahwa pelepasan ruh suci yang tiba-tiba dari tubuh, dengan membawa ruh itu ke langit karena niat syahid, telah menciptakan energi yang suci, energi yang dibekahi Allah sendiri. Kami menunggu di sana kira-kira 45 menit sebelum terlihat tanda-tanda kedatangan Imam. Tanda-tanda itu sangat jelas. Beberapa ulama berserban muncul dari pintu itu dan memberi isyarat kepada mullah yang ada di panggung bahwa sang pemimpin, ulama besar, panglima, dan imam sebentar lagi datang. Ketika Khomeini muncul di pintu semua orang bangkit dan mulai berteriak, “Khomeini…Khomeini… Khomeini” teriakan penghormatan kepada manusia yang paling menggetarkan, paling ceria, dan paling bergelora yang pernah saya saksikan. Semua orang betul-betul diseret ke dalam gelombang cinta dan pemujaan yang spontan seraya dengan setiap butir sel dalam jantungnya menyatakan keyakinan mutlak bahwa orang yang mereka hormati itu pantas mendapatkan kehormatan di sisi Allah. Sungguh, aku berani mengatakan bahwa ledakan ekstase dan kekuatan yang menyambut Imam bukan hanya sekadar refleks karena pancingan tertentu tentang Imam. Ia adalah senandung puji yang alamiah dan bahagia; senandung penghormatan yang lahir karena keagungan dan kharisma

Baca Selengkapnya
Salman al-Farisi yang Dicintai

Salman al-Farisi yang Dicintai Nabi, Sahabat Setia Imam Ali

BERITAALTERNATIF.COM – Ia merupakan seorang sahabat masyhur Nabi Muhammad saw dan termasuk sahabat setia Imam Ali as. Menurut penelusuran riwayat ia adalah anak seorang bangsawan Iran yang bernama Ruzbeh. Pada masa kanak-kanak, ia adalah seorang penganut ajaran Zoroaster. Salman pada masa remaja menjadi pembantu agama Kristen dan pergi ke Suriah menjadi murid seorang pendeta Kristen. Ia tinggal di Suriah, Mausul dan Nashibin. Ketika ia mendengar ramalan seorang pendeta Nasrani yang mengabarkan tentang adanya seorang Nabi yang akan muncul di Arab Saudi, maka ia pun pergi ke Hijaz. Namun ia ditangkap dan ditawan oleh Kabilah Bani Kalb kemudian dijadikan budak dan dijual kepada seorang laki-laki dari Bani Quraidhah dan bersamanya, Salman dibawa ke Madinah. Di Madinah, Salman melihat Nabi Muhammad saw dan beriman kepadanya. Nabi membeli Salman dari tuannya dan ia pun merdeka dan berganti nama menjadi Salman. Selama masa hidup Nabi Muhammad saw, Salman termasuk sahabat Nabi saw yang sangat dicintai oleh beliau hingga terkait dengan kedudukannya, beliau bersabda: “Salman dari kami, Ahlulbait as.” Ia hadir dalam beberapa ghazwah (perang-perang yang diikuti oleh Nabi Muhammad saw). Peristiwa digalinya parit (khandaq) dalam Perang Ahzab yang dengan cara itu pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan kaum Musyrikin adalah atas usulan Salman dan menjadi sebuah peristiwa sejarah yang sangat terkenal. Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia, ia termasuk penolong Imam Ali as. Ia tidak setuju dengan peristiwa Saqifah namun setelah Abu Bakar dan Umar terpilih, ia bekerja sama dengan kedua khalifah itu dengan menjadi gubernur di Madain. Meskipun demikian, ia tetap menganyam keranjang demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Salman Farsi setelah menjalani kehidupan dengan umur yang panjang meninggal dunia pada tahun 36 H. Ia wafat di kota Madain. Pusaranya terletak di kota Madain dan terkenal dengan nama Buq’ah Salman Pak. Salman al-Farsi semenjak anak-anak hingga menerima Islam Nama aslinya adalah Ruzbeh dan nama ayahnya adalah Khusyfudan dan berdasarkan sebuah nukilan yang lain nama Budakhsyan. Berdasarkan riwayat yang ada, nama Salman diberikan oleh Nabi Muhammad saw setelah ia masuk Islam. Julukannya adalah Salman Abu Abdullah. Ia dilahirkan di desa Jai di Isfahan dan berdasarkan sebuah riwayat, ia dilahirkan di Mehzramz. Ayah Salman adalah seorang bangsawan Iran. Pada masa dinasti Sasaniyan, bangsawan adalah sebutan bagi golongan masyarakat yang memiliki tanah baik di desa maupun di kota. Riwayat-riwayat mengenai kehidupan Salman sebelum datangnya Islam, bercampur dengan dongeng. Yang ditekankan dalam riwayat-riwayat itu adalah semangat Salman dalam mencari kebenaran yang menyebabkan pencarian agama secara lebih baik dan membutuhkan perjalanan yang panjang. Berdasarkan riwayat-riwayat ini, semasa ia masih kecil, ia adalah penyembah api hingga ia mengenal agama Kristen. Kemudian ia meninggalkan kota kelahirannya dan melakukan perjalanan ke Suriah hingga ia belajar dari seorang pendeta dalam agama Kristen. Berdasarkan riwayat, ayah Salman karena sangat sayang kepadanya, tidak membolehkan Salman untuk meninggalkan rumah sehingga kepergian Salman dari rumahnya, ia anggap sebagai bentuk pelarian diri. Selama di Suriah, ia berkhidmat kepada gereja dan demi memperoleh ilmu dari para pendeta, ia mengadakan perjalanan ke Maushul, Nishibin dan Amuriyah. Salman berniat dari Amuriyah hendak melakukan safar ke Hijaz dan hal ini disebabkan karena ia mendengar ramalan seorang Kristen yang mengabarkan tentang adanya seorang Nabi yang akan muncul di Arab Saudi. Namun ia ditangkap dan ditawan oleh Kabilah Bani Kalb kemudian dijadikan budak dan dijual kepada seorang laki-laki Yahudi dari Bani Quraidhah kemudian dibawanya ke Madinah. Terbebas dari Budak dan Masuk Islam Ia masuk Islam pada tahun pertama Hijrah, tepatnya pada bulan Jumadil Awal. Berdasarkan riwayat, Salman mendengar bahwa seorang nabi akan muncul dan nabi itu tidak menerima sedekah namun menerima hadiah dan di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabiannya. Oleh itu, ketika ia bertemu dengan Nabi Muhammad saw di Quba ia memberikan sejumlah perbekalannya kepada Nabi sebagai bentuk sedekah. Nabi pun memberikan bekal itu kepada para sahabatnya, sementara nabi sendiri tidak memakannya. Salman menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu dari tiga dalil bahwa beliau adalah seorang Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh peramal pendeta Kristen. Pada kesempatan lain Salman memberi bekal kepada Nabi saw sebagai hadiah, pada saat itu, beliau memakannya. Untuk ketiga kalinya, ia melihat Nabi saw ketika Nabi saw mengantar jenazah salah seorang sahabatnya. Salman berjalan di belakang Nabi sehingga akan menemukan ciri-ciri yang ketiga. Ketika itu jubah Nabi Muhammad saw tersingkap sehingga membuat Salman melihat tanda kenabian di antara kedua bahunya. Ketika itu, Salman menelungkupkan badannya ke jubah nabi, dan memeluk nabi kemudian masuk Islam. Salman pada tahun pertama Hijrah dibeli dari pemiliknya. Harga untuk membebaskannya adalah 300 atau 400 pohon kurma dan 40 auqiyah ons emas yang dibayar dari Nabi Muhammad saw dan bantuan para sahabat. Salman sendiri sampai pada kesimpulan bahwa Rasulullah saw telah membebaskan dirinya dan Nabi saw memberinya nama dengan nama Salman. Perjanjian Persaudaraan Sebagian berkeyakinan bahwa perjanjian persaudaraan terjadi antara Salman dan Abu Darda’. Sebagian lagi meyakini bahwa Salman mengikat persaudaraan dengan Hudzaifah bin Yaman dan sebagian lainnya ikatan persaudaraan terjadi antara Salman dan Miqdad. Namun riwayat yang berasal dari Syiah memberitakan bahwa akad persaudaraan terjadi antara Salman dengan Abu Dzar. Dalam sebagian riwayat terdapat penjelasan mengenai syarat harus mengikuti Abu Dzar dari Salman. Tindakan-tindakan Penting  Mengajukan usulan untuk menggali parit dan memberi masukan kepada kaum Muslimin untuk menaklukkan Iran Ia ikut hadir pada peperangan permulaan Islam dan setelah Perang Khandaq ia selalu hadir dalam semua peperangan yang ada. Usulan penggalian parit mengelilingi kota Madinah berasal dari Salman. Dalam perang ini, atas perintah Nabi Muhammad saw setiap 10 perang bertugas untuk menggali parit sepanjang 40 hasta. Karena Salman memiliki kekuatan jasmani yang baik, maka setiap kalangan Muhajirin dan Anshar berebut untuk mengatakan bahwa Salman berasal dari masing-masing dua kelompok mereka, kaum Muhajirin menganggap karena Salman berasal dari tempat lain (Iran) maka ia termasuk kelompok Muhajirin, sedangkan kaum Anshar menganggap karena ketika Nabi saw memasuki Yatsrib Salman telah berada di sana, maka ia termasuk golongan Anshar. Berdasarkan laporan sebagian referensi, pada Perang Thaif, Salman juga mengusulkan supaya menggunakan alat peluncur dan Nabi pun memerintahkan supaya menggunakannya. Dalam penaklukan Iran, Umar dan Hudzaifah diangkat menjadi pembimbing dan pengawal pasukan Islam sementara Salman diangkat sebagai wakil dari pasukan Islam untuk bernegosiasi dengan pasukan Iran. Menentang Peristiwa Saqifah Salman, termasuk orang

Baca Selengkapnya

Ammar bin Yasir, Sahabat yang Memiliki Kedudukan Utama

BERITAALTERNATIF.COM – Salah seorang yang memeluk Islam pada awal kedatangan adalah Ammar bin Yasir. Ia termasuk Syiah Imam Ali as bersama Salman, Miqdad dan Abu Dzar yang merupakan para penolong setia Imam Ali as dan tergolong sebagai Syiah pertama. Pasca wafatnya Rosulullah Muhammad Saw, ia demi mendukung Imam Ali as, tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar. Pada zaman Khalifah ketiga, ia turut menjadi pihak oposisi dan mengadakan perlawanan terhadap pemerintahannya. Pada masa kekhalifahan Imam Ali as, ia selalu menyertai Imam Ali as dan pada saat meletus Perang Jamal, Ammar Yasir berada dalam barisan pasukan Imam Ali as dan syahid di tangan pasukan Muawiyah. Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadis yang masyhur mengabarkan bahwa kesyahidan Ammar bin Yasir berada di tangan kelompok Baghi (segolongan orang yang membangkang pada pemerintahan yang sah). Nasab Ammar bin Yasir bin Ammar dengan julukan Abu Yaqdhan, Halif (berjanji setia) dengan Bani Mahdzum. Nasab Ammar sampai kepada Ammar keluarga Anas bin Malik dari kabilah Qahthani yang bermukim di Yaman. Yasir, ayahanda Ammar pada masa muda pergi ke Mekkah dan menetap di sana dan mengikat janji setia dengan Abu Khudzaifah. Zaman Nabi Muhammad Saw Ammar, ayahanda dan ibundanya termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Berdasarkan sebuah riwayat, ia adalah orang yang masuk Islam pada urutan ke 30-an dan pada hadis yang lain ia tercatat sebagai tujuh orang yang pertama kali masuk Islam. Ammar, saudaranya (Abdullah), ayahandanya dan ibundanya (Sumayyah), Bilal, Habban dan Shuhaib disiksa oleh kaum Quraisy dengan siksaan yang sangat berat dengan tujuan supaya berbalik keyakinannya dari agama Islam. Sumayyah binti Khabbath dan Yasir karena menderita akibat siksaan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy akhirnya meneguk cawan kesyahidan. Mereka termasuk syuhada pertama Islam. Kaum Musyrikin juga memaksa Ammar untuk menjelek-jelekkan Nabi Muhammad Saw, namun Nabi Muhammad Saw mengampuninya dan berkata bahwa apabila kaum Musyrikin memaksanya untuk berbuat demikian lagi, maka lakukanlah hal itu. Karena kejadian inilah, turun ayat:”Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” Berdasarkan berbagai laporan, Ammar adalah salah seorang yang juga hijrah ke Habasyah. Ammar menyertai Nabi Muhammad Saw ketika beliau berhijrah ke Madinah dan turut serta membantu Nabi Saw ketika beliau membangun masjid Kuba. Di Madinah ia adalah sahabat dekat Nabi Muhammad Saw dan ikut berperang dalam semua peperangan yang di hadiri oleh Nabi saw. Keutamaan Ammar: Riwayat dari Nabi Muhammad Saw tentang keutamaan Ammar: Di antaranya beliau bersabda bahwa surga menunggu kehadiran: Ali, Ammar, Salman dan Bilal. Demikian juga dinukilkan dari Nabi Muhammad Saw bahwa beliau bersabda: Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersamanya, Ammar mengelilingi kebenaran di mana saja, pembunuh Ammar, tempatnya di neraka. Pada Masa Kekhalifahan Ammar bersama dengan Salman, Miqdad dan Abu Dzar termasuk kaum Syiah pada masa permulaan yang semenjak zaman Nabi Muhammad Saw terkenal dengan nama ini. Ammar membela Ali as dengan tidak memberikan baiatnya kepada Abu Bakar demi mempertahankan wilayah Imam Ali as. Ia pada zaman khalifah Pertama ikut dalam Perang Yamamah dan pada pada saat itu telinganya robek. Pada masa khalifah Umar, ia menjadi gubernur Kufah dan panglima pasukan kaum Muslimin di Kufah. Pada masa ia menjadi gubernur, meletus Perang Nahawand dan terjadi penaklukan sebagian daerah-daerah di Iran. Namun setelah beberapa lama ia diberhentikan dari jabatan itu. Sumber-sumber sejarah tidak menyebutkan secara jelas sebab diberhentikannya Ammar dari jabatan tersebut. Sebagian sumber sejarah menyebutkan bahwa sebabnya adalah karena masyarakat tidak menyukai Ammar sehingga masyarakat meminta Umar untuk memberhentikan Ammar dari jabatan gubernur. Sebab protes yang dilakukan oleh masyarakat tersebut tidak dijelaskan secara gamblang. Dalam sebuah laporan disebutkan bahwa protes ini didasari oleh kebodohan Umar dalam menjalankan kebijakan politik. Pada zaman Khalifah Ketiga, terjadi perselisihan antara Umar dan Ammar. Salah satunya adalah protes Ammar terhadap pengasingan terhadap Abu Dzar ke Rabadzah. Ammar dipukuli atas perintah Utman. Utsman merencanakan mengasingkan Ammar ke Madinah namun karena protes yang dilancarkan oleh Bani Ma’zhum dan juga karena peranan Imam Ali as, akhirnya rencana tersebut dibatalkan. Sebagian melaporkan bahwa pertikaian, pemukulan dan kedzaliman atas Ammar terjadi ketika Utsman dan masyarakat Kufah lainnya sedang mabuk dan tindakan protes atas akhlak buruk yang dilakukan oleh Walid bin Uqbah sebagai pejabat Utsman di Kufah. Laporan lain menyebutkan bahwa pemukulan dan kedzaliman atas Ammar terjadi ketika Ammar memprotes tindakan Utsman dalam membagi harta baitul mal dan menggunakannya untuk kepentingan pribadinya. Ammar juga ikut dalam peristiwa pemberontakan terhadap Utsman. Ia bergabung dengan orang-orang yang melakukan protes di Mesir dan ikut mengepung Umar di Madinah. Pada zaman Kekhlalifahan Imam Ali Ali as Ammar Yasir termasuk pembela Imam Ali as. Pada zaman meninggalnya Umar dan peristiwa terbentuknya Syura untuk menentukan khalifah, dalam perbincangannya dengan Abdurrahman bin Auf, ia menyarankan kepadanya untuk memilih Ali as supaya masyarakat tidak terpecah. Setelah Utsman bin Affan terbunuh, Ammar adalah salah seorang yang mengajak masyarakat untuk membaiat Ali as. Ia pada masa pemerintahan Imam Ali as ikut serta dalam Perang Jamal dan Shiffin. Pada perang Jamal ia menjadi komandan pasukan sebelah kiri Imam Ali as. Dan pada hari ke-3 Perang Shiffin ia menjadi komandan bagi pasukan Imam. Syahadah Ammar syahid pada 7 Rabiul Tsani tahun 37 H/657. Setelah syahadahnya Ammar, Imam Ali as mensalati jenazahnya. Usia Ammar ketika syahid adalah di atas 90 tahun. Sebagian menyebutkan ia berusia 93 tahun, sebagian lainnya 91 tahun dan ada juga sekelompok orang yang menyatakan bahwa usia ia pada saat syahid adalah 92 tahun. Syahadah Ammar pada Perang Shiffin oleh pasukan Muawiyah adalah celaan bagi Muawiyah dan merupakan salah satu dalil atas kebenaran Imam Ali as dalam peperangan ini. Dalilnya adalah kemasyhuran sebuah hadis dari Nabi Muhammad Saw dimana di dalamnya disebutkan bahwa pembunuh Ammar adalah kelompok Baghi (segolongan orang-orang yang keluar dari ketaatannya kepada Imam). Ibnu Abdul Barr mengakui kemutawatiran hadis ini dan berkata bahwa hadis ini adalah sahih. Dikatakan bahwa Khuzaimah bin Tsabit hadir dalam Perang Jamal dan Shiffin, ia tidak mengeluarkan pedang dari sarungnya, namun dalam Perang Shiffin ketika ia melihat Ammar terbunuh oleh pasukan Muawiyah, ia berkata: Sekarang kelompok yang salah telah jelas bagiku dan sejak saat itulah ia mulai berperang dalam pihak Imam Ali as

Baca Selengkapnya

Profil Imam Ali Al-Ridha: Kelahiran, Perjuangan, hingga Kesyahidan

BERITAALTERNATIF.COM – Ali bin Musa bin Ja’far as yang terkenal dengan Imam Ridha as (148-203 H) adalah Imam Kedelapan mazhab Syiah Itsna Asyariyah. Ia memegang tampuk kepemimpinan selama 20 tahun, yang mana 10 tahun sezaman dengan kekhalifahan Harun al-Rasyid, 5 tahun sezaman dengan kekhalifahan Muhammad Amin dan 5 tahun sezaman dengan kekhalifahan Ma’mun. Dalam riwayat yang dinukil dari Imam Jawad as disebutkan bahawa lakab Ridha diberikan oleh Allah kepada ayahnya. Tempat kelahirannya adalah kota Madinah kemudian dipanggil secara paksa oleh Ma’mun Abbasi ke Khurasan dan dijadikan sebagai wali ahd (baca: putra mahkota) atas desakan Ma’mun Abbasi. Imam Ridha as dalam perjalanannya menuju Khurasan dari kota Madinah telah menyampaikan sebuah hadis yang terkenal yaitu silsilah al-dzahab (mata rantai emas) di kota Neisyabur. Makmun menyelenggarakan beberapa forum dialog antara Imam Ridha as dan para pembesar agama dan mazhab lainnya, yang hal ini menyebabkan semua orang mengakui keunggulan dan keilmuannya. Imam Ridha as syahid di tangan Ma’mun di kota Thus. Pusaranya terletak di Masyhad dan menjadi tempat ziarah jutaan kaum muslimin dari pelbagai penjuru dunia. Biografi Nama lengkapnya Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Panggilannya adalah Abu al-Hasan dan lakabnya yang populer adalah Ridha. Menurut sebagian riwayat, lakab Ridha diberikan oleh Ma’mun namun dalam riwayat dari Imam Jawad as disebutkan lakab tersebut diberikan Allah Swt kepada ayahnya. Shabir, Radhi dan Wafa adalah lakab-lakabnya yang lain. Ia juga terkenal dengan ‘Alim Al Muhammad (orang pintar dari keluarga Muhammad). Dinukilkan bahwa Imam Kazhim as kepada anak-anaknya berkata, “Saudara kalian, Ali bin Musa adalah ‘Alim Al Muhammad”. Diriwayatkan bahwa Imam Ridha as lahir pada hari Kamis atau Jumat 11 Dzulkaidah atau Dzulhijjah atau Rabiul Awal tahun 148 H atau 153 H. Kulaini mengutip bahwa tahun kelahiran Imam Ridha as jatuh pada tahun 148 H. Mayoritas ulama dan sejarawan sependapat dengan Kulaini. Ibu Imam Ridha as, adalah seorang budak wanita dari penduduk Nubakh, yang dikenang dengan beragam nama. Dikatakan bahwa ketika Imam Kazhim as membelinya, ia memberi nama Tuktam kepadanya. Tatkala Imam Ridha as lahir darinya, Imam Musa Kazhim menamai Tuktam dengan nama Thahirah. Syekh Shaduq mencatat, sebagian orang meriwayatkan bahwa nama ibunda Imam Ridha as adalah Sakan Nubiyah, demikian juga dinamai dengan Arwi, Najmah, Samanah. Julukannya adalah Ummul Banin. Dalam riwayat disebutkan bahwa ibunda Imam Ridha as adalah seorang budak salehah dan bertakwa, bernama Najmah yang dibeli oleh Humaidah ibunda Imam Musa Kazhim dan menghadiahkannya kepada putranya (Imam Musa). Setelah kelahiran Imam Ridha, Najmah diberi nama Thahirah. Imam Ridha memiliki istri bernama Sabikah yang disebut masih memiliki tali keturunan dengan Mariah istri Rasulullah saw. Selain Sabikah, dalam sebagian literatur sejarah, disebutkan juga beberapa istri lain Imam Ridha as. Makmun melamar Imam Ridha as untuk putrinya Ummu Habib atau Ummu Habibah dan Imam Ridha as menerima pinangan itu. Thabari menyebut pernikahan ini pada peristiwa-peristiwa tahun 202 H. Disebutkan bahwa tujuan Makmun menikahkan putrinya dengan Imam Ridha as adalah untuk menambah kedekatan dengan Imam Ridha dan memiliki jalur ke rumahnya guna memperoleh informasi lebih jauh terkait agenda-agenda Imam Ridha as. Suyuthi juga mengutip pernikahan putri Makmun dengan Imam Ridha as tanpa menyebutkan nama putri Makmun itu. Terdapat perbedaan pendapat terkait dengan jumlah dan nama anak-anak Imam Ridha as. Syekh Mufid hanya mengakui Muhammad bin Ali sebagai anak dari Imam Ridha as. Ibnu Syahr Asyub dan Thabrisi juga berpendapat yang sama. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa Imam Ridha as memiliki seorang putri bernama Fatimah. Sebagian menulis bahwa Imam Ridha as memiliki lima putra dan seorang putri dengan nama-nama Muhammad Qani’, Hasan, Ja’far, Ibrahim, Husain dan Aisyah. Sibth bin Jauzi mengutip bahwa Imam Ridha as memiliki empat putra dengan nama-nama Muhammad (Abu Ja’far Tsani), Ja’far, Abu Muhammad Hasan, Ibrahim, dan seorang putri tanpa menyebutkan nama putri ini. Disebutkan bahwa seorang anak Imam Ridha yang berusia dua tahun atau kurang dari dua tahun dikuburkan di Qazwin yaitu Imam Zadeh Husain yang kini terdapat di kota Qazwin. Menurut sebuah riwayat, Imam Ridha as sendiri pernah mengunjungi kota ini pada tahun 193 H. Masa Imamah Imam Ridha as memegang tampuk kepemimpinan pasca kesyahidan ayahnya Imam Kazhim as pada tahun 183 H. Masa imamahnya berlangsung selama 20 tahun (183-203 H) yang bertepatan dengan masa khilafah Harun al-Rasyid (10 tahun), Muhammad Amin (sekitar 5 tahun) dan Makmun (5 tahun). Sebagian orang yang mengutip hadis-hadis dari Imam Musa bin Ja’far as atas imamah putranya Ali bin Musa al-Ridha adalah: Daud bin Katsir al-Riqqi, Muhammad bin Ishaq bin Ammar, Ali bin Yaqthin, Na’im al-Qabusi, al-Husain bin al-Mukhtar, Ziyad bin Marwan, al-Makhzumi, Daud bin Sulaiman, Nashr bin Qabus, Daud bin Zarbi, Yazid bin Sillith dan Muhammad bin Sanan. Di samping banyak dalil riwayat, akseptabilitas Imam Ridha as di kalangan Syiah dan keunggulan ilmu dan akhlaknya menetapkan bahwa imamah layak untuk disandang olehnya meski masalah imamah pada akhir-akhir hidup Imam Musa bin Ja’far cukup pelik dan sulit, namun kebanyakan sahabat Imam Kazhim as menerima bahwa Imam Ridha as adalah pelanjut dan khalifah mereka yang ditunjuk dari sisi Imam Musa Kazhim as. Setelah syahadah Imam ketujuh, sebagian besar kaum Syiah, sesuai dengan wasiat dan pesan Imam Kazhim as dan alasan-alasan serta bukti-bukti lainnya, menerima keimamahan putranya Ali bin Musa al-Ridha as dan beliau menegaskannya sebagai imam kedelapan. Kelompok bagian ini, yang juga termasuk dari para tokoh pembesar sahabat Imam al-Kazhim as, dikenal dengan sebutan nama Qath’iyah. Namun kelompok pengikut lainnya dari Imam ketujuh karena dengan alasan-alasan tertentu, engan untuk mengakui keimamahan Imam Ali bin Musa al-Ridha as dan mereka berhenti pada keimamah Musa bin Ja’far as. Mereka menyatakan bahwa Musa bin Ja’far as adalah Imam terakhir dan beliau tidak menentukan keimamahan siapa pun setelahnya dan atau setidaknya kami tidak mengetahuinya. Kelompok ini disebut dengan nama Waqifiyah (atau Waqifah). Imam Ridha kurang lebih selama sekitar tujuh belas tahun (183-200 atau 201 tahun) dari periode keimamahannya berada di Madinah dan memiliki posisi yang istimewa di kalangan masyarakat. Imam sendiri dalam percakapan dengan Ma’mun mengenai putra mahkota, menggambarkan periode ini dengan berkata: “Sesungguhnya, perjanjian putra mahkota itu tidak memberikan kepadaku poin atau status apa pun. Ketika aku berada di Madinah, perintahku dapat mempengaruhi mereka yang di timur dan barat, dan ketika aku menaiki kendaraanku melewati gang-gang Madinah, tidak ada yang lebih mulia dariku”. Mengenai posisi ilmiah Imam di Madinah juga dikutip dari dirinya sendiri: “Aku duduk di masjid Nabi dan para ulama yang berada di Madinah, setiap kali mereka tidak mampu memecahkan suatu permasalahan, semua melemparkan masalah itu kepadaku dan mengirimkan pertanyaan dan masalah mereka kepadaku dan aku menjawab semua permasalahan itu kepada mereka”. Kesyahidan Dinukilkan

Baca Selengkapnya

Profil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian yang Meninggal dalam Kecelakaan Helikopter di Azerbaijan

BERITAALTERNATIF.COM – Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Hossein Amir-Abdollahian merupakah salah satu penumpang helikopter yang mengalami kecelakaan di Provinsi Azerbaijan Timur pada Minggu (19/5/2024) kemarin. Dia dinyatakan telah meninggal dunia bersama para penumpang lainnya, salah satunya Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi. Abdollahian adalah seorang politikus dan diplomat Iran yang menjabat sebagai menteri luar negeri Iran dari tahun 2021 hingga kematiannya pada 19 Mei 2024. Ia sebelumnya adalah wakil menteri luar negeri Urusan Arab dan Afrika dari 2011 hingga 2016. Dia pernah menjadi asisten khusus Ketua Parlemen Iran untuk urusan internasional, Direktur Jenderal Urusan Internasional Majelis Permusyawaratan Islam sejak masa kepresidenan Ali Larijani hingga masa kepresidenan Mohammad Bagher Ghalibaf, Sekretaris Jenderal Sekretariat Tetap Konferensi Internasional dalam mendukung Intifada Palestina, Direktur Pelaksana Dialog Strategis Palestina Triwulanan. Ia diangkat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri pada masa pelayanan Ali Akbar Salehi, yang dipertahankan pada tiga tahun pertama pelayanan Mohammad Javad Zarif . Dia adalah profesor di Sekolah Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri. Menyusul pengunduran diri Zarif yang tidak diumumkan, berbagai sumber media berspekulasi bahwa Abdollahian adalah kandidat potensial untuk posisi menteri, mengingat kedekatannya dengan Ali Larijani, Ketua parlemen Iran pada saat itu. Pada 19 Mei 2024, sebuah helikopter yang membawa Abdollahian dan Presiden Sayid Ebrahim Raisi jatuh di dekat perbatasan Azerbaijan-Iran, menurut kantor berita negara Iran, IRNA.  Tidak ada korban selamat yang ditemukan. Kehidupan Awal dan Pendidikan Abdollahian lahir pada tahun 1964 di Damghan. Pada usia 6–7 tahun, dia kehilangan ayahnya. Ia menikah pada tahun 1994 dan memiliki seorang putra dan putri. Abdollahian meraih gelar Sarjana Hubungan Diplomatik dari Fakultas Kementerian Luar Negeri, gelar Magister Hubungan Internasional dari Fakultas Hukum dan Ilmu Politik Universitas Teheran, dan gelar PhD Hubungan Internasional dari Universitas Teheran. Afiliasi Abdollahian mendukung Front Perlawanan, yang berafiliasi dengan Hizbullah di Lebanon, Suriah, dan aliran lain yang bersekutu dengan Republik Islam Iran yang berkonflik dengan Israel. Dia adalah anggota Komite Politik dan Keamanan Perundingan Nuklir selama perundingan nuklir pada masa kepresidenan Mohammad Khatami. Ia juga merupakan pejabat Iran pertama yang diundang ke London untuk melakukan pembicaraan regional setelah pembukaan kembali kedutaan London di Teheran pada masa jabatan pertama Hassan Rouhani, dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Inggris saat itu Philip Hammond. Abdollahian merinci pembicaraan regional dengan Federica Mogherini dalam arsipnya, dan melakukan pertemuan rinci dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Sekretaris Jenderal Hizbullah-Lebanon Hassan Nasrallah. Negosiasi dengan Amerika Serikat Dia adalah ketua tim perunding Iran pada pertemuan trilateral Iran-Irak-AS di Bagdad pada tahun 2007. Pertemuan tersebut diadakan untuk mengamankan Irak atas permintaan Amerika, yang menyebut situasi di Irak berbahaya. Pembicaraan gagal setelah tiga sesi tanpa hasil. Abdollahian kemudian mengatakan tentang pembicaraan tersebut bahwa Amerika meninggalkan tempat kejadian ketika mereka mendengar kata yang logis dan tidak memiliki jawaban yang logis. Lebih lanjut beliau menjelaskan tentang awal perundingan AS di mana AS berpendapat bahwa mereka harus menetapkan agendanya, namun Republik Islam tidak mengizinkannya, dan diputuskan bahwa agenda tersebut harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak. Komunikasi dengan Qasem Soleimani Ia memiliki hubungan dekat dengan Qasem Soleimani, dan hal ini disebabkan oleh dua dekade tanggung jawabnya di Kementerian Luar Negeri, khususnya di posisi Arab dan Afrika di Kementerian Luar Negeri Iran. Ketika Soleimani menjadi komandan Pasukan Quds, Abdollahian adalah seorang ahli Irak di Kementerian Luar Negeri. Selama invasi AS ke Irak pada tahun 2003, dengan penggulingan Saddam, dia mulai bertanggung jawab atas Irak di Departemen Luar Negeri. Abdollahian kemudian dalam pertemuan dengan delegasi dan pejabat Eropa mengatakan bahwa mereka harus berterima kasih kepada Republik Islam dan Soleimani karena Soleimani telah berkontribusi terhadap perdamaian dan keamanan dunia. Dia yakin tanpa Soleimani, negara-negara besar di kawasan ini akan hancur. Karier Abdollahian adalah profesor tamu di Fakultas Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri. Sejak tahun 2021, Irak telah menjadi tuan rumah lima putaran perundingan langsung antara Arab Saudi dan Iran, yang memutuskan hubungan diplomatik pada tahun 2016. Perundingan putaran ke-6 di tingkat menteri terhenti, namun setelah pertemuan di Amman, Yordania, pada bulan Desember 2022, Abdollahian dan Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan Al Saud memberi isyarat bahwa kedua negara akan “terbuka untuk lebih banyak dialog”. Pada bulan Januari 2023, Faisal berbicara di panel Forum Ekonomi Dunia di Davos menegaskan kembali bahwa “Riyadh sedang mencoba mencari dialog dengan Iran”. Kedua negara mengumumkan dimulainya kembali hubungan pada 10 Maret 2023, menyusul kesepakatan yang ditengahi oleh Tiongkok. Hal ini dapat meredakan konflik proksi Iran-Arab Saudi, sehingga membawa stabilitas di Yaman, Suriah, Irak, Lebanon, dan Bahrain. Abdollahian bertemu dengan Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulaziz Al Khulaifi pada Juli 2023. Mereka membahas kerja sama dalam proyek infrastruktur. Dalam pertemuan dengan diplomat PBB Tor Wennesland pada 14 Oktober 2023, Abdollahian memperingatkan bahwa Iran dapat melakukan intervensi dalam perang Israel-Hamas jika Israel melancarkan invasi darat ke Gaza. Pada 15 Oktober 2023, Abdollahian bertemu dengan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Doha, Qatar. (*) Editor: Ufqil Mubin

Baca Selengkapnya

Profil Presiden Iran Sayid Ebrahim yang Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Helikopter di Azerbaijan

BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di Provinsi Azerbaijan Timur pada Minggu (19/5/2024). Dia merupakan Presiden Iran yang terpilih pada Pemilu 2021 setelah memperoleh 17.926.345 suara. Ia memenangkan Pemilu Iran setelah mengalahkan Mohsen Rezaei yang memperoleh 3.412.712 suara, Abdolnaser Hemamti 2.427.201 suara, dan Amirhossein Ghazizadeh Hashemi 999.718 suara. Sayid Ebrahim lahir pada Desember 1960 di sebuah keluarga religius di Kota Masyhad di lingkungan Noghan. Ayahnya, Hujjatul Islam Sayid Haji, Rais-ul-Sadati, serta ibunya, Sayidah Esmat Khodadad Husseini, termasuk dalam silsilah Sadat Husseini dan silsilahnya dari kedua belah pihak kembali ke Imam Zaid ibn Ali ibn Imam Al-Husain. Sayid Ebrahim kehilangan ayahnya ketika dia berusia 5 tahun. Dia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Javadiyeh dan memulai studi seminari di Sekolah Nawab. Kemudian di madrasah Ayatullah Mousavinejad. Pada 1975, ia melanjutkan pendidikan ke seminari Qom dan Hauzah Ayatullah Boroujerdi, dan untuk beberapa waktu ia belajar di sekolah yang dikelola oleh Ayatullah Pasandideh di bawah pengawasan pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini. Setelah menyelesaikan mata kuliah seminari, Sayid Ebrahim dapat memasuki program magister di bidang hukum perdata. Setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Warisan Tanpa Ahli Waris’, pada tahun 2001 dia melewati ujian masuk doktor Universitas Syahid Mutahhari di bidang yurisprudensi dan hukum perdata. Sayid Ebrahim, dengan menyelesaikan penelitiannya di bidang fikih dan hukum, berhasil memperoleh gelar kesarjanaan tingkat tertinggi (tingkat empat) dan akhirnya mempertahankan disertasi doktornya yang berjudul ‘Konflik Antara Asas dan Kenampakan dalam Ilmu Hukum dan Hukum yang Dipertahankan’. Dan dengan memperoleh nilai yang sangat baik, ia meraih gelar doktor di bidang yurisprudensi dan hukum. Dia memasuki bidang manajemen pada tahun 1980 dan menghadiri kantor kehakiman Kota Karaj. Setelah beberapa saat, ia diangkat sebagai jaksa Karaj. Keberhasilannya mengatur situasi kompleks kota ini menyebabkan dia memimpin kantor kejaksaan Kota Hamedan setelah dua tahun di musim panas 1982, bersamaan dengan kantor kejaksaan Kota Karaj. Kehadirannya secara bersamaan dalam dua tanggung jawab ini berlanjut untuk sementara waktu sampai ia diangkat sebagai jaksa Provinsi Hamedan dan menjabat dalam posisi ini dari tahun 1982 hingga 1984. Sayid Ebrahim menikah dengan Jamilah Sadah Alamul-Huda, putri sulung Ayatullah Sayid Ahmad Alam al-Huda pada tahun 1983 pada usia 23 tahun. Alam al-Huda adalah Associate Professor dalam bidang filsafat ilmu pendidikan di Universitas Syahid Behesyti Teheran, mantan direktur Institut Penelitian Humaniora, dan ketua Komisi Pendidikan Dewan Tertinggi Revolusi Kebudayaan. Hujjatulislam Ebrahim dan Alam al-Huda memiliki dua orang putri. Ia memberikan perhatian khusus pada pendidikannya dan pendidikan anggota keluarganya, dan putri pertamanya telah menikah dan memiliki dua gelar master. Salah satunya di bidang ilmu sosial dari Universitas Al-Zahra dan yang lainnya di bidang ilmu Quran dan Hadits dari Universitas Hadis di Rey. Sementara putri keduanya sudah menikah dan memiliki gelar sarjana fisika dari Universitas Sharif. (*) Editor: Ufqil Mubin

Baca Selengkapnya

Perjuangan Imam Hasan al-Mujtaba dalam Catatan Emas Tinta Sejarah

BERITAALTERNATIF.COM – Imam Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Abi Thalib al-Mujtaba yang lahir pada 15 Ramadhan 3 Hijriah adalah imam kedua Ahlulbait Rasulullah Saw, penghulu para pemuda surga menurut konsensus para perawi hadis, salah satu dari dua orang keturunan khusus Ahlulbait, salah satu dari empat orang yang diajak Rasulullah Saw untuk bermubahalah dengan kaum Nasrani Najran, anggota keluarga yang Allah perintahkan untuk dicintai, dan salah satu pusaka yang sangat berharga (tsaqalain), yang jika manusia berpegang teguh pada keduanya, akan selamat, dan jika menyimpang darinya, akan sesat dan terjerumus. Beliau tumbuh besar dalam asuhan Rasulullah Saw serta menghirup sumber mata air risalah, akhlak, dan kemuliaan kakeknya. Beliau terus-menerus berada dalam asuhan Rasulullah Saw hingga Allah Swt memanggil Nabi­-Nya ini ke peristirahatan abadinya; setelah Rasulullah Saw mewariskan posisi sebagai pemberi petunjuk, adab, wibawa, dan jabatan tertinggi, serta mendudukkan Imam Hasan pada posisi imamah yang sudah menantinya setelah ayahnya. Imam Ali as berkata, “Hasan dan Husain adalah dua orang imam, baik dalam keadaan berdiri (berkuasa secara formal) maupun dalam keadaan duduk. Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya; maka cintailah orang yang mencintai keduanya.” Setelah kakeknya wafat, Imam Hasan Mujtaba tetap berada dalam asuhan ibunya, Sayidah Zahra as, wanita lurus nan suci beserta ayahnya, penghulu para washi, imam kemuliaan dan kesucian. Keduanya selalu terlibat dalam sengketa dengan orang-orang yang terus-menerus menuntut kekhalifahan kakeknya, Rasulullah Saw. Tak lama kemudian, memasuki paruh kedua kehidupannya, ibunya yang agung, Sayidah Zahra wafat. Ini menjadikan ayahnya, Imam Ali as diliputi kesedihan mendalam. Beliau harus menyaksikan ujian ini dan mereguk kepahitannya padahal usianya saat itu masih kanak-kanak. Beliau sudah harus menghadapi berbagai hal yang belum sanggup dihadapi anak-anak seumurnya. Namun, beliau benar-benar luar biasa, baik dari sisi kesadaran maupun kepekaannya terhadap kondisi umum dan perkembangannya. Imam Hasan memiliki hubungan dekat dengan para pemuda di masa kekhilafahan Umar bin Khattab, dan bersama ayahnya memberikan pengajaran pada orang-orang serta memberikan jalan keluar bagi berbagai permasalahan mereka. Imam Hasan berdiri di samping ayahnya di masa Utsman. Beliau bekerja secara sukarela untuk Islam, serta bergabung dengan bapaknya dalam menegakkan hukum. Imam Hasan bin Ali tetap berdiri tegak di samping ayahnya dalam setiap perkataan dan perbuatan, serta aktif berpartisipasi dalam setiap peperangan ayahnya. Beliau selalu mendambakan sang ayah mengizinkannya terus bergabung dalam peperangan dan berada di medan tempur ketika keadaan sangat genting; sementara ayahnya sangat melindunginya, juga adiknya Husain, lantaran khawatir jika beliau terbunuh di medan peperangan sehingga menyebabkan terputusnya nasab Rasulullah Saw. Imam Hasan tetap berada di sisi ayahnya hingga akhir hayat sang ayah. Sebagaimana ayahnya, beliau membantu pada penduduk Irak seraya merasakan kegetiran yang mereka rasakan. Beliau menyaksikan Muawiyah menyebarkan propagandanya dan menyuap para komandan pasukan ayahnya dengan sejumlah harta dan berbagai jabatan sehingga sebagian besar mereka memisahkan diri dari Imam. Ketika Imam Ali menemui kesyahidan, Imam Hasan di tengah kepungan badai tersebut; yaitu antara penduduk Kufah yang lemah, gerombolan kaum Khawarij yang murtad, dan permusuhan penduduk Syam yang bengis. Setelah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as menetapkan secara resmi kekhalifahan anaknya, Hasan Mujtaba, serta menyerahkan berbagai warisan kenabian. Lalu, berkumpullah para penduduk Kufah dan sekelompok kaum Muhajirin dan Anshar. Ketika berita pembaiatan itu sampai ke telinga Muawiyah dan para pengikutnya, mereka pun mulai melancarkan berbagai aksi makar dan tipu daya untuk merusak pemerintahan beliau dan menyebarkan berbagai isu negatif. Imam Hasan menerima tahta kepemimpinan setelah ayahnya. Beliau menjalankan pemerintahan dengan sebaik­-baiknya dalam kondisi yang dipenuhi berbagai fitnah dan intrik. Beliau as memerintahkan setiap gubernurnya untuk melakukan tugas-tugas dengan sebaik-baiknya dan berwasiat untuk menegakkan keadilan dan kebajikan, serta memerangi para pembangkang dan pemberontak. Beliau juga memerintahkan mereka melangkah di jalan ayahnya yang sebangun dengan ajaran kakeknya, Muhammad Saw. Meskipun Imam Hasan mengetahui siapa Muawiyah, juga kemunafikan, kebohongan, dan permusuhannya terhadap risalah kakeknya, meskipun begitu, beliau tidak berupaya mengumumkan perang kepadanya, kecuali setelah beliau mengirimkan surat peringatan berkali­-kali yang mengajaknya bekerja sama dan menyatukan urusan kaum Muslim. Setelah itu, tak ada lagi alasan dan halangan baginya (untuk tidak memerangi Muawiyah. Imam Hasan mengirimkan surat pada Muawiyah, meskipun beliau tahu bahwa ia tak akan menjawab permintaannya. Beliau juga tahu bahwa ia akan tetap bersikap tak tahu malu di hadapannya, sebagaimana sikapnya dulu pada ayahnya. Terlebih ketika ia sedikit berhasil berkonspirasi melawan ayahnya. Sesungguhnya Imam Hasan mengetahui bahwa Muawiyah akan mengambil tindakan kekerasan bila tak ada jalan bagi makarnya. Namun Imam Hasan Mujtaba berkewajiban untuk mengungkapkan kepada seluruh dunia Islam setiap hal yang disembunyikan keluarga besar Muawiyah terhadap Nabi Saw dan Ahlulbait; berupa kebencian, permusuhan, dan tipu daya terhadap Islam dan kaum Muslim. Muawiyah optimistis bahwa segala sesuatu sudah memihaknya, disebabkan hubungan dekatnya dengan sebagian besar panglima tentara Imam Hasan. Ia juga berupaya merayu Imam Hasan dengan sejumlah harta dan tampuk kekhalifahan setelahnya, seraya mengaburkan opini umum. Namun sikap Imam Hasan tidak berubah dengan intimidasi dan janji-janjinya. Muawiyah mengetahui keteguhan Imam Hasan. Karenanya, ia menyiapkan rencana untuk memeranginya. Ia yakin betul bahwa perang ini akan menguntungkannya, sementara Imam Hasan dan para tentaranya yang ikhlas, yang turut membantunya, akan terbunuh atau menjadi tawanan. Namun, peperangan yang berusaha ia pertontonkan pada kaum Muslim ini kehilangan legitimasi syariatnya. Oleh karena itu, Muawiyah berupaya menghindari peperangan dengan Imam Hasan dan menggunakan cara makar, tipu daya, penjungkirbalikan fakta, penyuapan, dan pemecahbelahan bala tentara dan para panglimanya. Imam Hasan, sang cucu nabi, menghadapi gejolak para pengikut dan sahabatnya yang tidak lagi bersabar menghadapi kejahatan Muawiyah. Akhirnya Imam Hasan dengan perdamaiannya yang bersyarat itu, memberikan kesempatan luas pada Muawiyah (sendiri) untuk membongkar proyek jahiliahnya, serta memberitahukan kaum Muslim yang masih awam tentang siapa sebenarnya Muawiyah itu. Karenanya, taktik perdamaian Imam Hasan menyokong tersingkapnya kejahatan politik tipu daya yang dilancarkan musuhnya. Rencana Imam Hasan berhasil ketika Muawiyah berpartisipasi dalam menyingkap hakikat penyelewengannya melalui pengumumannya yang terang-terangan bahwa dirinya berperang bukan untuk Islam, ia juga tak akan memenuhi segala syarat perdamaian. Melalui pengumuman ini dan dengan membaca langkah-langkah yang dilakukan Muawiyah maka tersingkaplah selubung kejahatan dari wajah Bani Umayah. Imam Hasan menjalankan tanggung jawabnya menjaga keselamatan ajaran Islam meskipun harus menjauh dari kekuasaan. Berbagai upaya percobaan pembunuhan secara rahasia terhadap beliau merupakan bukti ketakutan Muawiyah terhadap kehadiran Imam Hasan sebagai kekuatan yang merepresentasikan kesadaran

Baca Selengkapnya

Profil Abu Dzar al-Ghifari, Sahabat Setia Rasulullah dan Ahlulbait

BERITAALTERNATIF.COM – Jundub bin Junadah bin Sufyan al-Ghifari yang dikenal dengan nama Abu Dzar Ghifari adalah sahabat utama Nabi Muhammad saw dan penolong setia Imam Ali serta termasuk empat pilar sahabat Nabi saw. Ia termasuk sahabat dan pencinta hakiki Nabi saw dan Ahlulbait as yang memiliki sifat-sifat dan keutamaan baik menurut Syiah maupun Sunni. Kritikan Abu Dzar yang dilancarkan kepada Utsman, khalifah ketiga, membuatnya diungsikan ke Syam (Suriah) dan selanjutnya ke Rabadzah hingga meninggal di sana. Wiladah, Nasab dan Sifat-Sifat Abu Dzar, lahir 20 tahun sebelum munculnya agama Islam dalam sebuah keluarga dari kabilah Ghifar yang merupakan kabilah asli suku Arab. Ayahandanya, Junadah adalah putra Ghifar, ibundanya Ramlah binti al-Waqi’ah dari kabilah Bani Ghifar bin Malil. Ahli sejarah mengatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai nama Ayahanda Abu Dzar: Yazid, Jundub, ‘Asyraqah, Abdullah dan Sakan juga disebut-sebut sebagai nama ayah Abu Dzar. Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis: Abu Dzar adalah seorang pria berperawakan tinggi dan berbadan kurus. Ibnu Sa’d mengenalkan Abu Dzar sebagai seorang laki-laki yang berbadan tinggi dan berjanggut warna putih. Dzahabi berkata: Abu Dzar seorang laki-laki yang memiliki perawakan yang kuat dan janggut tebal. Nama-Nama dan Julukan Ia dipanggil dengan nama Abu Dzar karena memiliki putra bernama “Dzar”. Kebanyakan orang mengenal dengan julukan itu namun terkait dengan nama aslinya terjadi perbedaan seperti Badar bin Jundub, Burair bin Abdullah, Burair bin Junadah, Burairah bin ‘Asyraqah, Jundub bin Abdullah, Jundub bin Sakan dan Yazid bin Junadah. Nama yang masyhur dan benar nampaknya adalah Jundub bin Yazid. Istri dan Anak Berdasarkan sumber-sumber yang ada, ia mempunyai seorang putra bernama “Dzar”. Kulaini mencatat hal ini dalam bab wafatnya Dzar. Istrinya bernama Ummu Dzar. Islam Ia adalah orang yang terdahulu dan terdepan dalam Islam. Menurut sebagian pendapat, Abu Dzar sebelum memeluk Islam adalah pemeluk ajaran monoteisme, dan tiga tahun sebelum bi’tsah Nabi saw ia beriman kepada Allah Swt. Ibnu Habib Baghdadi berkata bahwa Abu Dzar termasuk orang-orang yang berkeyakinan bahwa minum-minuman keras dan azlam (mengundi nasib dengan anak panah) pada zaman jahiliyah adalah haram. Setelah Islam muncul, ia termasuk menjadi pribadi-pribadi yang paling pertama masuk Islam. Terdapat sebuah riwayat: Aku adalah orang keempat yang mendatangi Nabi saw dan berkata, “Salam bagimu, Wahai Rasulullah! Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian aku melihat muka nabi pun nampak bahagia. Ibnu Abbas begini menceriterakan keislaman sahabat Nabi tersebut: Ketika Abu Dzar mendengar bi’tsah Nabi di Mekah, kepada saudaranya, Anis berkata: Pergilah ke negeri itu, dan kabarkan kepadaku tentang seorang laki-laki yang telah menerima kabar, dengarkanlah kata-katanya kemudian kembalilah kepadaku. Abu Dzar berkata: Karena pagi telah datang, aku pun bersama dengan Imam Ali pergi ke rumah Nabi saw. Kisah tentang keislaman Abu Dzar dalam referensi-referensi Syiah diceriterakan dengan bentuk lain. Kulaini dalam riwayat yang berasal dari Imam Shadiq As, di samping menceriterakan kekagumannya tentang kisah itu, juga menukilkan tentang keislaman Abu Dzar. Keutamaan Abu Dzar Nabi Muhammad berkata kepada Abu Dzar: Selamat datang wahai Abu Dzar! Anda bagian dari kami Ahlulbait. Atau di tempat lain tentang Abu Dzar berkata: Tidak ada seorang yang lebih jujur dari Abu Dzar. Rasulullah saw dalam riwayat yang lain menyifati Abu Dzar dengan zuhud dan rendah hati seperti Isa bin Maryam as. Imam Ali ketika ditanya mengenai Abu Dzar, bersabda: Ia memiliki ilmu yang tidak mampu dimiliki oleh orang lain dan bersandar terhadap ilmu itu, padahal ilmu itu bukan sesuatu yang sedikit. Imam Ali as berkata bahwa surga sangat merindukan Abu Dzar. Imam Baqir as bersabda: Setelah Rasulullah saw meninggal, semua manusia murtad dan menarik diri dari Imam Ali, kecuali tiga orang: Salman, Abu Dzar dan Miqdad. Bahkan Ammar pun mengalami keraguan, namun kemudian ia kembali. Imam Shadiq as terkait dengan ibadah Abu Dzar bersabda, ibadah yang paling banyak dilakukannya adalah tafakur, ia sedemikian takut kepada Allah, sehingga matanya luka. Imam Shadiq as dalam riwayat yang lain bersabda: Abu Dzar berkata: Aku mencintai 3 hal yang dibenci oleh orang lain: kematian, kefakiran, dan bencana. Imam Shadiq as melanjutkan: yang dimaksud oleh Abu Dzar dengan kematian dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada kemaksiatan dalam kehidupannya dan bermaksiat kepada Allah; bencana dalam ketaatan lebih ia sukai daripada kesehatan dalam kemaksiatan kepada-Nya; kefakiran dalam ketaatan kepada Allah Swt lebih baik daripada ketidakbutuhan dalam bermaksiat kepada-Nya. Menurut literatur-literatur Syiah, Abu Dzar Ghifari merupakan 4 pilar sahabat dalam agama Islam termasuk Miqdad dan Ammar. Syaikh Mufid meriwayatkan hadis dari Imam Kazhim As bahwa pada hari kiamat akan ada seruan bahwa di manakah engkau wahai hawariyyun Nabi Muhammad saw yang tidak pernah mengingkari janjinya? Kemudian, Salman, Miqdad, dan Abu Dzar pun berdiri dari tempatnya. Agha Buzurg Tehrani, dua kitab “Akhbār Abi Dzar” karangan Abu Mansur Dhafar bin Hamsun Badarai dan “Akhbār Abi Dzar wa Fadhilahu” karya Syaikh Shaduq menulis dalam bab Ahwalat dan Fadhilah Abu Bakar. Sayid Alikhan Madani mengenai Abu Dzar berkata: Abu Dzar termasuk seorang alim besar dan memiliki maqam dalam kezuhudan yang dalam tahun-tahun yang lama memberi uang sebanyak 400 dinar dan tidak mengumpulkan apa-apa untuk dirinya. Bahrul Ulum menyebutkan bahwa Abu Dzar merupakan salah seorang Hawariyun yang berjalan di samping Sayidul Mursalin dan selalu menyebutkan keutamaan Ahlulbait As serta bersikap keras terhadap musuh-musuhnya. Abu Na’min Isfahani juga berkata: Abu Dzar berkhidmat kepada Nabi Muhammad saw dan belajar usul Islam dari Nabi saw dan ia pun berada di sisi Nabi dalam kesempatan yang lainnya. Ia adalah orang yang tidak memakan riba semenjak syairat Islam belum turun dan sebelum Ahkam Ilahi ditentukan. Ia berjuang di jalan kebenaran, ia tidak menghiraukan hardikan dan tidak pernah taat kepada para penguasa tiran. Mencintai Imam Ali as Irbili meriwayatkan bahwa Abu Dzar menjadikan Imam Ali sebagai washi bagi dirinya dan berkata: Aku bersumpah dan Ali bin Abi Thalib as adalah pelaksana wasiatku. Meski kalian telah berpisah darinya dan khilafahnya telah dirampas. Ibnu Abil Hadid juga berkata: Ketika Abu Dzar berada di Rabadzah kepada Ibnu Rafi’ berkata: fitnah akan segera terjadi, takutlah kepada Tuhan dan lindungilah Ali bin Abi Thalib as. Pertemanan dan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib as ini menyebabkan ia turut serta dalam menguburkan pemakaman Sayidah Fatimah Zahra. Pada Masa Kehilafahan Abu Dzar tidak pernah melepaskan pembelaannya dari hak Imam Ali pada permulaan baiat kepada Abu Bakar. Ia pada zaman khalifah kedua, Umar bin Khattab, adalah seseorang yang tidak mempedulikan adanya pelarangan pencatatan hadis atas perintah Umar dan berkata: Demi Allah! Apabila pedang itu disabetkan ke lidahku sehingga aku tidak meriwayatkan

Baca Selengkapnya