Search
Close this search box.
Search

Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan

Oleh Dr. Muhsin Labib* Perkataan sempurna (harum, thayyib) adalah yang benar menurut logika, baik menurut etika dan indah menurut estetika. Logika dan Kebenaran Benar dan kebenaran adalah kata yang diklaim oleh hampir semua orang tapi mungkin sebagian orang tak memahami makna baku benar dan kebenaran serta sarana dan cara sah menetapkan sesuatu sebagai benar. Dalam filsafat kebenaran merupakan nilai logika. Logika adalah tutorial inheren dalam diri setiap orang cara mengenali kebenaran yang disebut validitas melalui penyusunan pikiran. Logika dalam filsafat adalah cabang ilmu yang mempelajari cara berpikir yang benar dan rasional. Tujuan utama dari logika adalah untuk mencari dasar penalaran yang kokoh dan konsisten, serta untuk mengidentifikasi argumen yang valid dan tidak valid. Dalam filsafat, logika digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi argumen-argumen yang digunakan dalam mendukung suatu klaim atau pendapat. Logika membantu kita untuk memahami bagaimana alasan dan kesimpulan saling berhubungan, serta membantu dalam mengidentifikasi kesalahan dalam berpikir dan argumen yang tidak konsisten. Beberapa konsep penting dalam logika adalah premis (pernyataan yang digunakan untuk mendukung suatu kesimpulan), kesimpulan (penyataan akhir dari suatu argumen), validitas (suatu argumen dikatakan valid jika premis yang diberikan benar, maka kesimpulannya juga benar), dan soundness (suatu argumen dikatakan sound jika valid dan premisnya benar). Selain itu, logika dalam filsafat juga mempelajari berbagai jenis argumen dan cara-cara penalaran yang dapat digunakan untuk memperkuat suatu klaim atau pendapat. Beberapa contoh teknik logika yang sering digunakan adalah deduksi, induksi, analogi, dan silogisme. Dengan memahami logika dalam filsafat, kita dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan rasional, serta membantu kita untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih berdasarkan pada alasan yang jelas dan konsisten. Logika merupakan satu-satunya tutorial yang disepakati oleh manusia-manusia berakal sehat (sebelum terdistribusi ke aneka keyakinan agama dan pandangan lainnya) sebagai prosedur m memproduksi pikiran-pikiran yang valid Etika dan Kebaikan Etika dalam filsafat merujuk pada studi mengenai prinsip-prinsip moral yang mengatur perilaku individu dan kelompok dalam masyarakat. Etika mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang benar dan salah, bagaimana seharusnya kita bertindak, dan apa yang merupakan nilai-nilai yang benar. Dalam pandangan filsafat, etika memiliki beberapa konsep pokok seperti kebaikan moral, kewajiban moral, hak moral, keadilan, dan kesetiaan. Para filsuf etika juga memperdebatkan tentang berbagai teori etika yang berbeda, seperti etika konsekuensialisme yang menitikberatkan pada hasil dari suatu tindakan, etika deontologi yang menekankan pada kewajiban moral yang intrinsik, dan etika viritue yang menekankan pada karakter moral individu. Selain itu, etika dalam filsafat juga mencakup konsep seperti moralitas universal versus relativisme moral, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan kesetaraan. Etika dalam filsafat juga membahas tentang tanggung jawab moral individu terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Secara umum, etika dalam filsafat mengajarkan nilai-nilai moral yang dapat membantu individu dalam mengambil keputusan dan bertindak secara benar dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Etika juga membantu kita memahami arti dan pentingnya moralitas dalam hubungan sosial dan interaksi antar individu. Estetika dan Keindahan Estetika merupakan salah satu cabang dalam filsafat yang mempelajari tentang keindahan dan kesenian. Estetika membahas tentang pemahaman tentang keindahan, kriteria untuk menilai keindahan, serta hubungan antara keindahan dengan pengalaman manusia. Dalam estetika, terdapat beberapa konsep yang penting untuk dipahami, antara lain adalah rasa estetik, keindahan, kritik seni, dan pengaruh seni terhadap manusia. Rasa estetik merujuk pada kemampuan seseorang untuk merasakan atau menghargai suatu objek atau karya seni secara estetis. Keindahan sendiri bisa bermakna subjektif atau objektif, tergantung pada pandangan individu atau aturan-aturan yang berlaku. Kritik seni merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menilai karya seni. Kritik seni bertujuan untuk memahami karya seni secara lebih mendalam, sehingga lebih menghargai keindahan dari suatu karya seni. Selain itu, estetika juga mempertanyakan bagaimana seni mempengaruhi manusia, baik secara emosional, intelektual, moral, maupun spiritual. Dengan mempelajari konsep-konsep dalam estetika, seseorang dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keindahan dan karya seni, sehingga dapat mengapresiasi keindahan dalam kehidupan sehari-hari. Estetika juga dapat membantu seseorang untuk lebih memahami pengaruh seni dalam menciptakan pengalaman-pengalaman yang berarti dan memperkaya kehidupan manusia.# *) Penulis adalah Cendekiawan Islam

Baca Selengkapnya

Nasihat Imam Ali As untuk Putranya (Imam Hasan As) sekembalinya dari Perang Shiffin

Oleh Sayid Jamaluddin Din Cirur 1. Anakku, aku telah menjelaskan kepadamu wajah dunia, yang buruk dan yang indahnya. Aku juga sampaikan kepadamu apa yang akan menjadi abadi dan apa yang akan sirna dari dunia ini. Juga telah kuceritakan kepadamu tentang kampung akhirat dan apa yang telah dipersiapkan untuk para penghuninya. Kadang-kadang aku juga menjelaskan dengan tamsil (perumpamaan-perumpamaan), tidak lain agar engkau lebih mengikuti cara hidup orang-orang yang saleh dan lebih berhati-hati. Sesungguhnya orang-orang yang bisa melihat kehidupan dunia dengan jernih dan selalu selamat dari jebakan-jebakannya. Ibarat para musafir yang melintasi dataran gersang, tenggelam dalam musim paceklik berkepanjangan. Hati para musafir ini menjadi sempit dan membeku tapi kemudian mereka mendengar keberadaan daerah lain yang subur dan dilimpahi kesejahteraan, akhirnya mereka bergerak ke daerah tersebut yang dipenuhi oleh kebun-kebun yang rindang dan oase yang selalu melimpah airnya. Di tengah-tengah perjalanan itu, mereka dihadapkan pada berbagai kesulitan; harus berpisah dengan orang- orang yang disayangi, kekurangan makanan sebelum menginjakkan kaki di daerah baru yang nyaman. Mereka tak menghiraukan penderitaan apa pun yang ditemui dalam perjalanan dan tidak merasa rugi dengan biaya yang telah dikeluarkan, karena tidak ada yang lebih membahagiakan selain secepatnya sampai di tujuan tersebut. Sementara mereka yang terseret dalam permainan duniawi, ibarat orang-orang tinggal  di daerah yang subur dan tiba-tiba diusir darinya agar mengungsi ke tempat yang penuh penderitaan; yang siang harinya adalah kegelapan dan malam harinya tanpa ada akhirnya. Tiada yang lebih dibenci daripada perpisahan dengan keadaan mereka semula dan memasuki tempat baru. 2. Wahai anakku, dalam kegiatan bermasyarakat, jadikan dirimu sebagai neraca yang adil di sekitarmu. Berperilakulah yang baik terhadap yang lain sebagaimana engkau juga ingin mendapatkan penghormatan yang baik dari mereka. Senangilah bagi orang lain apa yang kausenangi bagi dirimu sendiri, bencilah untuknya apa yang engkau benci untuk dirimu sendiri. Janganlah berbuat zalim terhadap yang lain sebagaimana engkau juga tidak suka orang lain bertindak zalim terhadapmu. Banyaklah berbuat kebajikan sebagaimana engkau juga ingin orang lain berbuat kebajikan terhadapmu. Jangan sekali-kali membenarkan dirimu  berbuat sesuatu  yang engkau tidak membenarkannya dari orang lain dan relakan hatimu menerima sesuatu yang kaurelakan bagi orang lain. Nilailah buruk dari dirimu , juga apa yang engkau nilai itu buruk dari yang lain, juga jangan terlalu membebani orang lain dengan sesuatu yang dirimu sendiri juga tidak suka dibebani dengannya. Hentikanlah menyatakan sesuatu tanpa ilmu pengetahuan, meskipun sebenarnya engkau mengetahuinya sedikit sekali. Janganlah mengucapkan sesuatu yang kau tidak ingin orang lain mengucapkannya padamu. 3 Anakku, ujub terhadap diri sendiri adalah menyesatkan juga racun bagi akal. Bekerjalah dengan membanting tulang tapi jangan biarkan  engkau hanya menjadi juru simpan bagi yang lain. Saat engkau mencapai tujuanmu, jadilah manusia yang paling tawadlu dan rebahkan dalam haribaan ketaatan pada-Nya.* (Sumber: Dinukil dari Buku “Nasihat Abadi: Surat Ali kepada Putranya”.Penerbit Al-Huda)

Baca Selengkapnya

Manfaat Mengenal Diri

BERITAALTERNATIF.COM – Salah satu manfaat praktis dari mengenal diri adalah memungkinkan seseorang berkenalan akrab dengan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakat pribadinya. Ini amat membantu bagi seseorang dalam kehidupannya dan dapat mencegahnya, misalnya, dari memilih bidang studi atau pekerjaan yang secara inheren tidak sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Tetapi, yang lebih penting adalah nilai rohani dari pengenalan diri, di mana orang yang mengenal diri sangat kecil kemungkinannya untuk berkubang dalam kesombongan, kebanggaan yang tak sepatutnya, dan perangai-perangai yang merusak semacam itu. Orang yang berhubungan erat dengan dirinya sendiri dan Tuhannya, jauh lebih baik dalam memperbaiki aspek-aspek dirinya yang dapat diperbaiki, dan yang memang memerlukan perbaikan. Ia akan lebih dapat menilai kelemahan dan kekuatannya, dan bersyukur atas nikmatnya. Pengenalan diri adalah suatu sistem yang sangat efektif bagi perbaikan diri. Dapat dikatakan bahwa ma’rifatun nafs dalam beberapa hal serupa dengan terapi-terapi bio-feedback yang dianjurkan oleh banyak dokter di sebagian negeri Barat kepada pasien yang berpartisipasi aktif dalam proses penyembuhan yang diperlukan, atau untuk pasien-pasien yang bagi mereka obat-obatan modern tidak menyembuhkan. Manfaat sangat penting lainnya dari ma’rifatun nafs adalah seorang mukmin mengetahui bahwa ia ciptaan Allah yang amat berharga, dan tidak melihat dirinya semata-mata sekadar seperti hewan lain yang memiliki beberapa kebutuhan dasar untuk dipuaskan dan diperjuangkan. Kebanyakan manusia secara naluri tampak menyadari bahwa setiap wujud mempunyai tingkat kesempurnaan yang berbeda, yang erat kaitannya dengan karakteristik dan tujuan inheren wujud itu dalam skema hal-hal di alam semesta. Misalnya, suatu pohon rindang biasa yang tidak berbuah dipandang memiliki status kesempurnaan lebih rendah dalam skema hal-hal itu dibandingkan dengan pohon apel yang dapat bermanfaat sebagai naungan maupun buahnya. Karena itu, pohon apel di suatu kebun buah yang berdaun cukup rimbun untuk memberi naungan tetapi karena suatu alasan tidak berbuah, sangat mungkin untuk ditebang dan diganti dengan yang berbuah. Ia tidak hidup memenuhi potensinya dan tingkat kesempurnaannya. Dengan kata lain, walaupun pohon itu tetap berguna dalam banyak seginya, ia gagal dalam aspek yang membedakan dia dari pohon-pohon yang lebih kurang sempurna yang tidak berbuah. Analogi yang sama berlaku bilamana kita membandingkan manusia dan binatang. Apabila seorang manusia tidak menunjukkan karakteristik yang lebih tinggi daripada ciri-cirinya yang juga dimiliki hewan, yakni makan, minum, berlindung, dan gairah untuk berkembang biak, maka orang itu belum mencapai potensi atau kesempurnaan penuhnya. Untuk menyingkat pokok ini, orang dapat mengklaim secara logis bahwa manfaat kedua yang terpenting dari ma’rifatun nafs adalah mengenal karakteristik fitriah yang eksklusif, yang memungkinkan orang melihat dengan jelas siapa mereka. Manusia semacam itu tidak akan mengizinkan dirinya dirusak dan direndahkan ke tingkat hewan, setelah memahami kedudukannya dalam skema hal-hal itu, dan di mata Tuhannya. Orang yang mengetahui nilainya yang sesungguhnya, tidak akan berbuat dosa. Apabila kita benar-benar memahami betapa berharganya kita, betapa tingginya potensi kita yang tak tergambarkan, dan betapa tingginya ke mana kita dapat membumbung, maka kita tidak akan membiarkan diri kita dibelenggu dan direndahkan oleh dosa. Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah berkata, “Barang siapa memandang dirinya dengan hormat, maka ia memandang hawa nafsunya dengan hina.” Dengan kata lain, Imam mengatakan bahwa begitu seseorang menyadari dirinya sendiri, memahami betapa berharga ia, dan tujuan-tujuan bernilai yang dapat dicapainya, hawa nafsunya sendiri tampak enteng, tak berarti, dan tak pantas baginya. Jadi, memerangi hawa nafsu menjadi lebih mudah, dan inilah salah satu manfaat pengenalan diri. Masih dari Nahjul Balaghah, Imam Ali as berkata kepada putranya, Imam Hasan, “Jauhkanlah dirimu dari setiap hal yang rendah, sekalipun itu mungkin membawamu kepada tujuan yang engkau hasratkan, karena engkau tidak akan menerima suatu kembalian atas kehormatan engkau sendiri yang engkau belanjakan. Janganlah menjadi budak orang lain karena Allah telah membuatmu merdeka.” Dalam hadis yang kedua, kita dapati kata daniyyat yang berarti perbuatan yang secara inheren jelek dan hina. Imam memperingatkan kita tentang bahaya serius perbuatan seperti itu terhadap jiwa kita, karena memperbudak roh dan merusak jiwa. Beliau memperingatkan kita untuk selalu waspada terhadap perbuatan yang walaupun menyenangkan, menghibur, dan enak, adalah demikian menghinakan sehingga, secara rohani, orang kehilangan jauh lebih banyak ketimbang kesenangan sesaat yang diperolehnya. Pada kalimat terakhir hadis yang kedua, Imam Ali mengatakan kepada putranya bahwa kebebasan manusia demikian berharganya dan merupakan karunia berharga dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sehingga, perbuatan apa saja, betapa pun menyenangkan atau menghibur, yang menjurus kepada perbudakan adalah perdagangan yang teramat buruk. Kesenangan sesaat akan berlalu dan kehancuran menyedihkan akan terus berlanjut. Sekarang marilah kita teruskan ke suatu manfaat besar lain dari pengenalan diri. Kebanyakan manusia menyadari secara naluri bahwa ada dua sisi yang berbeda dari wujud mereka: aspek material (duniawi) dan aspek spiritual. Namun, kebanyakan mereka tidak memahami atau mempercayai bahwa yang spiritual amat jauh lebih penting dibanding dengan yang material. Tetapi, dalam Islam, urusan rohani yang unggul. Seseorang mungkin merupakan anggota masyarakat yang sangat produktif dalam capaian material, namun ia merasa tidak pantas disebut seorang muslim apabila ia korup. Ada kesalahpahaman yang mencolok bahwa beberapa perbuatan tidak berpengaruh pada jiwa seseorang karena tampak tak penting. Tetapi kita diajari dalam Islam bahwa setiap patah kata yang kita ucapkan, mempunyai efek pada jiwa dan roh kita, memperkuat keimanan dan menyucikan rohani, atau menjungkirkan keimanan dan merugikan jiwa kita. Kata-kata yang diucapkan untuk membimbing suatu jiwa yang tersesat adalah berharga bagi si pembicara maupun orang yang tersesat itu. Mereka masing-masing beroleh manfaat secara berbeda-beda. Jadi, tak boleh ada keraguan di kalangan muslim bahwa dalam Islam kita diajari bahwa setiap perbuatan, setiap patah kata, mempunyai akibat bagi kesejahteraan rohani kita, dan tak boleh dibiarkan sebagai sesuatu yang tak berarti atau sepele. Ketika Nabi Muhammad Saw mengutus Imam Ali ke Yaman, beliau berkata, “Hai, ‘Ali! Jangan bertempur dengan siapa pun sebelum kamu mengajak mereka kepada Islam, dan saya bersumpah demi Dia bahwa apabila Allah membimbing satu orang melalui engkau, itu lebih berharga daripada semua yang di bawah matahari terbit dan tenggelam.” (Mizan al-Hikmah, 10/325) Jadi, dapat dikatakan dengan jelas kepada kita bahwa dimensi yang penting dari wujud kita adalah jiwa, dan amal perbuatan serta pikiran kita langsung mempengaruhi ganjaran berharga dari Tuhan. Manfaat besar ketiga dari pengenalan diri yang diajarkan Islam adalah mengetahui bahwa aspek kerohanian dari wujud kita merupakan sesuatu yang terpenting, dan roh kita dipengaruhi bukan saja oleh amal perbuatan kita, tetapi juga oleh gagasan-gagasan kita. Maka kita

Baca Selengkapnya

Antara Tulus dan Ikhlas

Oleh: Dr. Muhsin Labib* Ketulusan kerap kali disamakan dengan keikhlasan. Padahal ketulusan atau tulus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI merupakan sungguh dan bersih hati atau benar-benar keluar dari hati yang jujur. Pengertian tidak memuat Tuhan sebagai objek dan tidak memasukkan motif dan tujuan tunggal mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam perspektif pandangan dunia tauhid dan agama, ketulusan bukan hanya tidak menetapkan sebuah keuntungan material di balik perbuatan baik kepada sesama manusia, namun tidak mengharapkan apa pun sebagai pantulan perbuatan baik kepada sesama manusia. Ketulusan juga bukan hanya tidak menetapkan sebuah keuntungan material di balik perbuatan baik kepada sesama manusia, namun tidak mengharapkan apa pun sebagai pantulan perbuatan baik dalam pengertian, karena perbuatan baik tak hanya terbatas kepada sesama manusia. Tak hanya itu. Perbuatan baik kepada sesama yang tidak didasarkan kepada kepatuhan Tuhan melalui kesadaran rasional maupun doktrin keagamaan bukanlah perbuatan baik secara hakiki. Dalam faktanya, perbuatan baik kepada sesama tanpa dasar tujuan mematuhi aturan moral Tuhan pastilah didasarkan pada tujuan meraih sesuatu yang bila tidak material secara langsung, misalnya, berkaitan dengan kepuasan diri berupa keuntungan psikis yang secara tidak langsung merupakan keuntungan material. Sedangkan keikhlasan dalam bahasa Indonesia merupakan kata yang diserap dari kata Arab ikhlas serba terma bukan verbal. Kadang kata tulus dan ikhlas digandeng karena dianggap semakna. Kata ikhlas (الاخلاص) dalam bahasa Arab punya dua makna; etimologis (bahasa) dan terminologis (istilah). Secara kebahasaan ikhlas berarti memurnikan, membersihkan dan membebaskan juga mengosongkan. Secara terminologis, ia didefinisikan sebagai membersihkan hati dari selain Tuhan yang merupakan objek tunggal sebagai ekspresi kepatuhan kepada-Nya demi mendekatkan diri kepada-Nya di balik setiap perbuatan ritual dan sosial. Bila ketulusan dipahami oleh kebanyakan orang sebagai perbuatan baik kepada sesama manusia tanpa menetapkan raihan keuntungan material di baliknya, maka keikhlasan dapat dijelaskan sebagai perbuatan baik hanya kepada Tuhan secara langsung atau melalui hamba dan makhluk-Nya yang lazim disebut kebaikan sosial. Dengan kata lain, keikhlasan adalah semua perbuatan baik ritual dan sosial dengan tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan. Atas dasar itu, kata ketulusan dan keikhlasan bukanlah sinonim. Ikhlas dalam pengertian inilah yang disebut tauhid fi’li atau mengesakan Tuhan secara aktual. Karena sedikitnya orang yang menjadikan tauhid sebagai paradigma dalam perbuatan, maka tak heran bila orang-orang ikhlas atau mukhlisin dianggap kelompok elit kaum mukmin. Fakta adanya orang-orang yang tak pernah pamrih dalam setiap kebaikan yang dilakukannya cukup menjadi bukti nyata adanya Tuhan yang kepatuhan kepada-Nya menjadi tujuan di baliknya melalui agama sebagai aturan dan pedoman cara yang ditetapkan-Nya. Merekalah orang-orang tulus juga mukhlis alias menafikan selain Tuhan sebagai objek dan tujuan setiap perbuatan baik. “Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 146). (*Cendekiawan Muslim)

Baca Selengkapnya

14 Mutiara Hikmah dari Imam Ali Ar-Ridha

BERITAALTERNATIF.COM – Ali bin Musa bin Ja’far as yang terkenal dengan Imam Ridha as (148-203 H) adalah Imam Kedelapan mazhab Syiah Itsna Asyariyah. Ia memegang tampuk kepemimpinan selama 20 tahun, yang mana 10 tahun sezaman dengan kekhalifahan Harun al-Rasyid, 5 tahun sezaman dengan kekhalifahan Muhammad Amin dan 5 tahun sezaman dengan kekhalifahan Ma’mun. Berikut kalimat-kalimat mutiaranya yang kami lansir dari Safinah Online: Hamba-hamba pilihan bergembira bila berbuat baik, meminta maaf bila berbuat buruk (salah), berterimakasih bila diberi sesuatu, bersabar bila ditekan, dan memaafkan bila marah. Ibadah bukan hanya memperbanyak puasa dan salat, melainkan banyak merenungkan ciptaan Allah. Sahabat setiap orang adalah kecerdasannya, dan musuhnya adalah kebodohannya. Mencintai (toleransi) kepada sesama manusia adalah setengah kecerdasan. Iringilah penguasa dengan kewaspadaan, teman dengan kerendahan hati, musuh dengan kecurigaan dan masyarakat umum dengan keceriaan. Pasrah (tawakal) berarti hanya takut kepada Allah. Orang yang melakukan banyak kebaikan selalu dipuji meski tak membutuhkannya. Orang yang banyak karunia (rezeki) harus bermurah hati kepada keluarga dan kerabatnya. Seseorang menjadi mukmin bila mempunyai tiga kualitas dalam dirinya: Sunnah dari Tuhannya, Nabi-Nya, dan dari Wali-Nya. Sunnah dari Tuhannya adalah menjaga rahasia, sunnah dari Nabi-Nya adalah santun dengan manusia lainnya, dan sunnah dari Wali-Nya adalah kesabaran dalam kemalangan dan kesulitan. Uang hanya dapat dikumpulkan dengan lima syarat: kikir yang memuncak, cita-cita tinggi, kerakusan berlebihan, memutuskan hubungan kekerabatan, dan mengutamakan dunia di atas akhirat. Barang siapa mencintai pemaksiat, menjadi pemaksiat. Barang siapa mencintai pelaku kepatuhan, menjadi orang taat. Barang siapa memihak orang zalim, menjadi zalim. Barang siapa menghina orang adil (pelaku keadilan) menjadi hina, karena tidak ada kekerabatan antara Allah dengan siapa pun. Tidak ada seorang pun yang memperoleh kecintaan (wilayah) Tuhan kecuali dengan ketaatan. Nabi Saw berkata kepada seluruh anak keturunan Abdul Muthalib: “Bawalah kepadaku amal kalian, bukan dengan garis keturunan dan keningratan.” Yang paling ditakuti bagi manusia adalah tiga peristiwa: peristiwa ketika ia dilahirkan dari perut ibunya, lalu melihat dunia. Peristiwa saat ia mati, lalu melihat akhirat dan seluruh penduduknya. Dan hari ketika ia dibangkitkan lalu melihat hukum-hukum yang tidak pernah dilihatnya di dunia. Ada tujuh puluh cara ibadah, dan enam puluh sembilan di antaranya adalah penerimaan dan kepasrahan kepada Allah, Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, dan kepada rasul-Nya dan para pemilik hak kewenangan (Ulul Amri). Semoga salawat Allah atas mereka. Orang yang dermawan akan dekat dengan Allah, surga, dan masyarakat, serta dijauhkan dari neraka. Sedang kikir membuat jauh dari Allah, surga, dan manusia, serta dekat dengan neraka. (*) Editor: Ufqil Mubin

Baca Selengkapnya

Jenis-Jenis Kesabaran dan Tingkatan-tingkatannya

BERITAALTERNATIF.COM – Para ulama akhlak menyebutkan bahwa sabar memiliki sejumlah tingkatan. Tingkat pertama, bersabar untuk tidak terlalu terbuai dengan kesenangan, seperti sehat, sukses, memperoleh harta, kedudukan, banyak kerabat, dan lainnya. Dalam hal ini, seorang hamba harus bersabar untuk mengendalikan diri dan bersungguh-sungguh agar tidak sampai berlebih-lebihan. Tingkat kedua, bersabar dalam berbuat taat kepada Allah Swt. Ini tidak mudah dilakukan. Sebab sudah jadi watak manusia untuk tidak suka pada ketaatan, dan sebaliknya amat menyukai dipuja dan dijadikan tuhan. Karena itu, dikatakan bahwa kebanggaan Firaun selalu tersembunyi selama tidak diperlihatkannya. Namun kemudian tercipta kesempatan baginya untuk memperlihatkannya. Ya, kesombongannya nampak ketika “diundang” para hambanya, pembantunya, dan pengikutnya, sekalipun awalnya sulit. Karena itu, ia marah sewaktu merasakan kekurangan dalam pelayanan mereka. Inilah kesombongan. Bersabar dalam ketaatan kepada Allah Swt harus dilakukan sebelum, sesudah, atau saat menjalankan ketaatan. Adapun sabar sebelum melakukan ketaatan haruslah disertai niat. Sementara bersabar ketika melakukan ketaatan dilakukan agar tidak riya dan lalai dalam menyebut nama Allah Swt. Adapun bersabar setelah melakukan ketaatan dilakukan dengan menjauhi sifat sombong atau sejenisnya yang dapat membatalkan pahala ketaatan. Tingkat ketiga, bersabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat. Kesabaran ini sangat dibutuhkan manusia. Sebab kebanyakan maksiat, seperti berbohong, mengumpat, mengadu domba, dan lain-lainnya, sudah menjadi kebiasaan semua orang. Bahkan sudah menjadi karakter yang melekat kuat pada diri mereka. Jika kebiasaan tersebut menyatu dengan keinginan, maka bala tentara setan dan bala tentara Allah Swt akan bertarung sengit. Dan tatkala perbuatan dosa terasa lebih enak, kesabaran tentu akan sulit diwujudkan. Tingkat keempat, bersabar untuk tidak membalas sesuatu walaupun mampu melakukannya, seperti dalam menghadapi seseorang yang menyakitinya lewat perbuatan atau perkataan. Bersabar dalam hal ini (tidak berkeinginan membalasnya) merupakan sikap yang amat baik dan terpuji. Tingkat kelima, bersabar terhadap sesuatu yang terjadi di luar kemauan sendiri, baik pada awal mulanya maupun sesudahnya. Seperti tertimpa cobaan dengan meninggalnya para kekasih dan kerabat, hilangnya harta, jatuh sakit, buta, cacat, jatuh miskin, dan musibah sejenis lainnya. Bersabar dalam menghadapi cobaan seperti ini sulit sekali dilakukan, namun pahalanya juga sangat besar. Allah Swt berfirman: “…Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un! Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qal-Baqarah: 156-157) Bersabar dalam menghadapi cobaan adalah rahasia kehidupan yang penuh makna. Bayangkan, para shalihin merasakannya bukan lagi sebagai kepahitan, melainkan lebih manis dari rasa madu. Tantangan yang menghampiri bukan lagi rintangan, melainkan jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Pertama, bersabar membawa pahala besar yang akan diperoleh. Mereka akan diberi martabat di sisi Allah Swt sebagaimana orang yang berpuasa, menunaikan salat malam, atau mati syahid. Sabar terhadap kemiskinan bahkan dianggap sebagai jihad, bahkan lebih utama dari ibadah selama 60 tahun. Kedua, dengan kesabaran, seseorang akan memperoleh kesempatan untuk menggapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt. Ketiga, rasa gelisah, cemas, galau, dan takut tidak akan membuahkan apa pun kecuali berkurangnya pahala. Kita harus percaya bahwa segalanya ditentukan oleh Allah Swt yang memiliki dunia dan segala isinya. Keempat, cobaan merupakan bagian dari kebahagiaan dan mencerminkan kedekatan seorang hamba dengan penciptanya. Semakin berat cobaan, semakin dekat dirinya dengan Allah Swt. Kelima, ingatlah bahwa segala bencana yang terjadi adalah ketentuan dari Zat yang Mahabijak dan Mahakasih. Dia tidak akan menentukan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan demi kebaikannya. Keenam, cobaan juga merupakan pembersih jiwa, membantu memperkuat iman dan ketakwaan. Ketujuh, mengeluh tidak akan berdampak apa pun kecuali hanya menggembirakan lawan dan membuat sedih teman. Kedelapan, kesabaran akan membuahkan kebahagiaan di dunia. Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf as menjauhi maksiat dan menghadapi berbagai ujian, hingga akhirnya memperoleh kemuliaan yang luar biasa. Begitu juga dengan Nabi Ayyub as, yang kesabarannya dibalas dengan limpahan rizki dan kebahagiaan yang tak terhingga. Saat cobaan menghampiri, ingatlah betapa beratnya ujian yang dialami Ahlulbait Nabi Saw. Apa pun kesulitan yang kita alami, mereka telah menghadapi ujian yang jauh lebih berat. Mereka adalah teladan bagi seluruh umat manusia, dan dunia diciptakan karena mereka. Sebuah pepatah yang indah mengatakan, “Musibah kalian akan terlupakan, jika kalian melihat musibah lain yang telah terjadi; bahkan dengan itu, musibah yang menimpamu juga akan terasa ringan.” Janganlah bersabar seperti orang awam yang hanya menahan diri agar disebut bersabar. Bersabar seperti ini bisa jadi hanya riya. Berusahalah setidaknya untuk bersabar seperti para muttaqin, yang hanya mengharapkan pahala akhirat. Lebih baik lagi, bersabarlah seperti para ‘arifin, yang telah memiliki pengenalan yang mendalam terhadap Allah Swt. Mereka merasakan nikmat dan ketenangan dalam menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan, menyadari bahwa semuanya datang dari Sang Pencipta yang Maha Kasih dan Maha Mengetahui. Ketika mengalami musibah, bersabar tidak berarti menahan air mata. Bukankah Rasulullah Saw sendiri menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim? Ketika ditanya mengapa menangis, beliau menjawab, “Sesungguhnya hati dapat terbakar dan mata dapat menangis. Kami tidak akan berbicara yang dapat membuat Allah Swt murka atau tidak ridha pada kita.” Allah berfirman, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, dan sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6) Dalam tafsir Majma’ al-Bayan, disebutkan bahwa ‘Ata meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, “Allah Swt berkata dalam sebuah hadis Qudsi: ‘Aku menciptakan kesulitan hanya satu dan menciptakan kemudahan ada dua. Tak mungkin satu kesulitan dapat mengalahkan dua kemudahan.’” Mengapa dalam surat Alam Nasyrah di atas kata “kesulitan” yang hanya satu dan “kemudahan” ada dua, sebagaimana diungkapkan Ibnu Abbas, kedua kata tersebut diulang-ulang sampai dua kali? Kata dengan makna yang sama kadang diulang untuk menekankan pentingnya pesan tersebut. Sebagai contoh, jika dikatakan, “Jika engkau mendapat rezeki satu dirham, bersedekahlah satu dirham,” maka dirham yang dimaksud adalah yang diperoleh dari rezeki tersebut. Namun jika diungkapkan dengan kata “bidirhamin,” maka yang dimaksud mungkin bukan dari rezeki tersebut, tetapi dari yang lain. Begitu pula dengan ayat di atas, “Inna ma’a al-‘usri yusraini,” artinya, “Sesungguhnya dalam setiap kesulitan ada dua kemudahan.” Banyak perilaku yang mendapat pujian dengan kesabaran. Namun, setiap perilaku memiliki nama tersendiri. Sabar dalam menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu dan keinginan duniawi dinamakan “iffah” (menjauhkan diri dari hal yang tidak baik). Sabar dalam menghadapi sesuatu yang tidak disukai memiliki nama yang berbeda sesuai dengan perbuatan yang dihadapinya. Sabar dalam menghadapi cobaan dinamakan “al-shabr,”

Baca Selengkapnya

Tiga Berhala yang Harus Dihancurkan dalam Ritual Haji Menurut Ali Syariati

BERITAALTERNATIF.COM – Ingatlah bahwa di Mina terdapat tiga berhala yang melambangkan setan yang berusaha menggoda Nabi Ibrahim as. Namun, berhala-berhala ini memiliki makna yang lebih dalam dan melambangkan tiga fase yang harus dilalui oleh manusia dalam rangka membebaskan dirinya dari segala jenis penghambaan. Fase pertama adalah fase egoisme dan kesombongan. Seorang manusia tidak boleh mementingkan dirinya sendiri secara berlebihan dan harus mengatasi sifat kebinatangan yang ditandai dengan sikap egois. Ini adalah fase ketika manusia harus melawan nafsu dan keinginan pribadinya yang sering kali menjerumuskannya ke dalam kesesatan. Ketika Nabi Ibrahim menghadapi berhala pertama (Jumrah Ula), ia sebenarnya menghadapi ego dan kesombongan yang melanda hati manusia. Ia menunjukkan kepada kita pentingnya mengalahkan sikap egoistis dan membebaskan diri dari segala bentuk kesombongan. Fase kedua adalah fase pengendalian diri dan peningkatan spiritual. Setelah mengatasi egoisme dan kesombongan, manusia harus mengatasi sifat-sifat buruk yang ada dalam dirinya dan meningkatkan kualitas spiritualnya. Ini adalah fase ketika manusia harus berjuang untuk mencapai maqam Nabi Ibrahim, yaitu tingkat kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah. Berhala kedua (Jumrah Wustha) melambangkan hambatan-hambatan yang harus dilalui dalam perjalanan menuju kehidupan spiritual yang lebih baik. Manusia harus melawan godaan dan cobaan yang muncul dalam bentuk godaan duniawi, nafsu hawa, dan godaan setan yang terus-menerus mengganggu perjalanan spiritualnya. Fase ketiga adalah fase kesempurnaan dan ketundukan total kepada Allah. Setelah mengatasi egoisme dan meningkatkan spiritualitas, manusia harus mencapai tingkat kesempurnaan di mana ia melakukan segala sesuatu hanya karena Allah, dengan tujuan menggapai rida-Nya. Fase ini melambangkan maqam Nabi Ibrahim, di mana manusia sepenuhnya tunduk kepada kehendak Allah dan menjalani hidupnya dengan mengikuti petunjuk-Nya. Berhala ketiga (Jumrah Uqba) adalah simbol dari hambatan terakhir yang harus dilalui manusia sebelum mencapai tingkat kesempurnaan ini. Ketiga berhala ini merupakan lawan dari tiga fase haji akbar, yaitu Arafah, Masy’ar, dan Mina. Dalam haji akbar, manusia berusaha untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi dengan melaksanakan tugas-tugas dan ibadah-ibadah tertentu. Namun, berhala-berhala ini berusaha menghalangi manusia dan menggoda mereka agar tidak mencapai kesempurnaan spiritual yang diharapkan. Allah mengutuk penindasan, kebodohan, dan kemunafikan. Dia mengkritik mereka yang disebut sebagai para pemimpin spiritual yang seharusnya memimpin umat menuju kebaikan, tetapi malah memperdaya mereka dengan perbuatan keji. Ali Syariati menekankan bahwa manusia harus melawan segala bentuk penindasan dan memperjuangkan keadilan. Ali Syariati juga menyampaikan pesan tentang kebodohan. Dia berpendapat bahwa kebodohan adalah musuh terbesar manusia. Kebodohan menghalangi perkembangan intelektual dan spiritual seseorang. Oleh karena itu, manusia harus berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka agar dapat membebaskan diri dari belenggu kebodohan. Selain itu, Ali Syariati mengutuk kemunafikan dalam agama. Ia menekankan pentingnya kesetiaan dan ketulusan dalam menjalankan ajaran agama. Kemunafikan dalam agama adalah tindakan yang merusak citra dan esensi ajaran agama itu sendiri. Manusia harus jujur ​​dan tulus dalam beribadah serta mempraktikkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Ali Syariati juga memperjuangkan pembebasan sosial dan politik. Dia melihat bahwa masyarakat harus berjuang untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan dan dominasi. Pembebasan bukan hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi. Dia mendorong manusia untuk berpartisipasi aktif dalam perjuangan sosial dan politik untuk mencapai keadilan dan kesetaraan bagi semua. Dalam tulisannya, Ali Syariati juga menyoroti peran perempuan dalam masyarakat. Dia menyampaikan pentingnya pemberdayaan perempuan dan penolakan terhadap segala bentuk penindasan dan diskriminasi gender. Ali Syariati memandang perempuan sebagai mitra yang setara dalam perjuangan menuju kebebasan dan keadilan. Secara keseluruhan, tulisan Ali Syariati dalam buku Haji menekankan pentingnya perjuangan untuk membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan dan penindasan. Dia mendorong manusia untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan intelektual mereka, memperjuangkan keadilan sosial dan politik, serta melawan semua bentuk ketidakadilan dan penindasan dalam masyarakat. (*) Sumber: Safinah Online

Baca Selengkapnya

Waspadai Tipu Daya Diri dan Setan: Membangun Kerendahan Hati dalam Beribadah

BERITAALTERNATIF.COM – Tipu daya diri dan setan dapat merusak kehidupan spiritual seseorang, serupa dengan bagaimana seseorang terjerumus dalam kemaksiatan atau ujub saat beribadah. Penting untuk memahami cara tipu daya ini bekerja. Tipu daya ini terjadi melalui rencana yang matang, tetapi tidak dapat memengaruhi individu yang bertakwa dan takut kepada Allah untuk melakukan dosa berat. Demikian pula, setan tidak akan mengajak orang baik untuk melakukan tindakan kriminal. Dalam beribadah, setan mulai dengan mengarahkan perhatian pada hal-hal kecil, seperti mendorong untuk melaksanakan ibadah sunnah atau membaca zikir. Secara perlahan, ia membuat individu membandingkan diri dengan dosa orang lain. Dengan cara ini, setan menciptakan perasaan superioritas dan merusak hubungan baik dengan sesama hamba Allah. Ia juga mencoba meyakinkan bahwa perbuatan baik seseorang adalah jaminan keselamatan dan kebebasan dari segala keburukan. Dengan prasangka buruk terhadap orang lain, setan mencapai dua tujuan: membuat orang menganggap rendah hamba-hamba Allah lainnya dan menumbuhkan sifat ujub terhadap diri sendiri. Penting untuk menyadari bahwa seseorang yang berdosa juga bisa memiliki kebaikan dan amalan yang melibatkan rahmat Allah. Dalam pandangan Allah, pelbagai kebaikan dan amalan tersebut bisa menjadi petunjuk menuju kesudahan yang baik. Mungkin Allah memberikan dosa kepada seseorang untuk melindunginya dari ujub yang dapat lebih merusak daripada dosa itu sendiri. Syaikh Syahabadi mengatakan, “Jangan mencaci orang lain dalam hatimu, bahkan jika dia seorang kafir. Mungkin saja cahaya fitrah di hatinya akan membawanya kepada petunjuk, sementara penghinaan dan celaanmu terhadapnya dapat membawamu ke konsekuensi yang tidak baik. Amar ma’ruf dan nahi munkar sangat berbeda dengan merendahkan hati.” Beliau juga menekankan, “Jangan mengutuk kafir yang keadaannya tidak kita ketahui saat mereka meninggalkan dunia ini. Mungkin saja mereka mendapat hidayah sebelum meninggalkan dunia, dan kekuatan rohaniah mereka bisa mencegah kemunduran rohaniahmu sendiri.” Namun, tetaplah waspada terhadap tipu daya iblis dan dorongan dari diri (nafs), yang dapat membawa seseorang ke tingkat ujub awal dan perlahan-lahan meningkatkan tingkat ujub tersebut. Derajat ujub dapat bertambah hingga manusia merasa telah memberikan manfaat dan sumbangan kepada Allah, Sang Pemberi nikmat dan Pemilik segala sesuatu, melalui kerendahan hati dan berbagai amal perbuatannya. Dengan cara ini, seluruh amal perbuatannya dapat jatuh ke tingkat yang paling rendah. Cinta Diri sebagai Sumber Ujub Sifat buruk ujub berasal dari cinta diri yang tertanam dalam fitrah manusia. Cinta diri menjadi sumber kesalahan, kemaksiatan, dan keburukan moral. Manusia membesarkan perbuatan remehnya dan berusaha masuk ke dalam kelompok para wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Ia tidak hanya menganggap dirinya berhak mendapat pujian dan penghormatan atas perbuatan remeh tersebut, tetapi kadang juga melihat perbuatan buruknya sebagai baik jika melihat kebaikan moral dan kesalehan yang lebih besar pada orang lain. Ia bahkan mencoba merusakkan kesan baik orang lain. Cinta diri membuatnya merendahkan makhluk Allah lainnya dan memandang dirinya dengan sangat tinggi. Ia berharap tindakan-tindakan remeh dan tindakan yang sudah tercemar ribuan noda akan dianggap berharga di mata Allah. Oleh karena itu, ia selalu mencoba melihat kebaikan dalam perbuatan buruknya dan mewarnainya dengan warna yang semarak. Kita perlu merenungkan perbuatan baik kita dan menilai ibadah kita secara rasional. Harus adil dalam menilainya, melihat apakah kita benar-benar berhak mendapatkan balasan baik dari Allah atas perbuatan-perbuatan tersebut. Jangan sampai kita dikutuk dan dihukum oleh Allah karena perbuatan yang sebenarnya kita anggap baik. Mengenai peribadahan, sebaiknya kita mengingatkan diri kita untuk melaksanakan tugas-tugas yang diwajibkan dengan baik dan selalu ingat bahwa ibadah kita bukan semata-mata demi Allah. Jika Allah memberikan nikmat atau membawa kita ke surga, itu semata-mata karena limpahan belas kasih-Nya, bukan karena perbuatan kita yang sering kali dilandasi oleh keinginan jasmani dan ego. Jika kita merujuk sebuah hadis yang menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan kita harus diukur dengan adil bahkan orang-orang saleh pun harus waspada agar tidak merasa bangga dengan perbuatan mereka. Kita harus jujur terhadap diri sendiri bahwa sering kali kita berpura-pura beribadah demi Allah, padahal tujuan utama kita adalah memuaskan ego dan keinginan diri kita sendiri. Sahabatku, kita harus berhati-hati terhadap tipu daya diri dan iblis yang mungkin menghalangi ikhlasnya ibadah. Jangan sampai amal yang seharusnya bersih dari ria dan kesombongan malah menjadi bahan untuk melibatkan diri dalam kelompok para wali dan orang-orang saleh di mata Allah. Janganlah terbuai dalam rasa bangga yang tidak tepat. Kesimpulannya, perbuatan kita sebenarnya sering kali bertujuan untuk memuaskan keinginan dan mengikuti tarikan jasmani. Kita seakan menjadi penyembah diri sendiri, menghentikan satu kenikmatan demi kenikmatan yang lebih besar. Salat dan ibadah lainnya sering kali dilakukan demi keinginan jasmani, bukan untuk keridhaan Allah. Saudaraku, berhati-hatilah! Salat yang dilakukan demi tujuan duniawi atau untuk mendapatkan balasan di akhirat bukanlah salat yang tulus kepada Allah. Jangan sampai kita menganggap diri berhak mendapatkan hadiah dan merendahkan makhluk Allah. Kita harus merenungkan tujuan sejati dari peribadahan kita dan berusaha memurnikannya dari niat yang tidak tulus. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari tipu daya setan dan muslihat al-nafs al-ammārah. Lindungilah kami dari tipu muslihat mereka demi Rasulullah Saw dan Ahlulbait beliau. (*) Sumber: Disarikan dari buku 40 Hadis: Telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak—Imam Khomeini via Safinah Online

Baca Selengkapnya

Ciri Kehidupan yang Bernilai dan Abadi

BERITAALTERNATIF.COM – Allah Swt bertanya kepada Nabi Saw, “Wahai Ahmad! Apakah engkau tahu kehidupan yang paling menyenangkan dan bagaimanakah hidup yang paling abadi?” Nabi saw menjawab, “Ya Allah, aku tidak tahu.” Allah Swt berfirman, “Adapun kehidupan yang menyenangkan adalah ketika ia tidak melupakan-Ku dan tidak melupakan kenikmatan-Ku, tidak bodoh atas hak-Ku, sepanjang siang dan malam selalu mencari ridha-Ku. Adapun hidup yang abadi adalah ketika (pemilik kehidupan tersebut) beramal seolah dunia baginya adalah hina, dan dalam pandangannya dunia tidak memiliki nilai, sementara ia menganggap besar kehidupan akhirat. Dan ia akan mendahulukan keinginan-Ku dari keinginannya, memilih keridhaan-Ku, menganggap besar hak keagungan-Ku, tidak melupakannya bahwa Aku mengetahuinya, menjaganya siang dan malam; jangan sampai ia berbuat kesalahan dan maksiat. Hatinya bersih dari apa yang tidak Aku sukai, ia menjadikan setan dan bisikannya sebagai musuh dan tidak memberikan tempat di hatinya untuk setan bisa menguasai dirinya, serta tidak memberikan jalan kepadanya untuk masuk ke dalam pikirannya. Ia menjadikan setan dan bisikannya sebagai musuh dan tidak memberikan tempat di hatinya untuk setan bisa menguasai dirinya serta tidak memberikan jalan kepadanya untuk masuk dan menguasai hatinya.” Allah Swt bertanya kepada Nabi Muhammad Saw tentang kehidupan yang paling menyenangkan dan abadi. Ini adalah pertanyaan yang sangat dalam, karena mengungkapkan esensi dari keberadaan manusia di dunia ini. Nabi saw, dalam kerendahan hatinya sebagai hamba Allah, mengaku bahwa dia tidak tahu jawabannya. Ini bukan karena ketidaktahuannya sebagai Nabi, tetapi sebagai pelajaran bagi kita bahwa pengetahuan sejati adalah karunia dari Allah Swt. Allah kemudian menjelaskan bahwa kehidupan yang menyenangkan adalah ketika seseorang tidak hanya mengingat-Nya, tetapi juga tidak melupakan kenikmatan yang diberikan-Nya. Ini menunjukkan pentingnya kesadaran spiritual dalam setiap tindakan dan pikiran kita sehari-hari. Kita harus mengakui nikmat-nikmat Allah dalam hidup kita dan bersyukur atasnya. Selanjutnya, Allah menjelaskan bahwa kehidupan yang abadi adalah ketika seseorang mengutamakan keridhaan-Nya di atas segalanya. Ini berarti bahwa dunia ini tidak lagi menjadi pusat perhatian atau tujuan akhir bagi seseorang. Sebaliknya, seseorang melihat dunia ini sebagai sebuah fase sementara menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Kekayaan, popularitas, atau kesenangan duniawi tidak lagi menjadi prioritas utama, tetapi yang penting adalah mencari keridhaan Allah Swt. Filosofi di balik pertanyaan ini adalah bahwa kehidupan yang berarti haruslah memiliki dua elemen penting: kelezatan dan kebahagiaan, serta keabadian dan kelanggengan. Hidup yang tidak memiliki kelezatan dan kebahagiaan tidaklah bermakna, tetapi jika kelezatan tersebut hanya sesaat dan tidak bertahan lama, maka kehidupan itu akan kalah oleh penderitaan dan kehilangan yang menyertainya. Manusia secara fitrahnya selalu mencari kehidupan yang bahagia dan abadi. Selanjutnya, Allah Swt menjelaskan bahwa kehidupan yang menyenangkan adalah ketika seseorang tidak melupakan-Nya dan juga tidak melupakan kenikmatan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan Allah dan syukur atas nikmat-Nya adalah kunci untuk hidup yang bahagia. Bahkan jika seseorang memiliki kehidupan yang menyenangkan dan lupa pada Allah, itu tidak akan membawa kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati hanya ditemukan dalam kesadaran spiritual dan koneksi yang kuat dengan Sang Pencipta. Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa kita bergantung pada Allah untuk segala sesuatu. Hanya dengan mengakui ketergantungan ini dan menjalin hubungan yang erat dengan-Nya, kita dapat meraih ketenangan dan kesempurnaan dalam hidup. Oleh karena itu, manusia harus berusaha untuk terus mengingat Allah Swt dan mensyukuri nikmat-Nya agar hidup mereka menjadi lebih bermakna dan berarti. Selanjutnya, kita melihat contoh nyata dari hubungan yang kokoh dengan Allah Swt dalam kehidupan Imam Khomeini. Meskipun dihadapkan pada situasi yang sulit dan menyedihkan, beliau tetap tenang dan percaya pada Allah Swt. Bahkan dalam cobaan terbesar sekalipun, beliau tidak kehilangan ketenangan pikiran dan hati. Ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati hanya bisa ditemukan dalam hubungan yang erat dengan Allah Swt. Kehidupan yang bahagia dan tenang hanya dapat ditemukan ketika kita selalu mengingat Allah Swt dan bersyukur atas segala nikmat-Nya. Mengingat-Nya tidak hanya dalam bentuk zikir atau ibadah formal, tetapi juga dalam setiap tindakan dan pikiran kita sehari-hari. Ketika kita memiliki hubungan yang kokoh dengan Allah Swt, kita akan merasakan ketenangan yang mendalam bahkan di tengah cobaan terbesar sekalipun. Ciri-ciri kehidupan yang abadi dan kokoh dapat ditemukan dalam pengamalan spiritual dan pemahaman praktis akan hakikat kehidupan. Allah Swt menjelaskan bahwa kehidupan yang abadi adalah ketika seseorang menganggap dunia sebagai hal yang rendah dan menghargai kehidupan akhirat sebagai hal yang besar. Dalam perjalanan spiritual dan upaya mencapai kesempurnaan kemanusiaan, langkah pertama adalah membandingkan dunia dengan akhirat. Syariat Islam menetapkan tugas-tugas seperti salat, puasa, dan amalan-amalan sunnah sebagai taklif (tugas) untuk manusia agar mencapai kesempurnaan. Namun, manusia cenderung tertarik pada perbuatan yang memberikan hasil langsung di dunia, sehingga sulit untuk mengamalkan perbuatan yang tidak memberikan hasil segera. Meskipun dunia hanya sementara, manusia terus berusaha mendapatkan kenikmatan duniawi, meskipun itu hanya sebentar dan sering diiringi oleh kesulitan dan penderitaan. Bahkan, kesulitan dan kelelahan di dunia ini sering kali untuk meraih kenikmatan yang sementara. Allah Swt menegaskan bahwa dunia ini hanya sebentar, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi dan kekal. Perbandingan antara kenikmatan dunia dan akhirat menunjukkan bahwa kenikmatan dunia hanya sementara dan selalu diiringi oleh kesulitan, sementara kenikmatan akhirat adalah kekal dan tidak diiringi oleh kesulitan. Oleh karena itu, kita harus menimbang kembali prioritas kita dalam hidup, dan memilih kebahagiaan abadi di akhirat. Dengan membandingkan dua kenikmatan tersebut, kita akan lebih siap untuk menanggung semua kesulitan dalam menjalankan ibadah dan taklif. Selanjutnya, kita harus memahami bahwa manusia cenderung mencintai dirinya sendiri lebih dari apa pun. Kecintaan kepada orang lain juga bergantung pada kecintaan pada diri sendiri. Namun, kecintaan ini sering kali membuat manusia melupakan akhirat dan hanya fokus pada kenikmatan dunia. Untuk mencapai kesempurnaan, kita harus berusaha mengetahui manfaat dan kerugian hakiki bagi diri sendiri, dan mengutamakan kenikmatan akhirat di atas kenikmatan dunia. Selanjutnya, Allah Swt menjelaskan bahwa kehidupan yang abadi adalah ketika seseorang beramal untuk dirinya sendiri, dan menjadikan setan dan bisikannya sebagai musuh yang tidak diberikan tempat di hatinya. Ini menekankan pentingnya memerangi godaan setan dan menjaga kebersihan hati dari khayalan-khayalan setan. Dengan membandingkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat, serta menjadikan setan sebagai musuh, manusia dapat menempuh perjalanan spiritual menuju kesempurnaan. Mereka harus memperhatikan manfaat dan kerugian dari setiap tindakan, dan selalu berusaha menjalankan taklif dengan cara yang benar. Dengan kesadaran akan keagungan

Baca Selengkapnya

Mengenal Syiah

BERITAALTERNATIF.COM – Syiah sebagai mazhab tidak tampil utuh dan seragam. Dalam bidang kalam (teologi), ada yang disebut sebagai mazhab Holistik, dan Tasykik yang menggabungkan antara Mazhab Bayani, Burhani dan Irfani. Namun perlu dipertegas di sini bahwa Syiah adalah mazhab metode bukan mazhab isi sebagaimana Sunni. Untuk lebih mengenal Syiah berikut metode-metode mazhab dalam Syiah. Aqidah Aqidah secara etimologis berasal dari kata ‘aqada yang berarti mengikat. Dari kata ini pula terserap kata akad dan akte dalam bahasa Indonesia, yang berarti kesepakatan sah yang mengikat dua belah pihak. Secara terminologis, aqidah adalah sebuah premis valid yang telah terverifikasi dan terjustifikasi yang mengikat hati sehingga tidak mudah lepas. Aqidah Syiah Imamiyah dapat dibagi dalam tiga metode, yang masing-masing melahirkan bangunan keyakinan yang berbeda dalam argumentasi dan pola urutan. Karenanya, setiap penganut Syiah memiliki rancangan aqidah sendiri-sendiri sesuai dengan metode pendekatan yang digunakannya. Ada yang membangun aqidah dengan metode kalam dengan lima atau tiga ushuluddin. Ada yang membangun aqidah dengan metode filsafat wahdah al-wujûd atau katsrah al-wujûd, bahkan ada yang membangun aqidah dengan irfan. Kalam pada awalnya digunakan dalam diskursus kalam Allah pada masa Imam Ahmad bin Hanbal yang menjadi polemik kala itu. Kemudian berkembang menjadi subjek ilmu yang membicarakan seputar ketuhanan (teologi). Aqidah dengan pondasi kalam telah ditetapkan terdiri atas tiga prinsip umum, yaitu ketuhanan, kenabian dan kebangkitan, dan dua prinsip khusus, yaitu keimaman (imamah) dan keadilan Tuhan. Bahkan sebagian ulama mutakhir menambahkan beberapa tema dalam daftar prinsip lebih khusus, seperti wilayah al-faqih (Wilâyah Al-Faqîh Al-Muthlaqah). Filsafat Aqidah yang didasarkan pada filsafat (ontologi), terutama ontologi wahdah al-wujûd, tidak terikat pada pola susunan prinsip keyakinan sebagaimana dalam kalam. Aqidah falsafi lebih ringkas, meski tidak lebih mudah untuk dianut. Pembentukan aqidah dengan pondasi filsafat dimulai dengan mendefiniskan terma wujud, mengeksplorasi hukum-hukum wujud dan melakukan distingsi terhadap terma-terma yang berlawanan dengan wujud. Biasanya, para penganut aqidah falsafi, yang umumnya pelajar hawzah tingkat menengah atau kalangan akademis, memulai kajian dalam langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, membagi dua pengertian, ada dan tiada, lalu membedakan ada sebagai pengertian dan ada sebagai realitas itu sendiri (fî nafs al-amr), kemudian membagi ‘ada’ menjadi dua; yang beresensi dan yang tidak beresensi, lalu diakhiri dengan mengidentifikasi kriteria-kriteria masing-masing dan memastikan pilihan serta kesimpulan tentang adanya sesuatu yang tidak beresensi, tidak terapakan, tidak terdiri dari substansi (subjek) dan aksiden (predikat), tidak tunduk pada kaidah persepsi yang memposisikan setiap sesuatu sebagai kategori dan terma, baik partikular maupun universal. Kedua, menimbang-nimbang pendapat ashâlah al-wujûd dan ashâlah al-mâhiyah dengan mencari titik lemah semua pendapat yang pernah dikemukakan oleh kedua kelompok filosof. Ketiga, membandingkan pendapat tentang wujud sebagai realitas tunggal dan pendapat tentang wujud sebagai realitas plural. Keempat, mengurai sifat-sifat maujud, dari yang abstrak murni (al-mujarrad al-mahdh, al-maujûd al-asyraf), lalu yang semi abstrak atau interval (al-mitsâli, al-barzakhi, al-nafsâni) sampai yang konkret (al-jism, raga, body) dengan dua elemen dasarnya, materia (al-quwwah, hyle) dan forma (aktus, al-shurah). Inilah gambaran singkat tentang langkah-langkah umum dalam ontologi umum atau Al-Ilâhiyat bi Al-Ma’nâ Al-’Âm (teologi umum). Setelah menemukan maujud beresensi dan yang tidak beresensi, mulailah ia memasuki tema Ketuhanan (Al-Ilâhiyat bi Al-Ma’nâ Al-Akhash, teologi khusus) dan membanding-bandingkan semua pendapat dan aliran antara ketunggalan atau kebhinnekaan zat dan sifat, dan begitulah seterusnya. Irfan Irfan secara etimologi berasal dari kata ‘arafa yang berarti mengenal. Ia juga serumpun dengan kata ma’rifah yang bermakna pengetahuan umum. Namun secara terminologi, irfan lebih bermakna khusus sebagai ma’rifah qalbiyyah, yaitu pengetahuan emosional yang lebih populer dikenal dengan tasawuf. Aqidah dengan pondasi irfan adalah jenis aqidah eksklusif, privat, sulit dan penuh tantangan. Peminatnya amatlah sedikit, dan yang berhasil membentuk aqidah dengan irfan lebih sedikit lagi. Sebelum membentuk aqidah dengan irfan, para peminat mesti mempelajari pokok-pokok irfan nazhari (irfan konseptual) dan pokok-pokok irfan amali. Tidak semua yang memahami irfan nazhari berhasil menjalani irfan amali (irfan aktual). Thabathabai dan Imam Khomeini adalah dua contoh manusia yang telah berhasil membentuk aqidah dengan kalam, filsafat, irfan nazhari dan menduduki strata tertinggi dalam irfan amali. Mazhab Irfan dan Kalam pada abad ketujuh juga mencapai masa keemasan. Pada zaman inilah keempat aliran pemikiran tersebut terintegrasi ke dalam aqidah. Syariah Konsekuensi logis dari keyakinan akan universalitas agama, yaitu semua aspek kehidupan tercakup atau diatur dalam agama. Secara umum, agama meliputi dua aspek: esoterik (batiniah) dan eksoterik, disebut juga thariqah atau akhlak dan syariat (lahiriah). Syariah berasal dari kata syara’a yang berarti memulai dan menetapkan. Syir’ah yang serumpun dengannya bermakna aliran air, tempat minum para kafilah (Lisân Al-’Arab, h. 2238-9). Sedangkan secara terminologi, syariah adalah ketetapan dalam agama yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya. Dalam bidang syariah, Syiah juga terbagi dalam dua kutub mazhab tersebut, Ushuli dan Akhbari. Ushuli meyakini setiap mukallaf mesti berijtihad, atau berihtiyath, atau bertaqlid dalam melaksanakan syariat. Menurut kelompok Akhbari, setiap orang mesti mengetahui sumber-sumber hukum dan menyimpulkan hukum. Akhbari diwakili oleh Al-Istar Abadi, Yusuf Al-Bahrani, dan Al-Haqani. Dalam Syiah (ushuli), seorang marja’ adalah seorang konsultan bukan pemimpin. Seseorang berhak mengonsultasikan dirinya kepada marja’ namun tidak mesti mengikutinya. Seorang marja’ mesti memiliki asas kompetensi. Untuk dapat lebih mengenal Syiah silahkan baca buku Syiah Menurut Syiah yang ditulis oleh Tim Penulis Ahlulbait Indonesia. (*) Sumber: Ahlulbait Indonesia

Baca Selengkapnya