Search
Search
Search
Close this search box.

Perbedaan Kemampuan dan Akhlak

Ilustrasi. (Bukareview)
Listen to this article

Oleh: Ibrahim Amini*

Singkatnya, dari sisi penciptaan manusia terbagi kepada tiga kelompok: baik, buruk dan sedang. Kelompok pertama, mereka telah diciptakan sedemikian rupa sehingga wataknya cenderung kepada kebaikan, sehingga jika tidak ada faktor dari luar yang memalingkannya maka tentu ia condong kepada kebaikan.

Kelompok kedua, mereka telah diciptakan sedemikian rupa sehingga wataknya suka kepada keburukan, sehingga jika tidak ada faktor dari luar yang memberikan pengaruh kepadanya maka tentu ia condong kepada keburukan. Adapun kelompok ketiga berada di tengah-tengah, mereka mempunyai kesiapan yang sama untuk menerima baik dan buruk.

Mendidik dan mengubah akhlak dan perangai kelompok pertama dan kedua sedikit susah dan pada beberapa keadaan sangat susah, namun masih tetap bisa dilakukan. Jika mengubah dan memperbaiki akhlak itu tidak mungkin dilakukan tentunya para nabi tidak akan memerintahkannya, dan para ulama akhlak serta para pendidik tentu tidak akan berusaha memperbaikinya.

Seorang ilmuwan menulis, “Masing-masing dari kita terlahir ke dunia ini ada yang baik, sedang dan buruk, namun sebagaimana kecerdasan, akhlak dan perangai pun dapat tumbuh dan berkembang melalui pengajaran, disiplin dan kemauan, dan ia dapat dididik.”

Ibnu Miskawaih menulis, “Akhlak adalah kondisi kejiwaan saat seorang manusia tergerak melakukan sesuatu dengan tanpa berpikir terlebih dahulu, dan ini terbagi kepada dua bagian: sebagian berupa tabiat dan bersandar kepada bentuk bangunan watak, seperti seseorang yang dengan mudah tersulut amarahnya hanya karena perkara kecil yang tidak mengenakannya, atau seseorang yang dengan mudah tertawa terbahak-bahak hanya karena perkara yang tidak begitu lucu, atau seseorang yang begitu sedih hanya karena peristiwa kecil. Sebagian lagi bersumber dari kebiasaan. Bisa saja pada mulanya dilakukan dengan pikiran dan perhitungan namun karena dilakukan secara berulang-ulang maka secara perlahan-lahan ia berubah menjadi sifat diri yang tetap, yang dilakukan dengan tanpa berpikir dulu.”

Aristoteles mengatakan, “Manusia yang berakhlak buruk terkadang dengan pengajaran menjadi baik, namun ini bukan sesuatu yang mutlak, karena pengulangan nasihat dan pengajaran dan digunakannya cara-cara yang baik pada individu yang berbeda-beda memberikan pengaruh yang berbeda-beda. Sebagian orang dengan cepat dapat menerima pengajaran yang baik dan bergerak ke arah keutamaan, namun sebagian lainnya dengan lambat menerimanya dan dengan lambat pula bergerak ke arah kebaikan.”

Khajah Nashiruddin Thusi menulis, “Jiwa itu ada dua: yang pertama tabiat, yang kedua adat. Adapun yang disebut dengan tabiat adalah watak dasar seseorang menuntut dan cenderung kepada satu keadaan dari banyak keadaan. Sebagai contoh, seseorang yang hanya karena sebab kecil cepat menjadi marah, atau seseorang yang hanya karena mendengar teriakan kecil atau mendapat berita yang sedikit tidak menyenangkan diliputi rasa takut dan prasangka buruk, atau seseorang yang hanya karena gerakan kecil yang lucu akan tertawa terbahak-bahak, atau seseorang yang hanya karena sebab kecil sedemikian bersedih. Adapun yang disebut dengan adat, pada awalnya seseorang melakukannya dengan berpikir dan menimbang terlebih dahulu dan memulainya dengan berat, namun karena dilakukan secara berulang-ulang lantas perbuatan tersebut menjadi tidak asing lagi baginya, dan sesudah tidak asing lagi maka dengan mudah perbuatan tersebut keluar dari dirinya sehingga menjadi perangainya.”

Sayid Muhammad Ghiyatsi menulis, “Setiap manusia berakal dapat memperbaiki dirinya dan menyucikan akhlaknya. Jadi, yang disebut dengan akhlak atau perangai adalah kebiasaan yang dengan mudah dan tanpa berpikir terlebih dahulu akan keluar dari diri seseorang. Sebagian kalangan menyangka akhlak atau perangai seperti penciptaan yang tidak dapat diubah. Mereka mengatakan, akhlak mengikuti watak diri, sehingga seseorang yang berwatak panas adalah pemberani dan kebalikannya adalah penakut, demikian juga dengan akhlak-akhlak lainnya. Namun, pendapat ini lemah, adapun pendapat yang benar ialah akhlak dapat diubah dan dapat bertambah dan berkurang, maka dengan begitu keseimbangan dan penyimpangan akhlak terjadi karena pengaruh berulang-ulangnya suatu perbuatan, perkataan, gerak, diam dan khayalan. Karena jika tidak demikian maka tentu para nabi, para wali, para orang bijak tidak akan bersungguh-sungguh menyeru manusia ke jalan Tuhan dan tidak mengajak mereka kepada akhlak yang mulia, padahal Rasulullah Saw telah bersabda, ‘Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.’”

Almarhum Naraqi mengatakan, “Para ulama dahulu berbeda pendapat mengenai bisa atau tidak bisanya menghilangkan suatu akhlak atau perangai. Adapun pendapat ketiga mengatakan, sebagian akhlak itu berupa tabiat dan tidak dapat dihilangkan dan sebagiannya lagi bukan berupa tabiat dan timbul karena faktor-faktor dari luar dan dapat dihilangkan. Namun, para ulama kontemporer lebih memilih pendapat yang pertama, mereka mengatakan, tidak ada satu pun akhlak, baik yang sesuai dengan tabiat maupun yang tidak sesuai yang tidak dapat diubah, jika ia sejalan dengan watak maka dengan sulit dapat mengubahnya namun jika tidak sejalan maka dengan mudah dapat mengubahnya. Dengan demikian, perbedaan manusia dalam akhlak dan perangai adalah akibat pilihan mereka dan faktor-faktor dari luar. Adapun yang menjadi dalil pendapat pertama ialah, setiap akhlak dapat diubah dan setiap yang dapat diubah tidak akan menjadi tabiat. Kesimpulannya, tidak ada satu pun akhlak yang akan menjadi tabiat.”

Pandangan Islam

Islam juga memandang tabiat dan penciptaan khusus manusia berpengaruh kepada kemunculan berbagai macam akhlak, dan memandang akhlak sebagai sebuah karunia Ilahi yang diletakkan pada fitrah manusia, yang tentunya manusia condong kepadanya.

Imam Ja`far Shadiq as berkata, “Sesungguhnya akhlak adalah pemberian Ilahi yang Allah berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sebagian dari akhlak itu bersifat fitri dan tabiat dan sebagian lagi muncul karena niat.” Perawi bertanya, “Mana yang lebih utama?” Imam Ja’far as menjawab, “Seseorang yang akhlaknya telah diletakkan pada tabiatnya ia harus melakukannya dan tidak dapat mengubahnya, sedangkan orang yang melakukan suatu perbuatan dengan niat, ia harus berusaha dan sabar untuk melakukannya, dengan demikian yang kedua lebih utama.”

Rasulullah Saw juga bersabda, “Jika engkau mendengar ada gunung yang hilang dari tempatnya maka percayailah, namun jika engkau mendengar ada seorang laki-laki yang telah melepaskan diri dari tabiatnya maka jangan engkau percaya, karena mungkin saja sebenarnya ia tengah kembali kepada tabiatnya.”

Mungkin, makna ini juga yang dimaksud dengan kata thinah (watak, pembawaan) yang terdapat dalam hadis-hadis.

Dari hadis-hadis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian akhlak telah diletakkan pada tabiat dan penciptaan manusia, sehingga upaya mengubahnya sangat sulit dan bahkan menurut kebiasaan tidak dapat dilakukan.

Namun, Islam memandang upaya mendidik dan mengajar manusia dan mengubah serta memperbaiki sifat-sifatnya dan juga menyucikan jiwanya adalah sesuatu yang mungkin, oleh karena Rasulullah Saw menempatkan upaya penyucian jiwa sebagai program utamanya.

Allah Swt berfirman di dalam Alquran, “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)

Rasulullah Saw juga bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Dengan demikian, upaya menyucikan dan memperbaiki jiwa adalah sesuatu yang mungkin. Allah Swt juga berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 7-10)

Banyak sekali ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi Saw yang memerintahkan manusia kepada akhlak yang mulia dan memperingatkan mereka dari akhlak-akhlak yang tercela. Dari semua ini dapat ditarik kesimpulan bahwa upaya penyucian jiwa dan memperbaiki akhlak adalah sesuatu yang mungkin dilakukan, karena jika tidak maka semua usaha dan anjuran ini menjadi sia-sia. (*Tokoh Pendidikan Islam)

Sumber: Buku Ayatullah Ibrahim Amini berjudul Agar Tidak Salah dalam Mendidik Anak

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA