Search
Search

Tanggung Jawab Manusia terhadap Tuhan, Diri, dan Masyarakat

Ilustrasi. (BBC)
Listen to this article

Oleh: Ibrahim Amini*

Di antara makhluk yang ada, manusia mempunyai sebuah kelebihan khusus, yaitu kelayakan menerima kewajiban, sedangkan makhluk lain tidak memiliki kelayakan ini.

Benda mati dan tumbuhan tidak mempunyai ilmu, pemahaman dan kehendak, dan mereka tidak memiliki kelayakan untuk menerima kewajiban dan tidak mempunyai tanggung jawab terhadap perbuatannya. Hewan pun demikian, meskipun ia mempunyai kehendak dan perasaan berkaitan dengan perbuatannya, namun karena ia tidak mempunyai akal maka ia tidak mampu berpikir akan akibat perbuatannya, sehingga ia mampu mengontrol instingnya.

Oleh karena itu, hewan tidak mempunyai kemampuan untuk menerima kewajiban. Hewan tunduk sepenuhnya kepada kekuatan syahwat dan kekuatan marah, dan tidak bisa hidup di atas dasar hukum dan undang-undang.

Begitu juga dengan malaikat. Mereka tidak mempunyai kelayakan untuk menerima kewajiban, perintah dan larangan. Mereka adalah makhluk metafisik, bahkan akal semata, tidak mempunyai kekuatan syahwat dan marah, dan tidak mempunyai gerak menuju kesempurnaan dan gerak menuju kehinaan.

Kewajiban mereka sudah jelas, dan mereka hanya berjalan di atas jalan itu, dan tidak mungkin melakukan pembangkangan. Oleh karena itu, mereka tidak butuh kepada petunjuk, penetapan hukum dan kewajiban.

Allah Swt telah berfirman tentang mereka, “Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6)

Allah Swt juga berfirman, “Tidak ada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah). Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).” (QS. ash-Shaffat: 164-166)

Adapun manusia mempunyai penciptaan khusus. Maksudnya, satu sisi manusia adalah maujud materi yang mempunyai ruh tumbuhan dan hewan. Pada tingkatan ini, manusia merupakan sebuah jisim nâmi dan mempunyai sifat-sifat makan, berkembang dan berketurunan, dan juga merupakan seekor hewan yang memiliki sifat-sifat dan insting-insting hewan, seperti merasa, memahami, mempunyai kehendak, bergerak berdasarkan kehendak, insting syahwat dan insting marah.

Dari sisi lain, manusia mempunyai ruh mujarrad dan akal yang dengannya ia dapat berpikir tentang akibat-akibat perbuatannya, dan dari sini dia dapat mengontrol dan mengendalikan keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan nafsunya.

Sisi lainnya lagi, manusia adalah makhluk bebas yang dapat menemukan jalan kebahagiaan dan kesempurnaannya, yang kemudian dengan ilmu dan kehendaknya dia memilih dan mengikuti jalan tersebut.

Abdullah bin Sinan telah berkata, “Saya telah bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as, ‘Mana yang lebih utama, malaikat atau anak Adam?’ Imam menjawab, ‘Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as telah berkata, ‘Sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan para malaikat dari akal tanpa syahwat, dan telah menciptakan hewan dari syahwat tanpa akal. Namun Allah Swt telah menggabungkan akal dan syahwat pada penciptaan manusia, maka siapa saja di antara manusia yang akalnya dapat menundukkan syahwatnya maka dia lebih baik dari malaikat, namun siapa saja yang syahwatnya dapat mengalahkan akalnya maka ia lebih buruk dari hewan.’”

Karena penciptaan khusus ini manusia dapat mengemban kewajiban perintah dan larangan, dan menerima amanah dan tanggung jawab Ilahi.

Allah Swt berfirman dalam Alquran, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72)

Sebagian mufasir menafsirkan amanah yang disebutkan dalam ayat ini sebagai kewajiban. Maksudnya, Allah telah menawarkan kewajiban kepada langit dan bumi, namun karena mereka tidak memiliki kelayakan dan kemampuan untuk menerimanya, mereka enggan menolaknya. Penciptaan mereka sedemikian sehingga mereka tidak dapat hidup di bawah ruang-lingkup ketetapan hukum, perintah dan larangan, karena mereka tidak memiliki ilmu dan kehendak. Mereka tunduk pada kehendak Ilahi dan tidak mungkin melakukan pembangkangan. Namun manusia disebabkan penciptaan khususnya dia dapat menerima kewajiban dan telah menerimanya.

Manusia memiliki kelayakan dan kemampuan menerima kewajiban perintah dan larangan, untuk itu dia perlu memperoleh program hidup dan gerak kesempurnaannya dari Allah Swt. Karena itu, kasih sayang (lutf) Ilahi yang merupakan perantara kesempurnaan setiap maujud diletakkan pada diri manusia, yaitu dengan mengutus para nabi yang akan menjelaskan program kesempurnaan dan kebahagiaannya.

Allah Swt berfirman dalam Alquran, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. al-Insan: 2-3)

Masalah manusia memiliki tanggung jawab dan dibebani kewajiban (taklîf) adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi, dan para nabi diutus untuk meletakkan tanggung jawab besar ini ke atas pundak manusia dan membantu mereka dalam melaksanakannya.

Muhammad bin `Ammarah meriwayatkan, “Saya bertanya kepada Imam Ja`far Shadiq as, ‘Kenapa Allah Swt menciptakan hamba-Nya?’ Imam as menjawab, ‘Sesungguhnya Allah Swt tidak menciptakan hamba-Nya dengan sia-sia, dan tidak membiarkannya tanpa guna, melainkan Dia menciptakan mereka untuk menampakkan kekuasaan-Nya, dan untuk membebani mereka dengan kewajiban ketaatan kepada-Nya, supaya dengan itu mereka layak mendapat keridhaan-Nya. Allah Swt tidak menciptakan hamba-Nya dengan tujuan untuk mendapat manfaat dari mereka atau untuk menolak bahaya dengan perantaraan mereka, melainkan Dia menciptakan mereka dengan tujuan supaya mereka mendapat manfaat dan menyampaikan mereka kepada kenikmatan abadi.’”

Allah Swt berfirman di dalam Alquran, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mukminun: 115)

Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban. Setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap yang lain, terutama terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Maka, seorang penguasa akan ditanya tentang rakyatnya, seorang laki-laki penanggung jawab atas keluarganya dan akan ditanya perihal mereka, seorang istri penanggung jawab rumah dan anak suaminya dan akan ditanya tentang perihal mereka, dan begitu juga seorang hamba penanggung jawab harta tuannya dan akan ditanya tentang perihalnya. Ingatlah, sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang perihal yang dipimpinnya.”

Banyak sekali kewajiban yang dibebankan pada pundak manusia, namun dapat dikelompokkan kepada empat kelompok: Tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, tanggung jawab manusia terhadap dirinya, tanggung jawab manusia terhadap masyarakat, dan tanggung jawab terhadap Makhluk Tuhan.

Tanggung Jawab Manusia terhadap Tuhan

Menurut akal dan agama, manusia wajib mengenal dan mengetahui Pencipta alam, yang merupakan pemilik dan pemberi kenikmatan kepada seluruh makhluk, dan tunduk serta beribadah kepada-Nya. Manusia wajib tunduk dan menerima perintah-perintah-Nya yang diturunkan dengan perantaraan para nabi, dan mengamalkannya dalam kehidupannya.

Allah Swt berfirman di dalam Alquran, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Allah Swt juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusak (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Pada ayat lain Allah Swt berfirman, “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21)

Imam Sajjad as berkata, “Adapun hak terbesar Allah atas kamu adalah kamu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Jika kamu telah melakukan itu dengan ikhlas, maka Allah Swt pun akan mencukupkan urusan dunia dan akhiratmu, dan akan menjaga untukmu apa yang kamu senangi.”

Tanggung Jawab Manusia terhadap Dirinya

Bagi setiap makhluk telah ditentukan kesempurnaan yang menjadi tujuannya. Dalam sistem penciptaan (nizhâm takwîn), seluruh fasilitas dan syarat yang diperlukan makhluk untuk mencapai tujuannya telah disediakan untuknya.

Seluruh makhluk materi tentunya bergerak ke arah tujuannya, namun mereka tidak mempunyai ilmu tentang tujuan mereka dan bukan mereka yang memilih jalan mereka, melainkan Pencipta alam semesta yang telah mengatur sistem penciptaan, dan setiap makhluk secara penciptaan (takwîni) berjalan menuju ke arah tujuan dan kesempurnaannya, dan tidak ada pilihan lain selain ini.

Oleh karena itu, beberapa jenis makhluk dengan perantaraan petunjuk takwîni ­mereka sampai kepada tujuan dan kesempurnaan wujudnya, namun mereka tidak mempunyai tanggung jawab dan kebebasan dalam hal ini. Bahkan, binatang yang memiliki perasaan dan melakukan perbuatannya dengan kehendak juga tidak bebas dalam perbuatannya, melainkan tunduk kepada instingnya.

Dari semua makhluk, hanya manusia yang mempunyai tanggung jawab mengembangkan dan menyempurnakan dirinya. Bagi manusia pun telah ditetapkan apa yang menjadi tujuannya, dan telah disediakan baginya fasilitas untuk menggapai tujuan tersebut.

Allah Swt, Zat Yang tidak membiarkan seluruh makhluk dengan tanpa petunjuk kepada tujuannya, juga tidak mengabaikan manusia dalam hal ini, namun petunjuk yang diberikan kepada manusia adalah petunjuk yang berupa hukum (tasyri`i) bukan petunjuk penciptaan (takwîni).

Untuk kebahagiaan dan kesempurnaan manusia, Allah Swt telah memberikan program dan undang-undang kepada mereka dengan perantaraan para nabi. Para nabi datang untuk menjelaskan jalan lurus kesempurnaan manusia, dan membantu mereka dalam meniti jalan ini, namun mereka bebas dalam memilih jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Dan manusia memikul tanggung jawab pengembangan dan penyempurnaan dirinya, dan itu hanya bisa dilakukan dengan jalan usaha dan kesungguhan.

Allah Swt berfirman di dalam Alquran, “Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. an-Najm: 39)

Allah Swt juga berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

Pada ayat lain Allah Swt berfirman, “Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (QS. al-Baqarah: 281)

Allah Swt juga berfirman di dalam Alquran, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. at-Tahrim: 6)

Imam Sajjad as berkata, “Adapun hak dirimu atas kamu adalah engkau menggunakannya dalam taat kepada Allah, engkau memberikan apa yang menjadi hak lidahmu, engkau memberikan apa yang menjadi hak telingamu, engkau memberikan apa yang menjadi hak matamu, dan engkau memberikan apa yang menjadi hak kakimu, apa yang menjadi hak perutmu, apa yang menjadi kemaluanmu, dan engkau memohon pertolongan kepada Allah dalam menunaikan semua ini.”

Alhasil, seluruh benda mati, tumbuhan dan binatang telah dibentuk dan memperoleh perkembangannya berdasarkan syarat-syarat penciptaan, dan dalam hal ini mereka sama sekali tidak memiliki peran dan kebebasan. Namun, berkenaan dengan manusia, dia sendirilah yang menjadi pembangun dirinya, dan dia memiliki kesadaran dan kebebasan dalam hal ini.

Dengan kekuatan akal yang dimilikinya manusia menemukan jalannya dan memilihnya sesuai dengan kehendaknya. Dari sisi sifat dan karakter, manusia adalah maujud potensial (bil quwwah). Pada saat dia dilahirkan manusia sama sekali kosong dari segala macam sifat namun dia makhluk yang mempunyai kemampuan menerima berbagai macam sifat.

Secara perlahan manusia menerima berbagai macam sifat, yang kemudian menjadi sesuatu yang menempel pada dirinya dan memberinya bentuk. Dengan demikian, manusia adalah pembangun dirinya, dan tanggung jawab besar ini telah dibebankan ke atas pundaknya. Masing-masing dari anggota tubuh manusia mempunyai hak yang harus dipenuhi olehnya.

Tanggung Jawab Manusia terhadap Masyarakat

Manusia adalah makhluk sosial. Manusia mempunyai kecenderungan kepada masyarakat dan kehidupan sosial. Kehidupan sosial manusia memiliki sebuah bentuk hubungan khusus, dia tidak akan dapat memenuhi segala kebutuhannya dengan tanpa kerja sama dan keikutsertaan yang lain.

Berbagai aktivitas manusia memiliki esensi sosial, dan oleh karena itu, mau tidak mau, mereka harus membagi pekerjaan di antara mereka. Sehingga dengan begitu mereka dapat memberikan manfaat kepada yang lain dan sekaligus mengambil manfaat dari mereka. Oleh karena itu, manusia harus terikat dengan peraturan sosial, karena perbuatan menyalahi peraturan sosial akan menghancurkan sistem dan merampas ketenangan anggota masyarakat lain.

Tidak diragukan bahwa kebaikan dan kerusakan masyarakat, begitu juga kemajuan dan kemunduran masyarakat berpengaruh besar terhadap kebaikan dan keburukan, dan juga kemajuan dan kemunduran individu. Karena individu-individu hidup secara berkelompok, menerima pendidikan dan mengambil contoh dari yang lain. Oleh karena itu, setiap individu harus mempertimbangkan keinginan dan kecenderungan yang lain.

Oleh karena itu, seorang manusia harus menganggap dirinya itu (bagian) dari masyarakat dan masyarakat itu dari (bagian) dirinya, dan bahwa kebahagiaan masyarakat adalah kebahagiaan dirinya dan begitu juga kemunduran masyarakat adalah kemunduran dirinya. (*Tokoh Pendidikan Islam)

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA