Search
Search
Search
Close this search box.

Bung Hatta: Bapak Koperasi Indonesia

Wakil presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta. (Istimewa)
Listen to this article

BERITAALTERNATIF.COM – Lahir dengan nama lengkap Mohammad Athar pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat, Mohammad Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia serta wakil presiden pertama RI.

Sumbangan pemikirannya mengenai pentingnya koperasi, baik secara konsep ekonomi maupun untuk membangun golongan berekonomi lemah, merupakan jasa yang cukup besar untuk Indonesia. Pemikirannya inilah yang kemudian dirumuskan dalam Pasal 33 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”

Meninggal di usianya yang ke-77 tahun pada 14 Maret 1980, jenazah tokoh nasional yang lebih akrab dipanggil Bung Hatta itu dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Kemudian barulah pada 19 Oktober 1986, Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres Nomor 081/TK/1986 yang menetapkan Bung Hatta sebagai Pahlawan Nasional.

Latar Belakang Keluarga

Ayah dari Bung Hatta merupakan keturunan ulama Tariqat Naqsyabandiyah di Payakumbuh bernama Muhammad Jamil yang meninggal saat Bung Hatta menginjak usia 8 bulan. Datuk (kakek) dari Mohammad Hatta, Syaikh Abdurrahman, adalah seorang ulama besar di surau Batuhampar sekitar 9 kilometer dari Payakumbuh.

Terpaut dua tahun darinya, Bung Hatta memiliki seorang kakak perempuan bernama Rafi’ah. Ibunya, Siti Saleha, berasal dari kalangan pedagang kaya di Bukittinggi. Setelah ayah dari Bung Hatta meninggal, Siti Saleha menikah lagi dengan Mas Agus Haji Ning, saudagar dari Palembang.

Jejak Perjuangan

Saat menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Dagang (Handels Hageschool), Rotterdam, Belanda, Bung Hatta bergabung dengan komunitas pelajar Indonesia yang diberi nama Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging).

Dari komunitas ini, forum-forum dibuka. Orasi mengenai sikap perjuangan dan pengingat terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia selalu Bung Hatta sampaikan dalam berbagai kesempatan. Tujuan kedatangan mereka ke Eropa untuk memenuhi tanggung jawab, sebuah tugas untuk membebaskan rakyat Indonesia.

Pada 1926, Bung Hatta dipercaya untuk memimpin Perhimpunan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut mengarah pada perkembangan pergerakan politik di Indonesia. Meskipun hal ini menghambat perkuliahannya, Bung Hatta setia membawa perubahan terhadap himpunan yang dipimpinnya.

Pada 1926, Bung Hatta mendapatkan kunjungan dari Semaun, salah satu pimpinan PKI. Dalam kunjungan tersebut Semaun menawarkan pada Bung Hatta agar Perhimpunan Indonesia dapat memimpin pergerakan Indonesia yang kemudian menghasilkan perjanjian yang disebut “Konferensi Semaun-Hatta”. Perjanjian inilah yang kemudian membawa Bung Hatta pada penahanan pada 25 September 1927 oleh Belanda karena dianggap telah melakukan kegiatan agitasi di negeri Belanda bersama rekan-rekannya.

Namun, dalam sidang 22 Maret 1928, melalui pidatonya yang berjudul Indonesia Merdeka, Bung Hatta menolak tuduhan-tuduhan Belanda. Melalui pembelaan dari pengacara piawai, Bung Hatta bersama rekannya berhasil dibebaskan.

Meski begitu, melalui berbagai kejadian, Bung Hatta kembali ditangkap oleh Belanda pada 25 Februari 1934. Menjalani hidup dalam pengasingan, Bung Hatta masih terus melanjutkan perjuangannya melalui tulisan-tulisannya yang cukup kontroversial.

Pada 9 Juli 1945, Soekarno tiba di Jakarta setelah dibebaskan dari pengasingannya di Bengkulu. Saat itu, bersama dengan keluarganya Soekarno menginap di rumah Bung Hatta. Dari sana, kedekatan mereka dimulai yang kemudian menjadi awal kemitraan yang menjelma menjadi dwi tunggal dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Melalui banyak perjuangan, proklamasi kemerdekaan Indonesia akhirnya diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Selanjutnya, memilih Soekarno sebagai presiden pertama dan mencatat Bung Hatta sebagai wakil presiden Indonesia. (*)

Sumber: Disarikan Hanna dari buku berjudul Para Penjaga Terakhir Bung Karno.

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA