Search
Search
Search
Close this search box.

Idulghadir dan Penunjukan Imam Ali as

Ilustrasi. (Istimewa)
Listen to this article

BERITAALTERNATIF.COM – Pada tanggal 18 Dzulhijjah Muslim Syiah selalu merayakan hari raya Idulghadir. Ini hari di mana Imam Ali as ditunjuk sebagai penerus Nabi Saw.

Banyak riwayat dinukil baik dari Nabi Saw atau para Imam as terkait dengan keutamaan hari ini. Begitu pula dianjurkan melakukan amalan berupa puasa, membaca doa ziarah Ghadiriyah, shalat Ghadir dan memberi makan kepada orang-orang mukmin.

Nabi Muhammad Saw pada bulan Zulkaidah tahun ke-10 H pergi bersama dengan ribuan orang untuk melaksanakan manasik haji, bergerak dari Madinah menuju Mekah.

Mengingat bahwa haji itu merupakan haji terakhir bagi Nabi Saw, maka haji itu dikenal dengan Haji Wada’.

Ketika amalan haji selesai, Nabi Muhammad Saw bersama dengan kaum Muslimin meninggalkan Makkah menuju Madinah. Pada tanggal 18 Zulhijah rombongan Nabi Saw, tiba di sebuah tempat bernama Ghadir Khum.

Malaikat Jibril turun kepada Nabi Saw sebagai utusan Allah swt, di mana Rasulullah Saw diperintah untuk memperkenalkan Imam Ali as kepada masyarakat sebagai pengganti sepeninggalnya. Rasulullah Saw pun mengumpulkan para jamaah haji dan memperkenalkan Imam Ali sebagai pengganti atau penerus sepeninggalnya.

Terkait keutamaan Idulghadir telah dinukil hadis-hadis dari para Ma’sumin, di antaranya:

Rasulullah Saw bersabda:

“Hari raya Ghadir adalah hari terbaik umatku dan hari itu adalah hari ketika Allah swt memerintahkan bahwa pada hari itu, saudaraku, Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai pemegang panji umatku, sehingga setelahku, masyarakat akan terhidayahi dengan perantaranya dan hari itu adalah hari ketika disempurnakan nikmatnya dan agama Islam sebagai agama yang diridhai bagi mereka.”

Imam Ja’far al-Shadiq as:

Hari Ghadir Khum adalah hari raya besar bagi Allah Swt, Allah Swt tidak mengutus Nabi-Nya kecuali pada hari ini dijadikan hari raya, kebesarannya telah diakui dan diketahui, nama hari itu di langit adalah hari perjanjian, dan namanya di bumi adalah hari perjanjian dan kehadiran bagi semuanya.

Dalam riwayat yang lain,Imam al-Shadiq as bersabda Idulghadir adalah hari raya terbesar kaum Muslimin. Alangkah baiknya jika pada hari itu manusia senantiasa memanjatkan rasa syukur kepada-Nya dan orang-orang melakukan puasa atas rasa syukur itu di mana puasa pada hari itu senilai dengan 60 tahun ibadah.

Imam Ali ar-Ridha as bersabda:

Hari Ghadir adalah hari itu lebih masyhur di antara penduduk langit dari pada ahli bumi. Apabila manusia mengetahui nilai hari ini, tak diragukan lagi para malaikat akan bersalam-salaman setiap hari dengan mereka sebanyak 10 kali.

Nashibi Syafi’i, salah seorang ulama ahlusunah dalam kitab Mathalib al-Saul menjelaskan akan hari raya 18 Dzulhijjah. Menurutnya, hari raya ini merupakan moment tempat berkumpulnya masyarakat. Sebab, saat Rasulullah Saw telah menentukan Ali as dengan maqam yang agung ini, tidak ada satupun dari masyarakat yang setara dengannya.

Menurut penuturan Inbu Kalqan dalam Wafiyat al-A’yan berbaiat kepada Musta’ali bin Mustanshir yang merupakan salah seorang hakim Mesir pada 18 Dzulhijjah 487 H di mana bertepatan dengan Idulghadir.

Kaum Muslimin, khususnya muslim Syiah semenjak hari pertamanya, menilai hari raya Idulghadir sebagai hari raya terbesar dan hari ini diantara mereka dikenal dengan nama Idulghadir.

Al-Mas’udi (w. 346 H) dalam kitabnya berkata bahwa anak-anak dan para pengikut Amirul Mukminin as menilai bahwa hari ini merupakan hari yang besar. Kulaini (w. 328 H) dalam sebuah riwayat menukilkan tentang perayaan yang diadakan oleh para pengikut Syiah. Oleh itu, jelaslah bahwa perayaan Idulghadir telah diadakan semenjak kurun ke-3 dan ke-4.

Sebelum masa ulama yang telah disebutkan di atas, Fayyadh bin Muhammad bin ‘Umar al-Thusi (w. 203 H) juga menukilkan sebuah riwayat yang berasal dari Imam Ridha As mengenai perayaan yang diadakan pada hari raya Idulghadir. Dengan memperhatikan bahwa Imam Ridha As hidup pada akhir abad ke-2 maka diketahui sejarah perayaan hari raya Idulghadir.

Peringatan ini juga terselenggara pada kurun-kurun berikutnya sedemikian sehingga mereka berbaiat kepada Musta’li bin Mustanshar (seorang penguasa dan hakim Mesir) pada hari Idulghadir pada tahun 487 H. Di Mesir, kekhilafahan Fatimiyah menyelenggarakan perayaan Idulghadir secara resmi. Di Iran, semenjak tahun 907 H yaitu semenjak Syah Ismail Shafawi memimpin tampuk kekuasaan, hingga saat ini merayakan Idulghadir secara resmi.

Pada abad-abad terakhir, perayaan Idulghadir termasuk sya’air (tanda-tanda) Syiah. Di Najaf, setiap tahunnya diadakannya perayaan Idulghadir dengan meriah di Haram Imam Ali as yang dihadiri oleh tokoh-tokoh, ulama Syiah dan para duta-duta besar negara-negara Islam dengan diisi oleh ceramah-ceramah mengenai peristiwa al-Ghadir. Di Yaman, Syiah Zaidi merayakan Idul Ghadir dengan pesta yang dihiasi oleh lampu-lampu terang dan nyala. (*)

Sumber: wikishia

Kunjungi Berita Alternatif Di :

Bagikan

BERITA TERKAIT

PALESTINA
POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA